Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat sektor fashion muslim sebagai mesin ekonomi baru melalui penyelenggaraan Dekranasda Modest & Iftar Festival (D’Modifest) 2026 di The Park Mall Semarang. Festival ini menjadi ajang penting untuk mendorong UMKM fashion muslim agar mampu menembus pasar internasional.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan bahwa UMKM merupakan tulang punggung ekonomi daerah, terutama saat krisis moneter maupun pandemi. Ia menyebutkan bahwa pengembangan ekosistem UMKM fashion muslim harus terus diperkuat agar potensi Jawa Tengah bisa bersaing di kancah global.
Potensi dan Talenta Lokal dalam Industri Fashion Muslim
Sejak beberapa tahun terakhir, desainer dari Jawa Tengah telah menunjukkan prestasi di panggung internasional. Pada 2022, desainer dari Purbalingga sukses menembus pasar luar negeri, sementara sekolah kejuruan dan pesantren seperti SMK NU Banat Kudus pernah tampil di Eropa dan Rusia. Fenomena kampung desainer yang menerima pesanan ekspor dari rumah menegaskan adanya daya saing yang nyata dalam industri ini.
Taj Yasin mencontohkan bahwa kolaborasi lintas daerah meningkatkan kekuatan industri kreatif Jawa Tengah. Contohnya, tenun dari Klaten dipadukan dengan pewarnaan Pekalongan serta desain dari Grobogan sebagai model produksi kolaboratif yang berhasil. Ia juga menyebut Dian Pelangi dari Pekalongan sebagai icon fashion muslim yang sudah menembus pasar global.
D’Modifest 2026 sebagai Wadah Penguatan Ekonomi Halal
D’Modifest 2026 menghadirkan sekitar 50 stan yang memadukan produk fashion dan kuliner halal. Festival selama tiga hari ini diharapkan menjadi langkah awal menuju tahun depan, ketika Jawa Tengah akan mengusung tema pariwisata ramah muslim dan ekonomi halal secara nasional. Wagub menyampaikan bahwa pada tahun ini juga akan digelar event tingkat nasional dengan mengundang tamu dari berbagai negara.
Konsep wisata di Jawa Tengah kini tidak hanya berfokus pada destinasi alam, tetapi juga sentra industri kreatif dan UMKM. Model wisata yang menggabungkan kunjungan ke tempat produksi sekaligus membeli produk lokal dianggap sebagai strategi baru pengembangan pariwisata dan ekonomi.
Strategi Promosi dan Kerja Sama Internasional
Jawa Tengah telah menerapkan strategi promosi melalui kerja sama sister province dengan negara seperti Cina, Jepang, dan Australia. Kemitraan ini difokuskan pada pengembangan potensi industri kreatif untuk menarik investasi dan memperluas pasar ekspor. Dekranasda Jawa Tengah, yang dipimpin oleh Hj. Nawal Arafah Yasin, menegaskan bahwa kekuatan utama provinsi ini adalah pada skala ekonomi dan ekosistem UMKM yang besar.
Data SIDT-UMKM 2025 menunjukkan ada 4,45 juta unit UMKM di Jawa Tengah, menjadikan wilayah ini sebagai pemilik jumlah UMKM terbesar ketiga di Indonesia. Pemprov juga berhasil menaikkan jumlah UKM binaan dari 167.391 pada 2020 menjadi 198.780 pada 2025.
Capaian Nyata di Pasar Ekspor
Bukti kemampuan produk UMKM Jawa Tengah tampil di pasar nasional dan internasional ditunjukkan oleh partisipasi di ajang INACRAFT di Jakarta. Sebanyak 22 stan dari Jawa Tengah mencatat total transaksi mencapai Rp820.904.550. Transaksi tersebut terdiri atas ritel sebesar Rp630.334.550 dan pesanan sebesar Rp190.570.000. Hal ini menjadi indikator kuat bahwa produk fashion muslim Jawa Tengah memiliki daya saing tinggi dan potensi ekspor terbuka lebar, terutama ke pasar tetangga seperti Malaysia.
Pemprov Jawa Tengah dan Dekranasda memandang D’Modifest 2026 bukan hanya sebagai festival Ramadan biasa, melainkan sebagai fondasi pembangunan ekonomi kreatif yang mengintegrasikan fashion muslim dan ekonomi halal. Program ini diharapkan mampu mengangkat posisi Jawa Tengah menjadi salah satu pusat unggulan fashion muslim dengan jaringan pasar global yang kuat.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: jatengpos.co.id






