Suasana kantor DPW PKS Jawa Timur berubah hening saat Harianto, peserta tunanetra asal Madiun, tampil melantunkan ayat suci Alquran dalam Musabaqah Hifzhil Alquran (MHQ) PKS Jatim. Pada ajang yang melibatkan perwakilan dari 38 kabupaten dan kota ini, Harianto menarik perhatian karena mampu menghafal 11 juz Alquran meski memiliki keterbatasan penglihatan sejak lahir.
Harianto mengungkapkan alasan di balik hafalannya yang luar biasa. Ia menjelaskan bahwa satu juz Alquran dalam bentuk braille memerlukan buku yang tebal dan berat. “Kalau bawa 30 juz, bisa satu becak penuh. Jadi saya pikir, lebih baik saya simpan di kepala saja supaya ringan dibawa ke mana-mana,” katanya. Metode yang dipakainya adalah mendengarkan murotal berulang kali serta memanfaatkan teknologi berbasis suara.
Motivasi dan Proses Hafalan Harianto
Dalam kesehariannya, Harianto memandang Alquran bukan hanya sebagai teks untuk lomba, melainkan sebagai pegangan hidup yang membimbing langkahnya. Ia juga aktif mengajar mengaji di Madiun dan terus memupuk mimpi untuk menggenapkan hafalannya hingga 30 juz. Ketekunan ini menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama mereka yang memiliki kondisi fisik sempurna.
Komari, penguji dari Biro Alquran PKS Jatim, mengapresiasi kualitas hafalan Harianto yang tetap terjaga. Ia menyebut Harianto sebagai contoh dan guru, yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk menjauh dari Alquran. “Jika dengan keterbatasan fisik saja bisa menjaga belasan juz, rasanya tidak ada alasan bagi kita yang sehat untuk tidak mendekatkan diri pada Alquran,” ucapnya penuh haru.
MHQ PKS Jatim: Ajang Seleksi Berjenjang dan Fondasi Spiritual
Menurut Darmidi, Ketua Panitia Ramadan PKS Jatim, MHQ ini merupakan puncak dari seleksi berjenjang di daerah masing-masing, dengan tujuan utama menyeleksi para jawara. Mereka nantinya akan diproyeksikan ke ajang nasional, yang diharapkan dapat menunjukkan potensi besar penghafal Alquran di Jawa Timur. Darmidi menegaskan, kegiatan ini bukan hanya seremoni tahunan, melainkan usaha untuk membangun fondasi spiritual yang kuat di tengah situasi sosial yang dinamis.
Sementara itu, Sekretaris DPW PKS Jawa Timur, Muhamad Syadid, mengingatkan bahwa hafalan Alquran harus diinternalisasikan dalam sikap dan perilaku. Ia menekankan pentingnya menerapkan akhlak mulia dan semangat melayani masyarakat. “Kemenangan sesungguhnya adalah ketika kita mampu menghadirkan manfaat dan kebaikan di lingkungan setelah lomba. Dekat dengan Alquran berarti berani menebar kasih sayang kepada sesama,” tegasnya.
Dampak dan Inspirasi dari Kisah Harianto
Kisah Harianto membawa semangat baru bagi para peserta dan masyarakat. Keberhasilannya menghafal 11 juz tanpa penglihatan fisik memberi pelajaran penting tentang ketekunan dan keyakinan. Dalam kompetisi bertaraf wilayah ini, sosoknya menjadi simbol bahwa keterbatasan bukan penghalang menuju capaian yang tinggi.
Di tengah hiruk-pikuk MHQ PKS Jatim, Harianto membuktikan nilai luar biasa dari pengabdian pada Alquran. Ia tidak hanya melantunkan kalimat suci, tetapi juga menyalakan motivasi untuk terus berjuang dalam kondisi apapun. Perjalanan spiritualnya diharapkan mampu menggerakkan lebih banyak orang untuk mendekatkan diri pada Alquran dan menebar manfaat bagi masyarakat luas.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: jatimnow.com








