Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi di Provinsi Jawa Timur mencapai 0,95% secara bulanan. Angka ini melampaui rata-rata inflasi nasional yang tercatat 0,68%.
Inflasi tersebut sebagian besar dipicu oleh kenaikan harga cabai rawit dan daging ayam ras. Dua komoditas ini menjadi pendorong utama kenaikan harga di pasar Jawa Timur selama Februari.
Selain cabai rawit dan daging ayam, beberapa komoditas lain juga mengalami kenaikan harga. Komoditas tersebut antara lain emas perhiasan, tarif angkutan udara, telur ayam ras, bawang merah, dan beras.
Permintaan yang meningkat tajam menjelang dan selama bulan Ramadan menjadi salah satu faktor utama. Momen Ramadan membawa peningkatan konsumsi bahan pangan yang belum diimbangi dengan pasokan memadai.
Curah hujan tinggi selama Februari memperparah kondisi pasokan bahan pangan di Jawa Timur. Hujan deras menyebabkan kualitas dan kuantitas hasil panen menurun serta menghambat distribusi.
Pasokan cabai rawit khususnya sangat terdampak oleh intensitas hujan yang tinggi. Akibatnya, stok cabai pun menipis, memicu lonjakan harga signifikan.
Selain faktor alam dan permintaan Ramadan, kebijakan energi ikut berpengaruh pada inflasi. Penyesuaian harga bahan bakar minyak umum oleh PT Pertamina dan diskon tarif listrik dari PT PLN turut berdampak pada pergerakan harga.
Harga emas global yang cenderung meningkat selama Februari juga meningkatkan harga emas perhiasan di Jawa Timur. Meskipun sempat turun di awal bulan, harga emas stabil dan tetap lebih tinggi dibandingkan Januari.
Secara tahunan, inflasi di Jawa Timur mencapai 4,88% dari Februari tahun sebelumnya. Sementara inflasi tahun kalender sejak Desember lalu tercatat sebesar 0,74%.
Dari 11 kabupaten/kota yang dipantau di Jawa Timur, semua mengalami inflasi. Kota dengan kenaikan harga tertinggi adalah Jember dengan 1,14%, sedangkan Kota Malang mencatat kenaikan paling rendah, yaitu 0,74%.
Dengan kondisi tersebut, kenaikan harga cabai rawit dan daging ayam tidak hanya membebani masyarakat secara langsung. Inflasi yang terjadi turut mencerminkan tekanan pada ekonomi regional yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pelaku pasar.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: surabaya.bisnis.com






