Puluhan anggota Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jawa Timur melakukan ziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, sebagai bagian dari kegiatan Memori Masyarakat Tionghoa terhadap Gus Dur. Kegiatan ini digelar untuk memperkokoh nilai toleransi serta mempererat persaudaraan lintas budaya dan agama di Indonesia.
Ketua Pengurus Daerah INTI Jawa Timur, Stefanus Budy, menyampaikan bahwa ziarah tersebut menjadi momentum penting untuk mengenang jasa Gus Dur yang sangat berpengaruh pada kebebasan masyarakat Tionghoa dalam mengekspresikan identitas dan budaya mereka. Peserta yang hadir berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, yakni 45 orang dari Surabaya, 20 orang dari Jombang, serta enam orang dari Malang.
Jejak Gus Dur sebagai Tokoh Pluralisme
Gus Dur dikenal sebagai presiden yang memperjuangkan pluralisme dan kemanusiaan. Stefanus Budy menilai bahwa peran Gus Dur sangat krusial dalam membuka ruang sosial bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia, sehingga mereka bisa merayakan tradisi seperti Imlek dan menggunakan identitas budaya secara terbuka tanpa diskriminasi. Hal ini menjadi bukti nyata kebijakan inklusif yang mendorong toleransi dan keberagaman di Indonesia.
Dalam acara tersebut, selain ziarah ke makam Gus Dur, dilakukan pula anjangsana ke pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng. Rombongan juga mengunjungi Klenteng Hong San Kiong di Kecamatan Gudo dan workshop Museum Wayang Potehi, sebagai upaya mengenalkan sekaligus merawat budaya Tionghoa di Tanah Air.
Pelestarian Budaya dan Persaudaraan Lintas Komunitas
Ketua panitia, Phoa Anditya, menyampaikan bahwa kunjungan ke Klenteng Hong San Kiong dan workshop wayang potehi bukan semata wisata budaya tetapi juga sebagai sarana edukasi. Banyak santri yang belajar kesenian wayang potehi, yang menandakan bagaimana budaya menjadi jembatan penting dalam membangun persaudaraan di antara berbagai komunitas.
Rangkaian kegiatan ini tidak hanya terbatas pada aspek budaya dan spiritual. INTI Jawa Timur juga melaksanakan aksi sosial dengan membagikan sekitar 1.000 paket makanan berbuka puasa kepada masyarakat di Alun-Alun Jombang. Langkah ini menjadi wujud nyata nilai kemanusiaan yang selalu diusung Gus Dur selama hidupnya.
Bagi komunitas Tionghoa, Gus Dur bukan hanya figur politik, melainkan simbol keberanian membuka batas sosial yang selama ini membatasi ekspresi budaya mereka. Kebijakan Gus Dur memberikan ruang untuk penghormatan identitas budaya masyarakat Tionghoa secara lebih luas dan terbuka.
Stefanus Budy menegaskan bahwa kegiatan mengenang Gus Dur harus terus berlanjut sebagai bentuk penguatan kebangsaan yang inklusif dan harmonis. "Kami ingin selalu merawat memori tentang Gus Dur sekaligus memperkuat kerukunan lintas agama, suku, dan budaya di Indonesia," ujarnya.
Upaya INTI Jawa Timur ini menunjukkan bagaimana warisan semangat Gus Dur dalam toleransi dan pluralisme tetap relevan untuk dijalankan, guna menciptakan Indonesia yang lebih adil dan bersatu dalam keberagaman.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: redaksi.duta.co






