Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat memastikan kematian dua anak harimau Benggala di Kebun Binatang Bandung, Huru dan Hara, disebabkan infeksi virus yang menyerang kelompok kucing besar. Keterangan itu disampaikan setelah kedua satwa tersebut mendapat penanganan dari sejumlah pihak, namun nyawanya tetap tidak tertolong.
Kematian Hara terjadi lebih dulu setelah kondisi kesehatannya menurun, lalu disusul Huru pada hari berikutnya. Peristiwa ini menyita perhatian publik karena berlangsung saat Kebun Binatang Bandung sedang ditutup oleh Pemerintah Kota Bandung.
Virus yang menyerang kedua satwa
Humas BBKSDA Jawa Barat, Eri Mildranaya, menjelaskan bahwa kedua anak harimau itu terjangkit virus FLV. Ia menyebut penanganan sudah dilakukan secara maksimal, tetapi kondisi satwa tidak menunjukkan perbaikan sampai akhirnya keduanya meninggal.
Menurut Eri, proses perawatan melibatkan beberapa pihak sekaligus. Berikut pihak-pihak yang ikut menangani kondisi Huru dan Hara:
- Rumah Sakit Cikole
- Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian
- BBKSDA Jawa Barat
- Tim internal Kebun Binatang Bandung
Kolaborasi itu dilakukan untuk memantau kondisi kesehatan satwa dan memberikan tindakan medis yang dibutuhkan. Meski demikian, infeksi yang dialami keduanya dinilai terlalu berat untuk dipulihkan.
Penanganan dilakukan lintas lembaga
BBKSDA Jawa Barat menyebut seluruh pihak sudah berupaya semaksimal mungkin dalam merawat dua anak harimau Benggala tersebut. Tim gabungan mengikuti perkembangan kondisi satwa sejak gejala awal muncul hingga akhirnya dinyatakan mati.
Eri mengatakan, upaya itu telah dilakukan dengan perhatian penuh karena Huru dan Hara menjadi bagian penting dari koleksi satwa di Bandung Zoo. Kehilangan dua anak harimau itu juga disebut meninggalkan duka bagi banyak pihak yang terlibat dalam perawatan mereka.
Sorotan publik dari kasus kematian satwa
Kasus ini menarik perhatian karena terjadi di tengah situasi penutupan kebun binatang oleh Pemkot Bandung. Kondisi tersebut membuat publik menyoroti bagaimana pengawasan dan perawatan satwa tetap dijalankan selama area wisata konservasi itu tidak beroperasi penuh.
Dalam konteks konservasi, kematian dua anak harimau Benggala juga menjadi pengingat bahwa satwa rentan terhadap infeksi yang dapat berkembang cepat. Respons medis yang cepat dan pemantauan intensif menjadi faktor penting, meski pada kasus tertentu penyakit tetap bisa berujung fatal.
Berikut rangkaian peristiwa utama yang tercatat dari penjelasan BBKSDA Jawa Barat:
- Hara lebih dulu meninggal pada 24 Maret.
- Huru menyusul meninggal pada hari berikutnya.
- BBKSDA menyebut keduanya terinfeksi virus FLV.
- Penanganan dilakukan oleh lintas lembaga dan tim kebun binatang.
- Upaya penyelamatan tidak berhasil menyelamatkan kedua satwa.
BBKSDA Jawa Barat menegaskan duka mendalam atas hilangnya dua anak harimau Benggala itu. Hingga kini, perhatian masih tertuju pada kondisi kesehatan satwa lain di Bandung Zoo agar pengawasan medis dan konservasi tetap berjalan ketat.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: jabar.jpnn.com