Jawa Barat Hadapi Kemarau Panjang, Kementan Perkuat Air dan Benih Padi

Kementerian Pertanian memperkuat antisipasi menghadapi potensi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang pada periode April hingga Oktober di Jawa Barat. Fokus utama langkah ini adalah menjaga ketersediaan air pertanian dan memastikan pasokan benih padi tetap tersedia agar produksi padi di provinsi tersebut tidak terganggu.

Jawa Barat memegang peran penting dalam stabilitas pangan nasional karena memiliki luas baku lahan sawah sekitar 900.772 hektare. Di tengah prediksi cuaca kering dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, pemerintah pusat dan daerah mempercepat koordinasi agar lahan pertanian tetap produktif saat tekanan iklim meningkat.

Penguatan irigasi jadi prioritas

Kementan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat menempatkan penguatan jaringan irigasi sebagai langkah utama untuk menjaga suplai air ke sawah. Upaya ini mencakup perbaikan fungsi saluran, optimalisasi irigasi perpompaan, bantuan pompa air, dan optimasi lahan non-rawa yang masih bisa dimanfaatkan untuk produksi.

Langkah tersebut disiapkan untuk mengurangi risiko gagal tanam maupun penurunan produktivitas saat curah hujan menurun. Pemerintah menilai pengelolaan air harus bergerak cepat karena kebutuhan air menjadi penentu keberhasilan tanam padi di banyak sentra produksi.

Dukungan benih ikut digelontorkan

Selain air, pemerintah juga menyalurkan bantuan benih padi untuk menjaga produktivitas petani di tengah ancaman kemarau. Dukungan benih ini penting agar petani tetap bisa tanam ulang atau mempercepat musim tanam ketika kondisi lapangan mulai memungkinkan.

Pola bantuan ini melengkapi penguatan infrastruktur pertanian di daerah. Dengan pasokan benih yang terjamin, petani diharapkan lebih siap menghadapi perubahan musim tanpa kehilangan peluang tanam.

Koordinasi lapangan diperkuat di Garut dan Bandung

Sebagai tindak lanjut di daerah, Dinas Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat menggelar rapat koordinasi peningkatan fungsi jaringan irigasi di Kabupaten Garut dan Bandung. Pertemuan yang berlangsung pada Rabu, 25 Maret 2026 itu dihadiri sejumlah pemangku kepentingan yang berkaitan langsung dengan pengelolaan air pertanian.

Rapat tersebut menjadi bagian dari upaya menyamakan langkah antarinstansi agar perbaikan irigasi berjalan efektif. Pemerintah daerah juga mendorong pengawasan lapangan agar masalah distribusi air bisa ditangani lebih cepat di tingkat saluran maupun sawah.

Langkah antisipasi yang disiapkan pemerintah

Berikut sejumlah langkah strategis yang sudah disiapkan untuk menghadapi kemarau:

  1. Penguatan jaringan irigasi pertanian di wilayah sentra produksi.
  2. Optimalisasi irigasi perpompaan untuk daerah yang rawan kekurangan air.
  3. Bantuan pompa air bagi petani dan kelompok tani.
  4. Optimasi lahan non-rawa agar tetap produktif.
  5. Penyaluran bantuan benih padi untuk menjaga kesinambungan tanam.

Langkah itu disusun untuk menjaga produksi padi tetap stabil meski kondisi iklim kurang mendukung. Pemerintah menilai ketahanan pangan sangat bergantung pada kesiapan air, benih, dan dukungan teknis di lapangan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan penguatan irigasi dan pompanisasi menjadi bagian dari strategi menyeluruh pemerintah dalam menghadapi kemarau. “Air adalah faktor kunci. Karena itu, penguatan irigasi, pompanisasi, dan dukungan benih harus berjalan bersamaan agar petani tetap bisa berproduksi secara optimal,” ujarnya.

Selain Jawa Barat, kewaspadaan juga meningkat di berbagai wilayah Indonesia bagian barat dan selatan yang diprediksi lebih kering oleh BRIN. Dalam situasi seperti ini, kecepatan koordinasi antara pusat, daerah, dan petani menjadi penentu agar produksi padi tetap terjaga dan pasokan pangan nasional tidak terganggu.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.agrofarm.co.id
Exit mobile version