Percepat Gas Domestik, Tuban Jadi Poros LPG Jawa Timur Hingga 2027

Pemerintah melalui SKK Migas mempercepat penguatan pasokan gas domestik dengan menyiapkan sejumlah proyek LPG nasional yang ditargetkan berjalan hingga 2027. Di antara proyek yang paling disorot, fasilitas LPG di Tuban, Jawa Timur, diposisikan sebagai salah satu penopang penting untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat pasokan energi dalam negeri.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebut proyek di Tuban termasuk yang paling dekat memasuki tahap produksi bersama proyek di Cilamaya. Fasilitas yang dioperasikan PT Sumber Aneka Gas itu kini berada dalam tahap commissioning dan ditargetkan segera beroperasi untuk menambah pasokan LPG domestik.

Tuban Jadi Titik Strategis

Proyek LPG Tuban memiliki kapasitas sekitar 30 metrik ton per hari atau setara 348 barel minyak per hari. Meski kapasitasnya tidak sebesar beberapa proyek lain, keberadaannya dinilai penting karena Jawa Timur memiliki kebutuhan energi yang tinggi dan terus tumbuh.

Tambahan pasokan dari proyek awal seperti Cilamaya dan Tuban diperkirakan mencapai sekitar 200 metrik ton per hari mulai April 2026. Angka ini menjadi langkah awal untuk menekan defisit LPG nasional yang selama ini masih ditutup lewat impor.

Peta Proyek LPG Hingga 2027

SKK Migas menyiapkan beberapa proyek lanjutan di berbagai daerah untuk menjaga pasokan tetap bertambah secara bertahap. Berikut daftar proyek yang disebut dalam paparan terbaru:

  1. LPG Plant Tuban, Jawa Timur: 30 metrik ton per hari
  2. LPG Plant Cilamaya: masuk tahap produksi lebih dekat bersama Tuban
  3. LPG Plant Jambi Merang: 320 metrik ton per hari
  4. LPG Plant Senoro: 54 metrik ton per hari
  5. Proyek LPG baru di Jawa Timur milik PT ARSynergy: sekitar 50 metrik ton per hari, masih dikaji

Jambi Merang ditargetkan beroperasi pada kuartal II 2027, sementara Senoro juga dijadwalkan onstream pada tahun yang sama. Rangkaian proyek ini menunjukkan dorongan pemerintah untuk memperbesar pasokan LPG dari sumber domestik secara bertahap.

Dorongan Kurangi Impor

Djoko menegaskan seluruh proyek tersebut merupakan bagian dari strategi besar untuk menekan defisit LPG nasional. Ia menyampaikan hal itu saat rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI dan menekankan bahwa produksi domestik perlu digenjot agar kebutuhan rumah tangga dan industri tidak terlalu bergantung pada impor.

Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya juga menyoroti perlunya evaluasi pada distribusi LPG 3 kg yang dinilai belum optimal. Ia menyebut impor LPG yang masih berada di atas 80 persen pada 2026 berisiko terhadap ketahanan energi domestik jika tidak diimbangi dengan percepatan proyek hulu dan hilir.

Peran Jawa Timur dalam Ketahanan Energi

Jawa Timur kini tampil sebagai wilayah strategis dalam agenda penguatan pasokan gas domestik. Dengan Tuban sebagai salah satu simpul utama, provinsi ini berpeluang menjadi pusat penyangga energi yang tidak hanya mendukung kebutuhan lokal, tetapi juga memperkuat rantai pasok nasional.

Jika seluruh proyek berjalan sesuai jadwal, kapasitas LPG domestik akan bertambah secara bertahap hingga 2027. Kondisi itu memberi ruang lebih besar bagi pemerintah untuk memperkuat kemandirian energi sekaligus menjaga stabilitas pasokan bagi rumah tangga dan sektor industri.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: suarabanyuurip.com
Exit mobile version