Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat menilai kompensasi untuk kusir delman dan sopir angkutan kota mampu membantu mencegah kemacetan panjang di jalur utama Jawa Barat saat arus mudik dan balik lebaran. Penilaian itu disampaikan Anggota Komisi IV DPRD Jabar Abdul Karim di Cianjur, yang melihat kebijakan tersebut berdampak langsung pada kelancaran lalu lintas di sejumlah titik rawan.
Menurut Abdul Karim, jalur Bandung-Garut, Bandung-Cianjur, hingga koridor utama lain tidak mengalami macet total selama arus mudik dan balik. Kondisi yang muncul lebih banyak berupa antrean panjang dengan laju kendaraan tersendat, lalu kembali mencair setelah polisi melakukan rekayasa lalu lintas.
Dampak di jalur Cianjur dan Puncak
Abdul Karim menyoroti jalur Cianjur dan Puncak yang biasanya padat berat saat libur lebaran. Pada periode mudik kali ini, jalur utama Cianjur disebut tidak mengalami kemacetan parah karena delman dan angkutan kota tidak beroperasi.
Ia menilai kebijakan Gubernur Jawa Barat itu membuahkan hasil karena mengurangi hambatan di ruas jalan yang kerap menjadi titik penumpukan kendaraan. Kondisi tersebut dinilai lebih terkendali dibanding tahun-tahun sebelumnya yang kerap menimbulkan antrean hingga belasan jam.
Faktor pendukung kelancaran arus mudik
Selain kebijakan kompensasi, Abdul Karim juga menyebut fasilitas jalan yang semakin lengkap ikut mendukung kelancaran arus mudik. Salah satu yang disorot adalah penerangan jalan umum atau PJU yang membantu pengendara menentukan waktu melintas, terutama pada malam hingga dini hari.
Meski begitu, ia mengakui masih ada sejumlah PJU yang mati atau belum berfungsi maksimal di beberapa titik. Kondisi jalan di wilayah selatan Cianjur juga disebut masih perlu perbaikan agar arus kendaraan tetap aman dan lancar pada periode mudik berikutnya.
Catatan DPRD Jabar untuk tahun selanjutnya
Abdul Karim menyatakan dukungan terhadap program kompensasi yang dijalankan Pemprov Jawa Barat karena dinilai efektif mengurai kemacetan saat libur lebaran. Namun, ia meminta pemerintah daerah tetap memperhatikan sejumlah persoalan teknis di lapangan agar kebijakan serupa berjalan lebih optimal.
Berikut poin yang dinilai penting dari temuan di lapangan:
- Delman dan angkutan kota tidak beroperasi selama arus mudik dan balik.
- Kompensasi dinilai membantu mengurangi hambatan di jalur utama.
- Rekayasa lalu lintas kepolisian membuat antrean kendaraan cepat mencair.
- PJU yang cukup memadai membantu pemudik mengatur waktu perjalanan.
- Perbaikan jalan dan PJU yang rusak masih dibutuhkan di sejumlah titik.
Kebijakan kompensasi ini menjadi salah satu upaya yang dinilai efektif untuk menjaga kelancaran mobilitas pemudik di Jawa Barat, terutama di jalur-jalur yang kerap padat saat lebaran. Dorongan perbaikan infrastruktur dan pengawasan lapangan tetap dibutuhkan agar arus mudik pada periode berikutnya berjalan lebih aman, tertib, dan tidak kembali menimbulkan kemacetan panjang.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: jabar.antaranews.com








