Diam-diam Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyiapkan langkah kerja yang melibatkan seluruh ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Salah satu gebrakan yang disorot adalah olahraga bersama yang dipakai sebagai sarana memperkuat hubungan antarlembaga sekaligus menjaga kekompakan birokrasi.
Kegiatan itu tidak sekadar agenda seremonial. Dedi Mulyadi menempatkan olahraga sebagai ruang untuk membangun solidaritas, memperkuat kesehatan, dan mendukung kinerja pemerintahan agar lebih efektif di lapangan.
Olahraga bersama jadi alat mempererat ASN
Kegiatan yang dimaksud adalah Liga Sabrengna Piala Gubernur Jawa Barat Tahun 2026 yang digelar di Lapangan Sepak Bola Sport Jabar Arcamanik, Kota Bandung, akhir Maret lalu. Dalam kegiatan itu, Dedi Mulyadi juga melibatkan mantan pemain timnas Indonesia, Markus Horison, sebagai pelatih.
Ia menyebut olahraga seperti ini penting karena bisa menjadi ruang kebersamaan di antara perangkat daerah. “Olahraga seperti ini menjadi ruang untuk membangun kebersamaan, menjaga kesehatan, sekaligus memperkuat kekompakan untuk mendukung kinerja pemerintahan,” kata Dedi Mulyadi, dikutip dari laman resmi Dishut Jabar, Minggu (5/4).
Menurut Dedi, upaya membangun pemerintahan tidak cukup hanya lewat rapat dan administrasi. Ia menilai kedekatan antarlembaga juga perlu dirawat agar koordinasi kerja berjalan lebih solid.
WFH ASN jabar disebut lebih dulu diterapkan
Selain olahraga bersama, perhatian publik juga tertuju pada kebijakan kerja dari rumah atau WFH bagi ASN. Di tengah perdebatan soal efektivitas WFH, Jawa Barat diklaim sudah lebih dulu menjalankan pola kerja tersebut sejak 2025.
Dedi Mulyadi menegaskan kebijakan itu justru memberi dampak positif terhadap pengelolaan anggaran. Ia menyebut realisasi belanja anggaran bahkan melampaui target karena sistem kerja dinilai tetap berjalan baik meski sebagian tugas dikerjakan dari luar kantor.
“Kita sudah dari dulu jalankan WFH, efektif. Lihat saja produk pembangunannya, berhasil atau tidak. Selama ini administrasi berjalan dengan baik, kemudian realisasi belanja anggaran malah over,” ujar Dedi Mulyadi usai silaturahmi di Gedung Sate Bandung, dikutip dari Antara.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Pemprov Jabar tidak hanya melihat kehadiran fisik ASN sebagai ukuran utama kinerja. Pemerintah daerah itu lebih menekankan hasil kerja yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Fokus kebijakan pada hasil kerja ASN
Pendekatan yang dibawa Dedi Mulyadi menempatkan output sebagai tolok ukur utama. Dalam pandangan itu, ASN tetap bisa bekerja efektif selama administrasi, koordinasi, dan pelaksanaan program berjalan sesuai target.
Berikut poin penting dari gebrakan yang tengah disorot publik:
- Olahraga bersama digelar untuk memperkuat hubungan antarlembaga.
- Liga Sabrengna Piala Gubernur Jabar menjadi wadah kebersamaan ASN.
- Markus Horison dilibatkan sebagai pelatih dalam turnamen tersebut.
- WFH ASN diklaim sudah diterapkan di Jawa Barat sejak 2025.
- Efektivitas ASN dinilai dari hasil kerja, bukan hanya kehadiran di kantor.
Pola kerja seperti ini juga mencerminkan gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi yang lebih menekankan kedekatan, disiplin, dan capaian konkret. Di saat banyak daerah masih membahas tata kelola kerja hybrid, Jawa Barat disebut telah menjalankan model yang sama lebih awal dan menilai hasilnya dari performa pelayanan serta pembangunan.
Dengan dua langkah sekaligus, yaitu memperkuat solidaritas ASN lewat olahraga dan mengandalkan WFH untuk efisiensi kerja, Pemprov Jabar menampilkan arah kebijakan yang berorientasi pada hasil. Perhatian kini tertuju pada bagaimana pola tersebut akan diterapkan lebih luas dalam birokrasi Jawa Barat dan sejauh mana dampaknya terhadap pelayanan publik serta realisasi program pembangunan di daerah.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.tvonenews.com