Rekor Investasi Jateng Tembus Rp88,5 Triliun, Heri Pudyatmoko Ingatkan Soal Kepercayaan Investor

Tren investasi di Jawa Tengah menunjukkan kinerja yang kuat dan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah. Pemerintah mencatat realisasi investasi di Jawa Tengah sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp88,50 triliun, atau menjadi capaian tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Angka tersebut naik dibandingkan capaian 2024 yang sebesar Rp68,67 triliun, atau tumbuh sekitar 28,88 persen. Dari total investasi itu, Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang Rp50,86 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp37,64 triliun.

Kepercayaan Investor Jadi Faktor Penentu

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, menilai capaian tersebut harus dijaga dengan kebijakan yang konsisten dan layanan yang ramah investasi. Ia menegaskan bahwa keberhasilan menarik modal masuk tidak cukup bila tidak diikuti upaya menjaga rasa aman para investor.

“Kepercayaan investor adalah kunci. Kalau ini terjaga, investasi akan terus masuk dan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi serta penyerapan tenaga kerja,” tegas Heri.

Pernyataan itu menegaskan bahwa investasi tidak hanya soal jumlah dana yang masuk, tetapi juga soal kepastian bagi pelaku usaha. Dalam iklim usaha yang sehat, investor cenderung bertahan lebih lama dan memperluas kegiatan bisnisnya.

Daya Saing Jawa Tengah Dinilai Menguat

Heri menilai lonjakan investasi menunjukkan bahwa Jawa Tengah memiliki daya saing yang semakin baik. Faktor seperti infrastruktur, ketersediaan tenaga kerja, dan kemudahan perizinan disebut ikut mendorong minat investor menanamkan modal di daerah ini.

Data pemerintah juga menunjukkan bahwa realisasi 105.078 proyek telah berhasil dijalankan dari total investasi yang masuk. Aktivitas tersebut kemudian menyerap lebih dari 418 ribu tenaga kerja di berbagai sektor.

  1. Infrastruktur yang terus berkembang.
  2. Ketersediaan tenaga kerja yang besar.
  3. Proses perizinan yang semakin mudah.
  4. Kawasan industri yang makin terintegrasi.

Keempat faktor itu membuat Jawa Tengah tetap kompetitif di tengah persaingan daerah lain dalam menarik investasi. Meski begitu, Heri menilai daya saing tersebut harus terus dirawat agar pertumbuhan tidak melambat.

Stabilitas dan Kepastian Hukum Perlu Dijaga

Heri mengingatkan bahwa tantangan berikutnya bukan hanya mendatangkan investor baru, tetapi juga mempertahankan investor yang sudah beroperasi. Ia menilai stabilitas daerah, kepastian hukum, dan konsistensi regulasi menjadi syarat penting agar dunia usaha merasa nyaman.

“Stabilitas daerah, kepastian hukum, dan kemudahan layanan harus terus dijaga. Jangan sampai investor ragu karena persoalan birokrasi atau regulasi yang tidak konsisten,” ujarnya.

Poin ini menjadi penting karena pelaku usaha biasanya menimbang risiko jangka panjang sebelum menanamkan modal. Jika proses administrasi berbelit atau aturan sering berubah, kepercayaan pasar bisa menurun dan berdampak pada minat investasi berikutnya.

Pemerataan Investasi ke Berbagai Daerah

Selain menjaga iklim usaha, Heri juga menyoroti pentingnya pemerataan investasi di Jawa Tengah. Ia berharap pertumbuhan modal tidak hanya terkonsentrasi di kawasan industri tertentu, tetapi juga menjangkau daerah lain agar manfaatnya terasa lebih luas.

Sejumlah daerah seperti Kendal, Batang, dan Demak tercatat mulai menunjukkan pertumbuhan investasi yang signifikan. Perkembangan ini didorong oleh pengembangan kawasan industri terintegrasi yang menarik minat pelaku usaha.

Menurut Heri, pemerataan investasi akan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah dan membantu mengurangi kesenjangan antarwilayah. Dengan sebaran investasi yang lebih merata, peluang kerja juga akan lebih terbuka bagi masyarakat di luar pusat-pusat ekonomi utama.

Sinergi Pemerintah dan Dunia Usaha

Heri juga mendorong penguatan kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk menjaga iklim investasi tetap kondusif. Sinergi ini dinilai penting agar kebijakan yang dibuat benar-benar mendukung kebutuhan dunia usaha tanpa mengabaikan kepentingan publik.

Langkah itu mencakup pelayanan perizinan yang cepat, komunikasi yang terbuka, serta kepastian aturan yang mudah dipahami investor. Dalam jangka panjang, ekosistem seperti ini akan membuat Jawa Tengah tetap menjadi tujuan utama investasi di wilayah tengah Pulau Jawa.

Realisasi investasi yang tinggi, penciptaan ratusan ribu lapangan kerja, dan pertumbuhan di sejumlah kawasan industri menunjukkan bahwa Jawa Tengah memiliki modal kuat untuk terus berkembang. Namun, keberlanjutan capaian itu tetap bergantung pada kemampuan semua pihak menjaga kepercayaan investor agar arus modal tetap mengalir dan manfaat ekonominya dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: indoraya.news

Berita Terkait

Back to top button