Harga Plastik Naik 60 Persen, Emil Dardak Cari Jalan Keluar untuk UMKM

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyoroti dampak kenaikan harga plastik yang disebut mencapai 60 persen terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Emil menilai lonjakan ini tidak bisa dilepaskan dari gejolak global, termasuk konflik di Timur Tengah dan terganggunya distribusi lewat Selat Hormuz.

Menurut Emil, kondisi tersebut langsung terasa pada UMKM yang bergantung pada plastik sebagai kemasan makanan dan minuman yang murah dan praktis. Ia menyebut pemerintah daerah perlu melihat persoalan ini secara lebih rinci agar solusi yang diambil tidak memberatkan pelaku usaha kecil.

Dampak Langsung ke UMKM

Emil mengatakan kenaikan harga plastik bukan sekadar urusan biaya bahan baku, tetapi juga menyangkut keberlangsungan usaha kecil. Banyak pelaku UMKM masih mengandalkan plastik untuk menjaga harga jual tetap terjangkau bagi pembeli.

Dalam keterangannya, Emil menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan semangat pengurangan plastik tanpa data yang jelas. Ia menilai perlu ada pemetaan terhadap UMKM yang masih bisa menyesuaikan diri dan yang belum punya ruang adaptasi.

Perubahan Harga Dipicu Rantai Pasok Global

Emil menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik berkaitan dengan kondisi bahan baku dan rantai pasok global yang tidak stabil. Situasi itu membuat biaya produksi di tingkat pelaku usaha ikut tertekan, terutama bagi usaha yang memakai kemasan plastik dalam jumlah besar.

Berikut faktor yang disorot Emil terkait kenaikan harga plastik:

  1. Konflik di Timur Tengah.
  2. Terganggunya distribusi global.
  3. Penutupan Selat Hormuz.
  4. Kenaikan harga bahan baku plastik.
  5. Ketergantungan UMKM pada kemasan plastik.

Dorongan Pengurangan Plastik Sekali Pakai

Emil menyebut Pemprov Jatim sudah lama mendorong gaya hidup ramah lingkungan dengan mengurangi plastik sekali pakai dan memakai tas belanja. Menurut dia, kebiasaan itu penting untuk menekan limbah sekaligus menciptakan perubahan perilaku konsumsi.

Ia juga menyinggung kebiasaan di pasar modern yang sudah mulai membebankan biaya tambahan untuk plastik. Namun, Emil mengakui pola serupa belum mudah diterapkan di pasar tradisional karena kebiasaan masyarakat masih kuat.

Pedagang Pasar Tradisional Jadi Perhatian

Emil menilai pedagang pasar tradisional berada dalam posisi yang paling rentan karena plastik masih menjadi kebutuhan utama untuk membungkus barang dagangan. Produk seperti makanan siap saji, minuman, dan kebutuhan harian masih sangat bergantung pada kemasan sederhana itu.

Ia meminta masyarakat mulai membawa tas belanja sendiri agar beban penggunaan plastik dari pedagang bisa berkurang. Jika plastik tetap diperlukan, Emil menyebut tambahan biaya kecil masih bisa diterapkan secara bertahap selama konsumen memahami situasinya.

Perlu Data Sebelum Kebijakan Diambil

Emil menegaskan Pemprov Jatim tidak ingin mengambil keputusan berdasarkan asumsi. Karena itu, ia meminta pendataan terlebih dahulu untuk membedakan UMKM yang bisa beradaptasi dan yang benar-benar membutuhkan dukungan.

Menurut Emil, langkah ini penting agar kebijakan yang muncul tepat sasaran dan tidak memunculkan beban baru bagi pelaku usaha kecil. Ia juga menekankan bahwa solusi untuk masalah ini harus dibahas bersama antara pemerintah, pedagang, dan masyarakat agar penyesuaian berjalan lebih realistis.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.jawapos.com
Exit mobile version