Harga Plastik Naik Imbas Perang Timur Tengah, Emil Dardak Siapkan Langkah Untuk UMKM Jawa Timur

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan langkah antisipasi atas kenaikan harga plastik yang ikut tertekan oleh ketegangan perang Iran vs Israel-AS. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut lonjakan harga itu berdampak langsung pada pelaku UMKM yang banyak bergantung pada kemasan plastik dalam kegiatan jual beli harian.

Emil mengatakan harga plastik di pasaran sedang melambung karena bahan bakunya berasal dari minyak bumi dan banyak dipasok dari negara-negara kawasan Teluk melalui jalur Selat Hormuz. Kondisi itu membuat rantai pasok global terganggu dan memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha kecil di Jawa Timur.

Dampak Langsung ke UMKM

Emil menegaskan banyak pelaku UMKM kini menghadapi beban biaya tambahan karena plastik masih menjadi kebutuhan utama dalam penjualan produk pangan dan barang konsumsi. Ia menilai pemerintah daerah perlu melihat persoalan ini secara detail agar solusi yang diambil tidak memberatkan pelaku usaha kecil.

Menurut Emil, pemerintah provinsi sudah berkoordinasi dengan Dinas Koperasi dan UKM serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur. Koordinasi itu dilakukan untuk memantau seberapa besar dampak kenaikan harga plastik terhadap UMKM dan mencari langkah penanganan yang paling sesuai.

Pendataan Pelaku Usaha Jadi Langkah Awal

Emil meminta agar dilakukan pendataan lebih lanjut terhadap para pelaku UMKM, terutama yang berjualan di pasar tradisional. Pendataan itu dinilai penting untuk membedakan usaha yang masih bisa menyesuaikan diri dengan biaya tambahan dan usaha yang benar-benar membutuhkan bantuan.

Berikut arah kebijakan yang disiapkan pemerintah daerah:

  1. Mencatat UMKM yang terdampak langsung oleh kenaikan harga plastik.
  2. Mengidentifikasi pedagang pasar tradisional yang paling rentan.
  3. Menyusun ruang intervensi pemerintah sebagai regulator.
  4. Mendorong penyesuaian biaya kemasan di sektor usaha tertentu.
  5. Mengedukasi masyarakat agar membawa kantong belanja sendiri.

Emil menekankan bahwa pemerintah tidak cukup hanya memberi dorongan moral kepada para pedagang. Ia menilai solusi harus disiapkan bersama agar persoalan biaya kemasan tidak terus menekan usaha mikro.

Solusi Jangka Pendek yang Disiapkan

Untuk langkah cepat, Emil meminta pedagang yang membutuhkan plastik agar dapat memungut biaya tambahan dari pelanggan. Kebijakan itu disebut relevan pada transaksi yang memang masih memerlukan kemasan sekali pakai, terutama di pasar tradisional dan usaha makanan siap saji.

Ia juga mendorong kebiasaan baru di masyarakat untuk memakai tas belanja pribadi saat berbelanja. Menurut Emil, kebiasaan itu sudah mulai berkembang dan bisa membantu menekan kebutuhan plastik di tingkat konsumen.

Pemerintah provinsi juga menyoroti perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin bergantung pada layanan pesan-antar makanan. Dalam situasi itu, penggunaan plastik masih sulit dihindari karena produk tetap harus dikirim dalam kemasan yang aman dan praktis.

Tekanan Pasar dan Perubahan Perilaku Konsumen

Emil memberi contoh bahwa layanan ojek daring dan pemesanan makanan lewat aplikasi membuat kebutuhan kemasan plastik tetap tinggi. Ia menilai kondisi itu perlu dihadapi dengan solusi yang realistis, bukan sekadar imbauan umum kepada pedagang.

Berikut kelompok yang paling diperhatikan dalam pemetaan dampak:

Kelompok Kondisi yang Dihadapi
Pedagang pasar tradisional Paling rentan terhadap kenaikan biaya plastik
UMKM makanan dan minuman Sulit lepas dari kebutuhan kemasan
Konsumen dengan daya beli lebih tinggi Diharapkan lebih cepat beradaptasi
Pelaku usaha yang bisa beralih kemasan Didorong menyesuaikan model penjualan

Emil menyebut pemerintah akan mengutamakan sektor ekonomi paling mendasar terlebih dahulu. Fokus utama diarahkan ke pasar tradisional karena di sana transaksi berlangsung lintas lapisan masyarakat dan dampak kenaikan biaya lebih terasa.

Perubahan harga plastik ini menjadi perhatian penting di Jawa Timur karena menyentuh rantai usaha kecil yang setiap hari bergantung pada bahan kemasan. Pemerintah daerah kini menyiapkan data dan skema penyesuaian agar UMKM tetap bisa bertahan tanpa menanggung beban yang terlalu besar.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: surabaya.bisnis.com
Exit mobile version