Sektor Keuangan Stabil Di Jateng, Reksa Dana Makin Menguasai Pasar Modal

Otoritas Jasa Keuangan Jawa Tengah menyebut sektor jasa keuangan di provinsi itu masih relatif stabil hingga akhir Maret, meski dinamika global terus dipantau karena berpotensi memengaruhi industri perbankan daerah. Di saat yang sama, OJK menyoroti reksa dana sebagai instrumen pasar modal yang tumbuh cepat dan semakin banyak dipilih investor, terutama dari kalangan muda.

Kepala OJK Provinsi Jawa Tengah Hidayat Prabowo mengatakan pertumbuhan kredit di wilayahnya masih berada di kisaran 9% dan likuiditas perbankan dinilai mencukupi. Ia menegaskan pengawasan tetap diperketat, khususnya pada kualitas kredit bank yang terdampak struktur ekonomi Jawa Tengah yang sangat bergantung pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Tekanan Kredit Masih Jadi Perhatian

Hidayat menjelaskan bahwa kualitas kredit menjadi salah satu fokus utama OJK karena kondisi UMKM sangat memengaruhi fungsi intermediasi bank. Ia menyebut strategi khusus disiapkan pada periode ini agar rasio kredit bermasalah atau NPL tidak meningkat dan portofolio yang sudah ada bisa kembali diperkuat.

Menurut dia, tingginya NPL terutama di Bank Perekonomian Rakyat juga masih berkaitan dengan dampak pandemi Covid-19. Pemulihan usaha UMKM yang berjalan lambat setelah berbagai relaksasi dinilai ikut menekan kinerja pembiayaan di sejumlah bank.

Reksa Dana Makin Diminati Investor Daerah

Di sisi pasar modal, reksa dana mencatat pertumbuhan yang kuat di Jawa Tengah. OJK menyebut Single Investor Identification atau SID di provinsi itu tumbuh positif 105,29% secara tahunan, dengan porsi terbesar berasal dari SID reksa dana yang mencapai 2,16 juta atau 63,98% dari total SID.

Hidayat menjelaskan bahwa SID reksa dana juga tumbuh 38,29% secara tahunan, yang menunjukkan minat masyarakat terhadap produk ini terus meningkat. Ia menilai capaian tersebut patut diapresiasi karena menandakan perluasan akses investasi di daerah.

Selain itu, nilai penjualan APERD atau Agen Penjual Efek Reksa Dana di Jawa Tengah juga menunjukkan tren positif. Pada Januari, pertumbuhannya tercatat 269% secara tahunan, yang oleh OJK dibaca sebagai sinyal kuat meningkatnya transaksi dan partisipasi investor ritel.

Alasan Reksa Dana Banyak Dipilih

Kepala Bursa Efek Indonesia Jawa Tengah Fanny Rifqi El Fuad mengatakan reksa dana menyumbang sekitar 60% pertumbuhan SID pasar modal di Jawa Tengah. Ia menilai dominasi itu menunjukkan reksa dana semakin relevan sebagai pintu masuk investasi bagi masyarakat.

Fanny menyebut minat besar terhadap reksa dana dipengaruhi risiko yang lebih rendah dibanding sejumlah instrumen lain, pilihan produknya yang beragam, serta akses pembelian yang semakin mudah. Berikut beberapa faktor yang disebut paling mendorong pertumbuhan minat tersebut:

  1. Risiko relatif lebih rendah dibanding instrumen pasar modal lain.
  2. Ragam produk yang lebih banyak untuk profil investor berbeda.
  3. Pembelian mudah lewat aplikasi perbankan dan platform investasi.
  4. Produk tersedia juga melalui sekuritas yang menjual reksa dana.

Ia juga menambahkan bahwa sejak pandemi, partisipasi generasi muda di pasar modal, termasuk reksa dana, semakin terlihat nyata. Kondisi itu memperkuat peran reksa dana sebagai instrumen awal bagi investor pemula yang ingin belajar mengelola aset.

Dorongan Inklusi Pasar Modal Terus Diperluas

Melalui sosialisasi reksa dana, OJK menyatakan optimalisasi inklusi pasar modal terus didorong, termasuk pada pasar modal syariah. Upaya ini diarahkan agar pasar modal bisa memberi dukungan lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi regional melalui perluasan basis investor dan sumber pendanaan usaha.

OJK menekankan dua sisi pengembangan yang berjalan bersamaan, yakni supply dan demand. Dari sisi supply, pasar modal didorong menjadi sumber pembiayaan utama bagi dunia usaha, sementara dari sisi demand masyarakat terus diarahkan agar menjadikan pasar modal sebagai alternatif investasi yang lebih luas dan terjangkau.

Dalam konteks Jawa Tengah, stabilnya sektor jasa keuangan dan kuatnya pertumbuhan reksa dana menunjukkan pasar keuangan daerah masih punya ruang ekspansi. Kondisi itu memperlihatkan bahwa penguatan pengawasan perbankan dan perluasan literasi investasi berjalan beriringan untuk menjaga ketahanan ekonomi daerah.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: semarang.bisnis.com
Exit mobile version