
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca Indonesia dalam sepekan ke depan masih didominasi hujan ringan hingga hujan lebat. Potensi hujan paling perlu diwaspadai terjadi pada periode 10–16 April, saat sejumlah wilayah masih berada dalam masa peralihan musim dan cuaca dapat berubah cepat.
BMKG menyebut dinamika atmosfer dari skala global hingga lokal masih aktif memicu pembentukan awan hujan. Kondisi ini membuat beberapa daerah berpeluang mengalami hujan sedang hingga sangat lebat, disertai kilat, petir, dan angin kencang.
Cuaca beberapa hari terakhir masih basah
BMKG mencatat hujan ringan hingga lebat masih terjadi di banyak wilayah Indonesia pada periode 6–8 April. Curah hujan tertinggi terpantau di Papua Barat dengan 190,7 mm/hari, disusul D.I Yogyakarta 87,4 mm/hari, Kalimantan Tengah 86,4 mm/hari, Papua 84,0 mm/hari, Sumatera Barat 84,1 mm/hari, Sumatera Utara 75,0 mm/hari, dan Lampung 73,5 mm/hari.
Kondisi itu dipengaruhi gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity. Selain itu, peralihan Monsun Asia menuju Monsun Australia ikut membentuk pola sirkulasi udara yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
Faktor atmosfer yang masih aktif
Pada skala global, ENSO masih berada dalam fase netral dengan indeks NINO 3.4 sebesar -0.35 dan SOI +2.1. Nilai ini menunjukkan belum ada pengaruh kuat yang mendorong peningkatan hujan secara signifikan di Indonesia.
Dari sisi Samudra Hindia, DMI tercatat -0.14 dan juga berada pada fase netral. Artinya, suplai massa udara dari wilayah barat Afrika ke Indonesia masih terbatas dan belum memberi dampak besar terhadap peningkatan hujan nasional.
Dinamika regional dan lokal ikut memperkuat hujan
Monsun Australia terpantau semakin menguat dan diprakirakan dominan dalam beberapa hari ke depan. Aliran udara timuran ini umumnya lebih kering, namun tidak sepenuhnya menghilangkan peluang hujan karena masih ada pemicu lain yang bekerja bersamaan.
Fenomena MJO diprakirakan melintasi sebagian wilayah Sumatera, perairan selatan Banten, dan perairan utara Papua. Gelombang Rossby Ekuatorial juga aktif di sebagian Jawa, Bali, NTB, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan Papua.
Gelombang Kelvin turut diprakirakan aktif melintasi sebagian besar Sumatera, Kalimantan, dan sebagian Papua. Di sisi lain, sirkulasi siklonik berpotensi muncul di Samudra Hindia barat daya Banten dan Laut Banda.
Wilayah yang perlu diwaspadai
Kondisi labilitas atmosfer yang cukup kuat juga terpantau di sejumlah daerah. Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, NTB, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Pegunungan.
BMKG menilai kombinasi faktor itu dapat memicu konvergensi, konfluensi, dan pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah terdampak. Kondisi seperti ini umum muncul pada masa pancaroba dan membuat cuaca sulit diprediksi dalam jangka pendek.
Prakiraan 10–12 April
Pada periode 10–12 April, cuaca Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga hujan lebat. Hujan sedang hingga lebat diprakirakan terjadi di Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Banten, Jakarta, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Tingkat peringatan dini juga menunjukkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat di beberapa provinsi. Berikut ringkasannya:
| Kategori | Wilayah |
|---|---|
| Siaga hujan lebat–sangat lebat | Sumatera Utara, Kep. Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Maluku |
| Angin kencang | Sumatera Barat, Papua Barat, Papua |
Prakiraan 13–16 April
Pada periode 13–16 April, cuaca Indonesia umumnya diprakirakan didominasi hujan ringan hingga hujan sedang. Meski begitu, hujan sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.
Peringatan dini untuk hujan lebat hingga sangat lebat pada periode ini mencakup Jawa Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Papua Pegunungan. BPotensi angin kencang juga masih perlu dicermati di Papua Barat Daya.
Imbauan BMKG untuk masyarakat
BMKG mengingatkan masyarakat, pengendara, dan pemangku kepentingan agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang bisa memicu bencana hidrometeorologi. Hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang dapat mengganggu perjalanan darat, laut, maupun udara.
Masyarakat juga diminta menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh saat hujan lebat dan angin kencang terjadi. Aktivitas di ruang terbuka sebaiknya dibatasi jika muncul kilat, petir, atau tanda-tanda hujan ekstrem.
BMKG meminta publik terus memantau pembaruan prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui laman resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, serta akun media sosial @infobmkg. Informasi cuaca yang berubah cepat pada masa peralihan musim membuat kewaspadaan menjadi penting, terutama bagi daerah yang masuk zona hujan sedang hingga sangat lebat dalam sepekan ke depan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.bmkg.go.id








