Borobudur Jadi Urat Nadi Wisata Jateng, Tiga Kawasan Disatukan dalam Aglomerasi Baru

Kawasan wisata di Jawa Tengah tengah disiapkan untuk bergerak sebagai satu kesatuan yang lebih kuat. Candi Borobudur, Kopeng, dan Rawa Pening akan dihubungkan dalam konsep aglomerasi pariwisata agar daya tariknya meningkat dan wisatawan terdorong tinggal lebih lama.

Gagasan ini mengarah pada penguatan ekonomi kawasan, terutama bagi pelaku usaha lokal di sekitar destinasi. Penataan terpadu juga diarahkan agar manfaat wisata tidak berhenti di titik kunjungan utama, tetapi menyebar ke wilayah pendukung.

Borobudur diposisikan sebagai pusat utama

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan Borobudur tidak hanya dipandang sebagai objek wisata, tetapi juga warisan budaya dunia yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Ia menyebut Borobudur sebagai kebanggaan bangsa yang perlu terus diangkat ke level dunia.

Dalam peninjauan kawasan Borobudur di Kabupaten Magelang, Ahmad Luthfi melihat langsung perawatan candi dan menerima paparan petugas mengenai struktur, relief, serta arah pengembangan kawasan. Ia menilai kekuatan Borobudur ada pada nilai sejarah, budaya, dan arkeologi, sekaligus pada potensinya sebagai magnet wisata global.

Aktivitas budaya dan keagamaan ikut menghidupkan kawasan

Borobudur juga rutin menjadi ruang kegiatan keagamaan umat Buddha, termasuk perayaan Waisak yang dihadiri ribuan umat dari dalam dan luar negeri. Selain itu, kawasan ini kerap menjadi lokasi berbagai agenda budaya dan publik yang menambah nilai kunjungan.

Di antaranya adalah Borobudur Marathon yang telah masuk kalender maraton dunia, kirab pusaka dari Kementerian Kebudayaan, serta beragam kegiatan seni budaya lainnya. Ragam agenda itu membuat Borobudur tidak hanya hidup sebagai situs warisan, tetapi juga sebagai pusat aktivitas yang bergerak sepanjang tahun.

Kopeng dan Rawa Pening jadi penopang destinasi

Dalam skema yang disiapkan, Borobudur tidak berdiri sendiri. Pemerintah menempatkan Kopeng dan Rawa Pening sebagai destinasi pendukung yang terhubung dalam satu jejaring wisata agar arus wisatawan menyebar dan tidak terpusat di satu titik saja.

Pemerintah pusat telah menata kawasan inti Borobudur, sementara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan wilayah penyangga. Konsep aglomerasi ini masih dimatangkan dan terus dikoordinasikan dengan kementerian terkait.

Targetnya manfaat ekonomi lebih terasa di masyarakat

Pemerintah provinsi menargetkan integrasi tiga kawasan itu mampu mendorong kunjungan wisata dan memperkuat perekonomian warga di sekitarnya. Dengan pola terpadu, peluang usaha di sektor pendukung seperti layanan wisata, kuliner, dan aktivitas lokal diharapkan ikut bergerak.

Ahmad Luthfi menekankan bahwa pengembangan kawasan harus memberi dampak langsung bagi masyarakat. “Aglomerasi wisata ini akan kita kembangkan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Konsep Borobudur sebagai penggerak wisata terpadu di Jawa Tengah kini diarahkan menjadi strategi jangka panjang yang menjaga warisan budaya sekaligus membuka ruang pertumbuhan ekonomi kawasan. Dengan Borobudur sebagai pusat dan Kopeng serta Rawa Pening sebagai penopang, pemerintah menyiapkan model wisata yang lebih terhubung, lebih lama dikunjungi, dan lebih luas manfaatnya bagi warga sekitar.

Source: jatengpos.co.id
Terkait