Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi membuka pintu kolaborasi dengan Sungai Watch untuk memperkuat gerakan bersih sungai di wilayahnya. Dukungan itu ia sampaikan saat menerima tim komunitas lingkungan tersebut di kantornya, dengan penawaran fasilitas agar aksi pengurangan sampah bisa berjalan lebih efektif di Jawa Tengah.
Luthfi menegaskan bahwa langkah itu bukan sekadar dukungan simbolik. Ia bahkan menyatakan siap menyediakan ruang kerja jika diperlukan agar gerakan itu bisa terhubung lebih dekat dengan upaya pemerintah daerah membersihkan sungai dan menghijaukan kawasan aliran air.
Run for Rivers melintasi Jawa Tengah
Sungai Watch saat ini tengah menjalankan program “Run for Rivers”, sebuah aksi lari sejauh 1.200 kilometer dari Bali menuju Jakarta. Selain untuk kampanye publik, gerakan ini juga dipakai untuk memetakan sungai-sungai yang tercemar dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Di Jawa Tengah, perjalanan itu sudah memasuki kabupaten/kota ke-14. Tim Sungai Watch juga telah tiba di Kendal sebelum melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
Selama melintas di provinsi ini, mereka sudah melakukan aksi bersih sungai di Blora, Grobogan, Demak, dan Kota Semarang. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 24 Mei 2026, dengan relawan yang terus turun ke lapangan untuk memetakan titik-titik sungai yang perlu dibantu.
Selaras dengan program Pemprov Jateng
Bagi Luthfi, gerakan itu sejalan dengan arah kebijakan pemerintah daerah dalam pengelolaan lingkungan. Ia menyebut target pengurangan sampah dan rehabilitasi kawasan pesisir sebagai bagian penting dari kerja pemerintah di Jawa Tengah.
Luthfi juga menyinggung kaitan program itu dengan agenda nasional terkait zero waste. Menurut dia, misi menjaga sungai tetap bersih dan mendorong penghijauan mangrove berada dalam jalur yang sama dengan program yang sudah dijalankan daerah.
Pemprov Jateng sendiri telah menjalankan sejumlah program pengelolaan sampah. Upaya itu mencakup edukasi pemilahan sampah di tingkat rumah tangga serta pengembangan tempat pengolahan sampah terpadu.
Fokus pengelolaan sampah dan pesisir
Di sisi lain, pemerintah provinsi juga mengembangkan konsep aglomerasi di wilayah seperti Semarang Raya, Tegal Raya, dan Pekalongan Raya. Dalam konsep itu, sampah diolah menjadi energi listrik sebagai bagian dari pendekatan pengelolaan yang lebih luas.
Pemprov Jateng juga mereplikasi teknologi Refuse Derived Fuel atau RDF yang sebelumnya diterapkan di Banyumas. Teknologi tersebut kini dikembangkan di 13 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Selain pengelolaan sampah, pemerintah provinsi menjalankan program penanaman satu juta mangrove di sepanjang 670 kilometer garis Pantai Utara. Program itu ditujukan untuk menjaga ekosistem pesisir sekaligus memperkuat rehabilitasi lingkungan.
Respons Sungai Watch
Sungai Watch digerakkan tiga bersaudara asal Prancis, yakni Gary Benchegib, Kelly Benchegib, dan Sam Benchegib. Ketiganya telah lama bermukim di Indonesia dan aktif mengampanyekan pengurangan sampah plastik di sungai.
Sam Benchegib menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan Pemprov Jawa Tengah. Ia berharap kolaborasi yang dibicarakan dapat segera terwujud dan memberi dampak yang lebih besar bagi pemulihan sungai.
Sam juga menyebut bahwa jika kolaborasi itu berjalan, hasilnya akan sangat besar. Dalam kesempatan itu, ia bersama Gary dan Kelly bahkan berharap Gubernur Jateng bisa ikut lari bersama dalam kegiatan mereka.
Source: halosemarang.id