Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberi apresiasi atas kinerja Bank Jatim yang dinilai tumbuh impresif dalam Tahun Buku 2025. Sorotan terbesarnya adalah laba bersih Bank Jatim secara bank only yang mencapai Rp1,546 triliun dan disebut sebagai yang tertinggi di antara seluruh BPD di Indonesia.
Khofifah menilai capaian itu bukan hanya soal angka, tetapi juga menunjukkan fungsi intermediasi yang berjalan baik. Ia menyebut pertumbuhan Bank Jatim tetap terjaga karena ekspansi usaha diikuti kualitas yang kuat.
Dalam RUPS Tahunan Tahun Buku 2025 di Kantor Pusat Bank Jatim, Khofifah menyoroti sejumlah indikator yang bergerak positif. Aset konsolidasi naik dari Rp118,14 triliun menjadi Rp168,85 triliun, kredit meningkat dari Rp75,35 triliun menjadi Rp110,50 triliun, dan Dana Pihak Ketiga bertambah dari Rp90,01 triliun menjadi Rp127,24 triliun.
Kinerja laba rugi juga mencatat penguatan konsisten. Pendapatan bunga naik dari Rp8,28 triliun menjadi Rp10,16 triliun, pendapatan bunga bersih dari Rp5,62 triliun menjadi Rp7,08 triliun, dan laba bersih konsolidasi dari Rp1,29 triliun menjadi Rp1,61 triliun.
Khofifah menegaskan bahwa pencapaian tersebut menandakan pertumbuhan yang ditopang kualitas pendapatan dan ketahanan bisnis. Menurutnya, Bank Jatim berhasil menjaga momentum pertumbuhan secara konsisten di tengah tantangan industri perbankan yang semakin ketat.
Dividen naik, pemegang saham ikut menikmati hasil
Di RUPS Tahunan Tahun Buku 2025, Bank Jatim juga memutuskan pembagian dividen sebesar Rp56,62 per lembar saham. Angka itu naik dari dividen tahun sebelumnya yang berada di level Rp54,71 per lembar saham.
Total dividen yang dibagikan kepada pemegang saham mencapai Rp850.177.501.402,84. Nilai itu setara 55 persen dari laba bersih Tahun Buku 2025.
Sebagai pemegang saham pengendali, Khofifah memberi arahan agar Bank Jatim memperkuat posisi sebagai regional champion. Ia juga meminta penguatan Kelompok Usaha Bank melalui sinergi bisnis, optimalisasi potensi produk syariah, percepatan transformasi digital lewat Jconnect, dan peningkatan pembiayaan sektor produktif, terutama UMKM.
Ia menilai Bank Jatim perlu terus memperkuat tata kelola dan manajemen risiko. Khofifah juga meminta seluruh jajaran Komisaris, Direksi, dan insan Bank Jatim menjaga semangat kolaboratif serta integritas dalam membangun institusi yang lebih kuat.
Peran Bank Jatim di ekonomi Jawa Timur
Khofifah menempatkan Bank Jatim sebagai motor penggerak ekonomi daerah, bukan sekadar lembaga intermediasi. Ia menyebut bank milik daerah itu punya peran langsung dalam mengalirkan likuiditas, memperkuat sektor riil, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Ia juga menekankan posisi strategis Bank Jatim dalam mendukung arsitektur ekonomi nasional. Bank Jatim disebut menaungi lima anggota KUB, yakni NTB Syariah, NTT, Sulawesi Tenggara, Lampung, dan Banten, serta menjadi BPD dengan jumlah anggota KUB terbanyak di antara sesama BPD.
Khofifah menilai dukungan sistem keuangan daerah harus kuat dan adaptif agar mampu menjembatani kebutuhan pembiayaan pembangunan dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, Bank Jatim dinilai memiliki posisi penting sebagai penghubung antara kekuatan fiskal daerah dan sektor riil.
Dalam kesempatan itu, Khofifah juga menyinggung peran Jawa Timur dalam perekonomian nasional. Pada tahun 2025, Jawa Timur menjadi penyumbang perekonomian terbesar kedua nasional dengan kontribusi 14,40 persen terhadap PDB Indonesia dan 25,29 persen terhadap Pulau Jawa.
Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2025 tercatat 5,85 persen year on year, lebih tinggi dari nasional yang sebesar 5,39 persen year on year. Per 5 Mei, rilis pertumbuhan ekonomi Jawa Timur triwulan pertama year on year juga disebut mencapai 5,96 persen dan menjadi yang tertinggi di antara seluruh provinsi di Pulau Jawa.
Menurut Khofifah, capaian itu ditopang oleh struktur ekonomi yang kuat, terutama sektor industri, perdagangan, dan pertanian. Ia juga menyebut sinergi bupati, wali kota, pengusaha, dan buruh industri memberi kontribusi besar terhadap penguatan ekonomi daerah.
Dorongan untuk KUR dan transformasi digital
Khofifah menekankan pentingnya penyaluran pembiayaan yang tepat sasaran, termasuk dukungan terhadap penurunan bunga KUR menjadi 5,99 persen. Ia meminta kepala cabang Bank Jatim di berbagai daerah untuk merespons cepat kebijakan tersebut agar pelaku usaha kecil dan mikro bisa memperoleh stimulus yang lebih produktif.
Ia menyebut 5,99 persen sebagai kabar baik dan harapan baru bagi pelaku usaha kecil. Karena itu, ia mendorong jajaran Bank Jatim agar lebih proaktif dalam menjawab visi strategis pemerintah.
Ke depan, Khofifah menilai Bank Jatim perlu menguatkan digital mindset, bukan hanya digitalisasi layanan. Transformasi itu disebut harus menyentuh cara berpikir, cara bekerja, dan cara mengambil keputusan agar lebih adaptif terhadap perubahan zaman.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan perbankan akan semakin kompleks. Persaingan tidak hanya datang dari bank lain, tetapi juga dari fintech dan platform digital, sementara perubahan perilaku nasabah serta risiko siber dan reputasi menuntut kesiapan yang lebih tinggi.
Khofifah berharap Bank Jatim terus tumbuh sebagai institusi yang sehat secara finansial dan kuat secara sosial. Ia ingin bank daerah itu tetap hadir di tengah masyarakat dan memberi kontribusi nyata bagi pembangunan Jawa Timur.
Source: detak.co