SPMB Jabar Kacau, Sekolah Maung Disebut Pemicu Tsunami Pendidikan

Kisruh Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SMA di Jawa Barat memunculkan sorotan tajam terhadap kebijakan pendidikan daerah. Di wilayah Cirebon, kekacauan pendaftaran bahkan sampai memicu istilah “Tsunami Pendidikan” dari pengamat dan pemerhati kebijakan publik.

Pusat kritik diarahkan ke kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, terutama program “Sekolah Maung” yang dinilai terlalu tergesa-gesa. Program itu disebut tidak disiapkan secara matang dan ikut menjadi akar dari kacau-balaunya sistem penerimaan siswa baru tahun ini.

Orang Tua Siswa Kena Dampak Langsung

Kisruh ini langsung dirasakan para orang tua wali murid. Banyak yang kebingungan setelah nama anak mereka mendadak tergeser dari sistem pendaftaran.

Pemerhati Pendidikan Cirebon, Hera Damayanti, mengatakan kondisi itu menambah beban keluarga yang masih menunggu kepastian sekolah anaknya. Ia menyebut sulitnya mencabut berkas untuk mendaftar ke sekolah lain juga mengganggu mental calon peserta didik.

Sistem Digital Dipersoalkan

Masalah lain datang dari birokrasi pendaftaran yang dianggap rumit. Berkas pendaftaran disebut sulit dicabut secara online sehingga orang tua tidak leluasa memindahkan anak ke sekolah alternatif.

Sebelum polemik kebijakan ini menguat, proses pendaftaran daring memang sudah lebih dulu menuai keluhan. Server utama SPMB Jawa Barat dilaporkan kerap down dan sulit diakses pada jam-jam sibuk pendaftaran.

Kondisi itu membuat sebagian besar orang tua calon peserta didik mulai jenuh dengan digitalisasi yang dinilai carut-marut. Mereka berharap pemerintah mengevaluasi total kebijakan ini dan mengembalikan sistem penerimaan siswa baru ke metode manual yang dianggap lebih transparan dan minim kendala teknis.

Dedi Mulyadi Soroti Kinerja Internal

Menanggapi kegaduhan tersebut, Dedi Mulyadi mengaku kecewa kepada panitia dan jajaran Dinas Pendidikan Jawa Barat. Ia menilai mereka tidak kompeten mengelola teknologi pendaftaran sehingga memicu kegaduhan di tengah masyarakat.

Dedi juga menyebut kesemrawutan yang terjadi murni berasal dari ketidaksiapan internal Disdik Jabar dalam mengoperasikan sistem aplikasi penerimaan murid baru. Polemik ini pun menambah tekanan terhadap pelaksanaan SPMB di Jawa Barat yang sejak awal sudah dibayangi keluhan teknis dan keresahan orang tua.

Source: jabar.inews.id
Exit mobile version