Ribuan warga memadati kawasan Pura Mangkunegaran, Surakarta, untuk menyaksikan Kirab Pusaka Hajad Dalem Mapag 1 Sura Be 1960. Tradisi tahunan ini kembali menjelma menjadi magnet budaya di Kota Bengawan sekaligus menarik perhatian publik dalam jumlah besar.
Kehadiran massa di sepanjang rute kirab memperlihatkan bahwa tradisi Jawa masih memiliki daya tarik kuat di tengah perubahan zaman. Di saat yang sama, perayaan ini juga memberi ruang bagi pergerakan ekonomi lokal dan sektor pariwisata di Surakarta.
Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, hadir mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Ia menilai kirab malam 1 Sura bukan hanya ritual adat, tetapi juga bagian dari upaya menjaga warisan budaya daerah.
“Tentu kami dari Pemprov Jateng mengapresiasi Pura Mangkunegaran, karena ini merupakan bagian nguri-uri budaya dan tradisi. Budaya dan tradisi adalah kekayaan yang kita miliki di Jawa Tengah,” kata Sumarno.
Ia juga menegaskan bahwa pelestarian tradisi di Mangkunegaran dan Kasunanan Surakarta sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Karena itu, kegiatan budaya seperti ini terus didukung dan difasilitasi.
Prosesi kirab dan jalur yang dilalui
Kirab pusaka dimulai sekitar pukul 20.00 WIB setelah KGPAA Mangkunegara X memberikan perintah pemberangkatan. Enam pusaka Mangkunegaran yang telah melalui ritual jamasan kemudian dikirab mengelilingi sejumlah ruas jalan di Surakarta.
Pusaka yang dibawa terdiri atas lima tombak dan satu pusaka yang ditempatkan di dalam jodang atau kotak kaca. Prosesi itu diikuti ribuan peserta yang berjalan kaki tanpa alas sambil menjalani laku tapa bisu sebagai bentuk perenungan spiritual.
Rute kirab dimulai dari Pura Mangkunegaran menuju Ngarsopuro melalui Jalan Diponegoro. Rombongan lalu melintasi Jalan Slamet Riyadi, Jalan Kartini, Jalan RM Said, Jalan Teuku Umar, sebelum kembali ke Pura Mangkunegaran.
Tahun ini, Kirab Malam 1 Sura Mangkunegaran dihadiri sekitar 10 ribu tamu undangan dan diikuti sekitar 2.500 peserta dari berbagai kalangan. Selain keluarga besar Mangkunegaran dan masyarakat umum, sejumlah pejabat pemerintah serta tokoh publik nasional juga hadir dalam prosesi tersebut.
Antusiasme warga dan daya tarik air jamasan
Sumarno menyebut antusiasme masyarakat sebagai tanda bahwa tradisi budaya masih punya tempat kuat di hati publik. Menurut dia, keramaian yang memenuhi jalan juga berpotensi menjadi pemicu pergerakan ekonomi di Kota Surakarta.
Selain menyaksikan kirab, masyarakat juga menantikan pembagian air jamasan pusaka setelah prosesi selesai. Air yang digunakan untuk membersihkan pusaka itu dipercaya membawa keberkahan dan selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi warga.
Salah satu warga, Marimin (54), datang khusus untuk mendapatkan air jamasan. Ia mengaku air itu akan diminum untuk mencari berkah dari prosesi tersebut.
Rangkaian peringatan 1 Sura tahun ini berlangsung lebih sakral melalui tirakatan selama 24 jam yang dibagi dalam tiga fase. Seluruh kegiatan dijadwalkan berakhir pada Rabu pagi dengan meditasi dan Laku Catur Sembah sebagai ritual menyambut datangnya fajar.
