Bappeda Provinsi Jawa Tengah memilih Jateng Fair 2026 sebagai panggung untuk memperlihatkan bahwa perencanaan pembangunan kini bergerak lebih terbuka dan lebih dekat dengan publik. Di stan mereka, lembaga ini tidak hanya menampilkan dokumen dan visual proyek, tetapi juga produk UMKM dari desa-desa dampingan sebagai wujud nyata bahwa pembangunan harus terasa sampai ke ekonomi warga.
Ajang yang berlangsung di PRPP Kota Semarang pada 26 Juni hingga 5 Juli 2026 itu menjadi bagian dari komitmen seluruh Organisasi Perangkat Daerah Pemprov Jawa Tengah dalam mendukung tema “Action for Transformation”. Bagi Bappeda, tema tersebut dibaca sebagai dorongan untuk memperkuat capaian yang sudah ada lewat inovasi, bukan meninggalkan hasil pembangunan sebelumnya.
Peran Bappeda di balik stan pameran
Sekretaris Bappeda Provinsi Jawa Tengah, Adi Raharjo, menegaskan kehadiran Bappeda di Jateng Fair bukan sekadar mengisi ruang pamer. Menurut dia, keikutsertaan itu juga menjadi sarana mengenalkan peran strategis Bappeda sebagai koordinator perencanaan pembangunan daerah yang mengawal arah pembangunan Jawa Tengah.
Adi menjelaskan, transformasi yang dimaksud dalam tema pameran adalah upaya memperkuat keberhasilan melalui inovasi untuk menjawab tantangan pembangunan saat ini. Ia menyampaikan pandangan itu sebelum menghadiri pembukaan Jateng Fair 2026 di Kantor Bappeda Jateng, Jumat (26/6/2026).
Informasi pembangunan ditampilkan lebih terbuka
Di stan pameran, Bappeda menampilkan sejumlah informasi strategis yang berkaitan dengan pembangunan daerah. Materi yang dibawa meliputi maket Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), video proses penyusunan dokumen perencanaan, perkembangan proyek jalan tol, dan program unggulan Speling atau Dokter Spesialis Keliling.
Pengunjung juga dapat mengakses dokumen perencanaan daerah melalui tautan digital. Langkah ini menjadi bagian dari keterbukaan informasi publik yang ingin ditunjukkan Bappeda kepada masyarakat.
UMKM desa dampingan ikut mendapat ruang
Selain memamerkan agenda pembangunan, Bappeda memberi tempat bagi produk unggulan UMKM dari desa-desa dampingan. Produk yang ditampilkan mencakup makanan olahan, kerajinan, dan batik khas dari sejumlah daerah.
Adi menyebut setiap OPD memiliki desa dampingan, dan Jateng Fair dimanfaatkan untuk mengenalkan produk unggulan desa binaan Bappeda kepada masyarakat yang lebih luas. Menurut dia, kehadiran produk UMKM memperlihatkan bahwa pembangunan tidak berhenti pada dokumen perencanaan, tetapi juga hadir dalam pemberdayaan ekonomi lokal.
Harapan agar publik makin dekat dengan pembangunan
Bappeda berharap Jateng Fair 2026 kembali menjadi ajang yang menghidupkan semangat masyarakat seperti pada masa kejayaannya dulu. Lembaga ini juga ingin pengunjung memperoleh informasi tentang program pembangunan, melihat potensi unggulan daerah, dan memahami peran pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan kombinasi informasi perencanaan, visual proyek strategis, dan promosi produk desa binaan, keikutsertaan Bappeda Jateng di Jateng Fair 2026 menunjukkan upaya menghadirkan pembangunan dalam bentuk yang lebih mudah dilihat dan dirasakan publik.
