Jawa Tengah mempercepat penguatan pelabuhan untuk menangkap peluang relokasi industri padat karya dari Vietnam. Di saat investor mulai melirik provinsi ini, kesiapan logistik dan distribusi menjadi penentu agar arus investasi benar-benar masuk dan tidak tertahan di tahap minat.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut ada investor yang sedang menyiapkan pemindahan sejumlah industri padat karya dari Vietnam ke Jawa Tengah. Menurut dia, kondisi di Vietnam yang sudah mulai penuh membuka ruang baru bagi daerah ini untuk menarik investasi sekaligus menciptakan lapangan kerja.
Pelabuhan jadi titik krusial
Pemprov Jawa Tengah menilai penguatan sektor logistik harus bergerak secepat promosi investasi. Luthfi menyebut kebutuhan logistik kontainer nasional mencapai sekitar 10 juta per tahun, dengan sekitar 7 juta kontainer berasal dari Jawa Tengah.
Masalahnya, sebagian besar arus kontainer dari Jawa Tengah masih bergantung pada pelabuhan di luar provinsi. Saat ini, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang baru melayani sekitar 30 persen kebutuhan kontainer, sedangkan sisanya masih mengalir lewat pelabuhan di Jawa Timur dan Jakarta.
Karena itu, Pemprov mendorong percepatan revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas untuk memperbesar kapasitas layanan logistik. Jika perlu, pemerintah daerah juga membuka opsi pelabuhan di Kendal, Batang, Rembang, dan Cilacap.
Opsi dry port disiapkan
Bila pembangunan pelabuhan baru belum memungkinkan, Pemprov menyiapkan dry port di Kendal dan Batang. Skema ini dipandang bisa memperkuat rantai distribusi sambil menunggu infrastruktur pelabuhan utama berkembang.
Luthfi menilai penguatan pelabuhan dan jaringan distribusi akan langsung berdampak pada daya saing kawasan industri. Infrastruktur logistik yang efisien dapat menekan biaya distribusi dan membuat Jawa Tengah lebih menarik di mata investor.
Investasi dan tenaga kerja ikut terdorong
Peluang relokasi industri itu muncul di tengah tren investasi Jawa Tengah yang masih tumbuh. Pada triwulan I 2026, realisasi investasi mencapai Rp23 triliun dengan penyerapan sekitar 92 ribu tenaga kerja, sementara sepanjang 2025 investasi tercatat Rp110 triliun.
Kondisi tersebut menjadi modal penting saat Jawa Tengah bersaing dengan daerah lain untuk merebut industri padat karya. Di tengah keterbatasan fiskal dan dinamika geopolitik global, relokasi dari Vietnam dipandang bisa memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai salah satu pusat industri padat karya nasional.
Dorongan akses pasar internasional
Untuk mengoptimalkan peluang itu, Pemprov Jawa Tengah meminta dukungan Badan Kerja Sama Antar Parlemen DPR RI dalam memperluas akses pasar internasional. Jejaring diplomasi parlemen dinilai bisa membantu memperkenalkan potensi investasi Jawa Tengah ke berbagai negara.
Wakil Ketua BKSAP DPR RI Muhammad Husein Fadlulloh juga melihat peluang ekspor Jawa Tengah akan semakin terbuka. Ia menyinggung perjanjian dagang Indonesia-Uni Eropa yang diproyeksikan berlaku efektif pada 2027 dan diyakini dapat memperluas akses produk Indonesia ke pasar Eropa tanpa hambatan tarif yang signifikan.
“Ini menjadi potensi baru bagi Jawa Tengah untuk membuka pasar ke Eropa. Banyak produk Indonesia nantinya sudah tidak lagi terkendala tarif ketika masuk ke pasar Uni Eropa,” ujarnya.
Source: rri.co.id






