Revitalisasi SLB dan PID Dorong Akses Belajar Anak Berkebutuhan Khusus

Author: Qoo Media

Pemerintah mempercepat perluasan akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus lewat tiga langkah sekaligus: revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, dan penguatan kompetensi guru. Langkah ini diposisikan sebagai cara agar layanan pendidikan yang inklusif tidak hanya tersedia, tetapi juga lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Dalam kunjungan kerja Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq di Jawa Tengah, Kamis, 9 Juli 2026, fokus itu terlihat dari peninjauan SLB M Surya Bangsa Kabupaten Kendal dan SLB Muhammadiyah Weleri. Di satu sisi, fasilitas fisik diperkuat. Di sisi lain, proses belajar didorong masuk ke ruang digital agar guru lebih leluasa menyesuaikan materi.

Revitalisasi SLB untuk memperluas layanan

SLB M Surya Bangsa Kabupaten Kendal mendapat bantuan pembangunan dua ruang kelas baru, satu perpustakaan, dan satu ruang keterampilan. Fasilitas itu ditujukan untuk mendukung layanan bagi 111 peserta didik yang belajar di sekolah tersebut.

Pemerintah juga membangun Unit Sekolah Baru di SLB Muhammadiyah Weleri sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di Jawa Tengah. Kehadiran infrastruktur baru itu diharapkan bisa menjangkau lebih banyak peserta didik sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

Satuan Pendidikan Bantuan/Fasilitas Catatan
SLB M Surya Bangsa Kabupaten Kendal 2 ruang kelas baru, 1 perpustakaan, 1 ruang keterampilan Untuk 111 peserta didik
SLB Muhammadiyah Weleri Unit Sekolah Baru Memperluas akses pendidikan di Jawa Tengah

Papan Interaktif Digital masuk ke ruang belajar SLB

Revitalisasi sekolah juga berjalan seiring dengan transformasi pembelajaran berbasis teknologi. Pemerintah terus mendistribusikan Interactive Flat Panel atau Papan Interaktif Digital ke berbagai satuan pendidikan, termasuk SLB, agar proses belajar mengajar lebih adaptif terhadap kebutuhan peserta didik.

Saat membuka Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran bagi guru SLB di Jawa Tengah, Fajar menyebut distribusi perangkat digital akan terus diperluas pada tahun ini. Ia mengatakan tambahan unit IFP akan dikirim ke masing-masing sekolah dengan mempertimbangkan jumlah siswa atau rombongan belajar.

Fajar menegaskan bahwa distribusi itu bukan sekadar pembagian perangkat. Menurutnya, Papan Interaktif Digital punya makna lebih dalam karena membantu akses anak berkebutuhan khusus terhadap media belajar yang lebih luas.

“Itu bukan semata-mata proyek bagi-bagi IFP, tetapi sebenarnya punya makna yang lebih dalam untuk membantu akses anak-anak berkebutuhan khusus terhadap media belajar,” ujarnya.

Ia juga mengatakan teknologi tersebut memungkinkan guru menghadirkan materi yang lebih variatif sesuai karakteristik peserta didik. “Kehadiran PID ini justru menjembatani mereka untuk bisa mengakses media-media ajar yang lebih variatif sesuai dengan kebutuhannya masing-masing,” ucapnya.

Guru menjadi kunci pendidikan inklusif

Fajar menekankan bahwa pendidikan inklusif menuntut guru memahami karakter dan kebutuhan belajar setiap anak. Dalam pandangannya, yang perlu menyesuaikan pembelajaran adalah guru, bukan peserta didik.

“Dalam pendidikan inklusif itu bukan anaknya yang diminta menyesuaikan kepada guru, tetapi bagaimana guru menyesuaikan dengan kemampuan anak dalam mencerna satu pembelajaran,” tegasnya.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin mengatakan peningkatan kompetensi guru menjadi fondasi penting untuk mendukung transformasi pendidikan inklusif berbasis teknologi. Ia menyebut bimbingan teknis itu dirancang agar transformasi digital di pendidikan tetap inklusif, adaptif, dan berdampak nyata bagi peserta didik penyandang disabilitas.

Selama empat hari pelatihan, guru SLB dibekali pemanfaatan Papan Interaktif Digital, pembuatan video pembelajaran, pengembangan permainan edukatif, dan penggunaan platform Rumah Pendidikan sebagai ruang berbagi praktik baik antarguru. Peserta juga didorong menghasilkan produk pembelajaran inovatif yang bisa langsung diterapkan di sekolah masing-masing.

Peserta bimtek diminta menularkan ilmu

Tidak berhenti di ruang pelatihan, para peserta diharapkan menjadi agen perubahan di komunitas belajar mereka. Mereka diminta membagikan ilmu dan pengalaman yang didapat agar kompetensi guru dalam pembelajaran digital yang inklusif bisa menyebar lebih cepat.

Menjelang akhir kunjungannya, Fajar mengingatkan pentingnya tanggung jawab moral untuk menyalurkan pengetahuan itu ke rekan sejawat. “Peserta yang hadir adalah perwakilan yang dipilih untuk mendapatkan kesempatan mengikuti Bimtek ini. Oleh karena itu Bapak Ibu punya tanggung jawab moral yang besar untuk menularkan atau mengimbaskan apa yang sudah didapatkan kepada kolega-kolega yang lain,” ujarnya.

Dengan revitalisasi sekolah, pemanfaatan teknologi digital, dan peningkatan kapasitas guru, pemerintah menempatkan tiga pilar itu sebagai dasar penguatan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Harapannya, semakin banyak peserta didik penyandang disabilitas bisa memperoleh kesempatan belajar yang setara, bermutu, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Source: www.sultranet.com
Terbaru