Ahmad Luthfi Raih SBBI Award, Investasi Jateng Serap 418 Ribu Tenaga Kerja

Realisasi investasi Jawa Tengah pada 2025 mencapai Rp110,64 triliun dan menyerap 418 ribu tenaga kerja. Capaian tersebut menjadi salah satu latar kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang mengantarkan Gubernur Ahmad Luthfi menerima penghargaan Impactful Regional Leadership.

Penghargaan itu diberikan dalam Solopos Best Brand & Innovation (SBBI) Award 2026 di The Alana Solo, Kabupaten Karanganyar, Jumat (17/7). Apresiasi tersebut menyoroti pembangunan berkelanjutan yang dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi, investasi, serta penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah.

Investasi dan penyerapan tenaga kerja

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong investasi melalui penyiapan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus baru. Ahmad Luthfi menyebut sudah ada 12 daerah yang mengajukan kawasan industri atau ekonomi khusus baru setelah pemerintah provinsi meminta bupati dan wali kota menyiapkannya.

PeriodeRealisasi InvestasiTenaga Kerja Terserap
2025Rp110,64 triliun418 ribu
Triwulan I 2026Rp23,02 triliun94 ribuan

Menurut Ahmad Luthfi, pada triwulan I 2026 realisasi investasi telah mencapai Rp23,02 triliun dengan penyerapan 94 ribuan tenaga kerja. Ia juga menyampaikan angka kemiskinan Jawa Tengah turun menjadi 9,39 persen.

Pengembangan kawasan industri di sepanjang Pantai Utara menjadi salah satu langkah yang dinilai mencerminkan arah kebijakan tersebut. Kawasan Industri Terpadu Batang atau KITB disebut sebagai salah satu contoh percepatan pengembangan kawasan industri di wilayah itu.

Pertumbuhan di atas rata-rata nasional

CEO Solopos Media Group Arif Budi Susilo mengatakan penghargaan diberikan karena kepemimpinan Ahmad Luthfi dinilai memiliki konsep pembangunan berkelanjutan yang kuat dan berorientasi pada dampak nyata. Ia menilai konsep itu belum banyak terlihat, meski pelaksanaannya tercermin dalam sejumlah kebijakan pembangunan daerah.

Arif menyebut pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah telah mencapai 5,89 persen. Angka itu lebih tinggi daripada rata-rata nasional yang disebut berada di level 5,61 persen.

Ia berharap konsistensi kebijakan tersebut dapat memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Mudah-mudahan ini konsisten sehingga impact-nya kepada masyarakat dalam menciptakan lapangan kerja tercapai, dan kesejahteraan masyarakat pada akhirnya juga akan meningkat,” katanya.

Penghargaan kepada Ahmad Luthfi selaras dengan tema SBBI Award ke-27, “Winning Value, Driving Impact”. Tema itu menekankan bahwa sebuah brand tidak hanya menghadirkan inovasi, tetapi juga perlu membangun kepercayaan publik melalui hasil kerja yang dapat dirasakan masyarakat.

UMKM sebagai tulang punggung ekonomi

Selain investasi, pemerintah provinsi menempatkan UMKM sebagai salah satu penopang utama perekonomian Jawa Tengah. Pendampingan dilakukan melalui akses pembiayaan, sertifikasi, digitalisasi pemasaran, serta perluasan pasar agar pelaku usaha dapat meningkatkan skala dan daya saingnya.

Hingga triwulan I 2026, pemerintah provinsi telah membina 199.781 UMKM. Jumlah itu meningkat 1.001 UMKM dibandingkan tahun sebelumnya dan berkaitan dengan penyerapan sekitar 1,38 juta tenaga kerja.

Ahmad Luthfi menyebut jumlah UMKM di Jawa Tengah mencapai 4,8 juta, dengan mayoritas bergerak pada usaha mikro dan kecil. “UMKM kita itu ada 4,8 juta, kebanyakan usaha mikro dan kecil. Kita terus dorong agar mereka naik kelas menjadi usaha menengah atau besar,” jelasnya.

Dalam sambutannya, ia menegaskan pembangunan Jawa Tengah tidak bisa hanya dijalankan oleh pemerintah daerah. Ia mengajak bupati dan wali kota, tokoh agama, tokoh masyarakat, pengusaha, akademisi, masyarakat, dan media untuk bekerja bersama.

Kolaborasi lintas sektor itu disebutnya sebagai semangat collaborative goverment agar program daerah memberi dampak langsung bagi masyarakat. “Maka kita punya semangat collaborative goverment karena kita tidak bisa sendiri-sendiri,” kata Luthfi.

Source: www.cnnindonesia.com
Terkait