Seorang remaja di Moskow, Rusia, baru-baru ini melakukan serangan pisau di sebuah sekolah yang menewaskan satu anak dan melukai seorang petugas keamanan. Insiden ini mengkhawatirkan karena muncul dugaan bahwa aksi tersebut terinspirasi oleh peristiwa bom yang terjadi di SMA 72 Jakarta pada tahun 2025.
Juru Bicara Densus 88, Kombes Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa pelaku menulis frasa "Jakarta Bombing 2025" pada gagang senjatanya. Hal ini memperkuat dugaan adanya kaitan antara serangan di Moskow dengan ledakan bom di sekolah Jakarta tersebut. Densus 88 menilai fenomena ini sebagai contoh bagaimana ideologi radikal mudah menyebar melalui ruang digital.
Akses Mudah ke Paham Radikalisme Melalui Dunia Maya
Remaja yang terpapar paham radikal umumnya tergabung dalam komunitas online seperti grup True Crime Community. Meskipun para anggotanya jarang berjumpa secara langsung, mereka berbagi pola dan inspirasi tindakan kekerasan yang mirip. Kondisi ini menjadi media penyebaran ide ekstrem yang sangat rawan disalahgunakan oleh anak-anak muda.
Upaya Pencegahan Densus 88 dan Penanganan Kasus di Indonesia
Sebelum insiden bom di SMA 72, Densus 88 telah mengidentifikasi sejumlah potensi serangan serupa di berbagai daerah. Salah satunya di Jepara, di mana seorang anak sempat berencana menjadi pelopor aksi kekerasan di lingkungan sekolah dan berencana mengunggah aksinya ke komunitas online tersebut. Upaya pencegahan berhasil dijalankan berkat kerja sama Densus 88 dan Kepolisian Daerah Jawa Tengah.
Tak hanya di Jepara, Densus 88 juga mencegah aksi serupa di Kalimantan Barat pada 8 Desember 2025 dan di Jawa Timur pada 17 Desember 2025. Langkah tegas ini menunjukkan keseriusan aparat dalam mengantisipasi penyebaran radikalisme yang dapat memicu kekerasan massal di institusi pendidikan.
Peran Komite Investigasi Rusia dalam Pengungkapan Kasus
Komite Investigasi Rusia menyoroti hubungan serangan di Moskow dengan insiden bom di Jakarta. Temuan tulisan pada gagang senjata pelaku menegaskan adanya pengaruh lintas negara melalui penyebaran ideologi ekstrem. Kasus ini juga menjadi peringatan akan bahayanya penggunaan dunia maya sebagai alat radikalisasi remaja.
Bahaya Radikalisme di Kalangan Remaja
Kasus kekerasan yang terinspirasi oleh aksi bom di Jakarta menggambarkan bagaimana remaja sangat rentan terpapar paham radikal. Selain faktor kurasi konten di ruang digital, latar belakang keluarga dan pengalaman bullying juga berkontribusi pada kerentanan tersebut. Data dari Densus 88 menunjukkan bahwa 70 anak pernah terjerat dalam komunitas True Crime yang incarannya adalah membangun narasi kekerasan sebagai solusi.
Dengan situasi yang demikian, upaya pencegahan dan edukasi terkait bahaya radikalisme menjadi sangat penting. Pihak keamanan dan pendidikan harus bersinergi dalam mengantisipasi penyebaran paham ini di kalangan pelajar dan remaja. Selain itu, pengawasan konten digital dan pemberian dukungan psikososial kepada remaja berisiko perlu terus ditingkatkan demi menjaga keamanan institusi pendidikan.
Baca selengkapnya di: www.suara.com