Sebuah video viral menampilkan biduan perempuan dengan busana minim sedang berjoget dalam acara peringatan Isra Miraj di Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur. Video yang diunggah melalui akun TikTok @jawa.timur24jam ini menunjukkan ketidaksesuaian antara peringatan keagamaan dengan bentuk hiburan yang ditampilkan.
Penampilan biduan itu mengenakan pakaian hitam yang tergolong minim dan memperlihatkan gerakan joget erotis. Di panggung yang sama, seorang pria berbaju putih juga terlihat ikut berjoget. Latar belakang panggung tampak tulisan peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, sementara pengiring musik mengenakan busana yang cenderung islami.
Selain biduan utama, tampak pula penyanyi lain yang duduk menunggu giliran dengan pakaian terbuka dan minim. Kejadian ini menggugah pertanyaan publik terkait kepatutan konsep acara, bukan sekadar penampilan individu semata. Video tersebut mendapat reaksi beragam dari warganet yang menilai acara ini tidak selaras dengan nilai-nilai keagamaan Isra Miraj.
Sejumlah komentar dari netizen mengekspresikan kekecewaan dan menganggap pertunjukan tersebut merusak kesakralan peringatan Isra Miraj. “Laporin ni pencemaran,” tulis salah satu warganet. Ada pula yang menyatakan, “Walaupun gw bukan ahli ibadah tapi rasanya sakit hati banget liat ke gini ya Rasulullah maafkan kami.”
Beberapa warganet membandingkan sikap terhadap acara ini dengan kajian keagamaan lain yang lebih serius. Seorang netizen menulis, “Kayak gini gak dibubarkan. Kajian yang membahas sesuai Alquran dan Sunnah dibubarkan.” Kritik juga muncul dari sudut pandang etika acara keagamaan, seperti komentar yang menyebut, “Ga etis atuh uy, acara Isra Mi’raj yang berbalut islami, malah dibumbui acara-acara LC.”
Kejadian ini menyoroti pentingnya konsistensi dan sensitivitas dalam menyelenggarakan acara keagamaan. Memadukan unsur hiburan hendaknya tetap memperhatikan adat, budaya, dan nilai-nilai agama yang menjadi momen utama peringatan tersebut. Sebagai sebuah peristiwa yang ditujukan untuk mengenang perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, penyelenggaraan Isra Miraj seharusnya menjaga kesakralan suasana.
Peristiwa viral tersebut menjadi refleksi bagi penyelenggara acara agar lebih bijak dalam menentukan konsep hiburan dalam konteks keagamaan. Respons masyarakat juga memperlihatkan tingginya kepekaan publik terhadap penyimpangan dari norma dan nilai agama. Dalam era digital dan media sosial ini, transparansi dan kesesuaian konten sangat mudah tersebar dan menjadi bahan diskusi luas.
