Korlantas Siapkan One Way Nasional Arus Balik, Jalur Tol Menuju Jakarta Bisa Ditutup Searah

Korlantas Polri membuka opsi memberlakukan one way nasional dari Km 414 hingga Km 70 Tol Trans Jawa untuk menghadapi lonjakan arus balik Lebaran tahap dua. Kebijakan itu masih akan disesuaikan dengan pantauan volume kendaraan yang kembali ke Jakarta dan sekitarnya.

Kepala Korlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho mengatakan keputusan akhir bergantung pada kondisi lalu lintas di lapangan. Jika terjadi kenaikan arus yang tinggi, skema one way nasional akan diterapkan dari titik terjauh di ruas Trans Jawa menuju Cikampek, tetapi bila volume kendaraan tidak setinggi perkiraan maka pengaturan dapat digeser ke titik lain yang lebih dekat ke Jakarta.

Pantauan Arus Balik Masih Jadi Penentu

Agus menyampaikan pemantauan intensif dilakukan sejak gelombang balik mulai bergerak dari timur ke barat. Menurut dia, Kamis malam dan Jumat 27 Maret arus lalu lintas masih terpantau landai, sehingga Korlantas belum tergesa menerapkan pengaturan paling luas.

Ia menegaskan petugas di lapangan akan terus memonitor pergerakan kendaraan menuju ibu kota. Dari hasil evaluasi itu, Korlantas bisa menentukan apakah arus balik tahap dua membutuhkan one way nasional atau cukup dengan pengaturan bertahap seperti yang sudah dilakukan sebelumnya.

Opsi Lokasi Penerapan Masih Fleksibel

Agus menyebut beberapa titik alternatif juga masuk dalam pertimbangan, termasuk Batang dan Kendal. Pilihan ini disiapkan bila bangkitan kendaraan belum setinggi prediksi awal dan rekayasa lalu lintas perlu dimulai dari titik yang lebih dekat.

  1. Km 414 hingga Km 70 jika volume kendaraan meningkat signifikan.
  2. Titik lebih dekat seperti Batang atau Kendal bila kepadatan belum mencapai puncak.
  3. Skema bertahap sesuai evaluasi harian arus balik di jalan tol.

Pendekatan fleksibel ini dipakai agar arus balik tetap mengalir tanpa menimbulkan penumpukan di titik-titik tertentu. Korlantas juga ingin memastikan kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kondisi aktual, bukan hanya berdasarkan perkiraan awal.

Penertiban Kendaraan Sumbu Tiga Masih Berlanjut

Selain menyiapkan one way nasional, Korlantas juga fokus menertibkan kendaraan sumbu tiga yang masih melanggar pembatasan operasional angkutan barang. Agus mengatakan penindakan dilakukan untuk menjaga prioritas ruang jalan bagi pemudik yang sedang kembali ke daerah asal.

Ia mengingatkan pengusaha logistik agar tidak mengoperasikan kendaraan sumbu tiga terlebih dahulu sesuai penegasan dari Kapolri. Langkah itu dinilai penting agar arus balik tidak terganggu oleh kendaraan barang berukuran besar yang berpotensi memperlambat laju lalu lintas.

Korlantas menilai disiplin pengendara dan pelaku logistik menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran perjalanan balik Lebaran. Karena itu, pengawasan tidak hanya menyasar volume kendaraan pribadi, tetapi juga kepatuhan angkutan barang terhadap aturan yang berlaku.

Rekayasa Arus Balik Sudah Dimulai Bertahap

Pada Jumat 27 Maret, Korlantas sudah memberlakukan one way lokal Presisi sebagai bagian dari pengaturan arus balik. Tahap pertama diterapkan dari Km 132 Tol Cipali hingga Km 70 Tol Cikampek Utama, dan skema itu mulai berjalan sejak Jumat pagi.

Setelah itu, one way tahap kedua Presisi juga dibuka dari Km 263 Tol Pejagan hingga Km 70. Pola bertahap ini menunjukkan Korlantas memilih mengambil langkah sesuai kepadatan yang muncul di lapangan, bukan langsung menerapkan penutupan skala besar sekaligus.

Penerapan rekayasa lalu lintas tersebut bertujuan menjaga kelancaran kendaraan yang bergerak menuju Jabodetabek. Dengan sistem ini, arus dari jalur utama Trans Jawa bisa diarahkan agar tidak saling bertabrakan dengan pergerakan kendaraan dari arah sebaliknya.

Data Arus Balik dan Antisipasi Kepadatan

Di tengah pengaturan lalu lintas itu, pemerintah dan operator jalan tol juga mempersiapkan antisipasi terhadap potensi kepadatan di rest area. Jasa Marga sebelumnya mengingatkan bahwa beberapa titik di jalur Trans Jawa arah Jakarta berpeluang padat, terutama di rest area KM 229B dan KM 208B Ruas Palikanci serta KM 164B Ruas Cipali.

Kondisi ini menjadi penting karena rest area sering menjadi titik perlambatan saat arus balik memuncak. Jika volume kendaraan terus naik, penumpukan di tempat istirahat bisa berdampak ke laju kendaraan di lajur utama dan memengaruhi efektivitas one way.

Berikut fokus pengawasan Korlantas pada arus balik tahap dua:

  1. Volume kendaraan menuju Jakarta.
  2. Kepatuhan kendaraan sumbu tiga terhadap pembatasan operasional.
  3. Kepadatan rest area di ruas Trans Jawa.
  4. Kesiapan skema one way nasional atau one way bertahap.

Korlantas menempatkan keselamatan dan kelancaran perjalanan pemudik sebagai prioritas utama selama masa arus balik. Karena itu, keputusan soal one way nasional dari Km 414 hingga Km 70 akan ditentukan dari hasil pemantauan real-time di lapangan, dengan penyesuaian bila pola arus balik ternyata bergerak lebih landai atau justru melonjak lebih cepat dari perkiraan.

Exit mobile version