Kementerian Sosial menyalurkan bantuan senilai Rp2.627.214.435 kepada 1.430 warga kelompok rentan di Sentra Paramita Mataram, Nusa Tenggara Barat. Penyaluran ini menjadi bagian dari Bakti Sosial Kemensos yang diarahkan untuk memperluas akses layanan sosial sekaligus mendorong kemandirian penerima manfaat.
Bantuan tersebut diserahkan Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf kepada warga yang dinilai membutuhkan dukungan rehabilitasi sosial. Sasaran bantuan mencakup penyandang disabilitas, keluarga tidak mampu, hingga warga yang masih terkendala dokumen kependudukan dan administrasi sipil.
Fokus Bantuan untuk Kelompok Rentan
Mensos Saifullah Yusuf, atau Gus Ipul, menyebut bantuan ATENSI sebagai asistensi rehabilitasi sosial untuk kelompok yang paling memerlukan perhatian negara. Ia menekankan bahwa program ini dirancang agar warga yang menghadapi hambatan ekonomi maupun administratif tetap bisa memperoleh layanan yang semestinya.
“Ini memang bantuan ATENSI, asistensi rehabilitasi sosial, untuk kelompok-kelompok rentan yang membutuhkan,” kata Gus Ipul. Ia menambahkan bahwa bantuan itu juga menyasar keluarga yang belum mampu menebus ijazah anak atau belum memiliki surat nikah dan kartu keluarga.
Menurut Kemensos, pendekatan ini tidak hanya menyentuh kebutuhan dasar, tetapi juga persoalan yang kerap membuat warga tertinggal dari layanan publik. Karena itu, bantuan disalurkan dengan menggabungkan aspek kesehatan, kependudukan, disabilitas, dan pemberdayaan.
Ragam Bantuan yang Disalurkan
Jenis bantuan yang diberikan cukup beragam dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok penerima. Di antaranya operasi katarak untuk 500 orang di RS Mandalika dan RSUD Bima, khitanan massal bagi 100 anak, serta alat bantu bagi 100 penyandang disabilitas.
Selain itu, Kemensos juga menyalurkan program tebus ijazah untuk 24 penerima manfaat. Ada pula bantuan rumah sejahtera terpadu dan layanan isbat nikah bagi pasangan yang belum memiliki dokumen legal pernikahan.
Skema bantuan ini menunjukkan bahwa persoalan sosial di NTB tidak hanya terkait aspek ekonomi, tetapi juga menyangkut akses terhadap hak sipil. Dengan begitu, bantuan yang disalurkan tidak berhenti pada pemberian barang atau layanan, melainkan juga membuka jalan bagi penerima untuk mengurus dokumen yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendampingan Administrasi bagi Warga
Salah satu perhatian besar dalam kegiatan ini adalah pendampingan administrasi bagi pasangan yang telah lama menikah tanpa dokumen resmi. Gus Ipul mendampingi langsung proses pengurusan surat nikah dan kartu keluarga untuk pasangan Awaludin dan istrinya.
“Mereka sudah menikah 23 tahun. Sebelumnya tidak punya surat nikah, sebelumnya tidak punya KK,” ujar Gus Ipul. Ia juga menyampaikan bahwa proses tersebut dibantu oleh Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos.
Langkah itu memperlihatkan bahwa program bantuan Kemensos tidak hanya berfokus pada distribusi bantuan fisik. Pemerintah juga mencoba memastikan warga rentan bisa memperoleh pengakuan administratif yang menjadi dasar untuk mengakses layanan publik lainnya.
Menjangkau Warga yang Tak Terlihat
Gus Ipul menegaskan bahwa masih banyak keluarga di daerah pelosok yang kesulitannya tidak tampak di ruang publik. Hambatan sosial, psikologis, dan geografis kerap membuat mereka tidak mampu menyampaikan kebutuhan kepada pemerintah.
“Yang penting hari ini, kita diajak oleh Presiden untuk membantu mereka yang tidak terlihat,” kata Gus Ipul. Ia menambahkan bahwa Kemensos diminta lebih proaktif menjangkau kelompok yang selama ini luput dari perhatian layanan negara.
Dalam kegiatan yang sama, Mensos juga meninjau fasilitas pendidikan di Sekolah Rakyat. Ia mengapresiasi perkembangan para siswa yang dinilai makin percaya diri, lebih komunikatif, dan mulai menunjukkan bakat mereka setelah beberapa bulan mengikuti program.
Di hadapan penerima manfaat, Gus Ipul berharap bantuan yang diterima dapat menjadi modal awal untuk membangun kemandirian. Ia menyampaikan harapan agar keluarga penerima bantuan bisa tumbuh lebih kuat dan lebih berdaya dalam jangka panjang.
Acara penyaluran bantuan di Mataram itu juga dihadiri jajaran Kemensos, Pemerintah Provinsi NTB, serta perwakilan tokoh masyarakat setempat. Kegiatan ini memperlihatkan kolaborasi lintas pihak dalam mendukung layanan sosial bagi warga rentan di Nusa Tenggara Barat.
