
Ade Armando resmi mengundurkan diri dari keanggotaan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan menegaskan keputusan itu ia ambil untuk mencegah kritik terhadap dirinya ikut menyeret partai. Pernyataan tersebut disampaikan di Kantor DPP PSI, Jakarta, dan ia menekankan bahwa langkah itu bukan karena konflik internal.
Ade mengatakan pengunduran diri tersebut ia pilih sebagai bentuk tanggung jawab pribadi atas berbagai kontroversi yang selama ini melekat pada namanya. Ia juga meminta agar serangan yang ditujukan kepadanya tidak lagi diarahkan ke PSI maupun kader lain di partai tersebut.
Tidak Ada Konflik dengan PSI
Dalam konferensi pers, Ade menegaskan hubungannya dengan PSI tetap baik. Ia menyebut, “Tidak ada konflik di antara saya dengan PSI, tapi saya mundur menurut saya demi kebaikan bersama.”
Pernyataan itu menunjukkan bahwa keputusan mundur tidak lahir dari pertengkaran politik di internal partai. Ade justru ingin menjaga agar nama PSI tidak ikut terdampak oleh polemik yang muncul dari sikap dan ucapannya.
Ia mengakui bahwa dirinya kerap menjadi sasaran kritik karena komentar-komentarnya terhadap berbagai pihak. Namun, menurutnya, kritik itu belakangan meluas dan ikut menyasar orang-orang di PSI, termasuk Grace Natalie.
Alasan Ade Memilih Mundur
Ade menilai langkah keluar dari PSI menjadi cara paling tepat untuk memisahkan dirinya dari dampak politik yang mungkin timbul. Ia ingin memastikan bahwa keberadaan dirinya tidak menjadi beban bagi partai yang selama ini disebutnya tidak ikut bertanggung jawab atas pernyataannya.
Ia juga meminta agar kritik yang mungkin muncul setelah pengunduran diri ini tidak lagi dibawa ke PSI. “Sehingga kalaupun saya sehabis acara ini misalnya masih melakukan kritik-kritik yang tidak bisa diterima oleh pihak mana pun, tolong jangan serang PSI-nya. PSI tidak tahu apa-apa soal ini,” ujarnya.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Ade ingin menutup ruang bagi persepsi bahwa PSI ikut terlibat dalam sikap politik pribadinya. Ia menilai tanggung jawab atas ucapannya seharusnya berhenti pada dirinya sendiri.
PSI Dinilai Tidak Layak Menanggung Dampak
Ade juga menyinggung sikap pimpinan PSI yang, menurutnya, tetap memberi dukungan meski dirinya sering menuai sorotan publik. Meski begitu, ia merasa tidak adil jika partai dan jajaran pengurus harus ikut menanggung akibat dari pernyataan yang ia sampaikan.
“Pimpinan-pimpinan PSI selalu mengatakan bahwa mereka selalu bersedia atau mereka selalu berada bersama saya. Tapi tidak adil ya, kalau bapak-bapak, ibu-ibu di PSI harus juga menanggung akibat dari apa yang saya sampaikan,” katanya.
Dengan alasan itu, Ade memilih memisahkan diri dari PSI sebagai bentuk tanggung jawab moral. Langkah tersebut ia sampaikan terbuka agar publik memahami bahwa keputusan itu tidak terkait perpecahan di tubuh partai, melainkan upaya menjaga agar kritik terhadap dirinya tidak berujung pada serangan terhadap PSI dan orang-orang di dalamnya.
Source: www.suara.com








