Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Langka di Dunia dan Sarat Makna Keadilan

Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, sebagai bentuk penghormatan negara atas perjuangan buruh. Dalam sambutannya, Prabowo menyebut peresmian itu sebagai peristiwa langka yang disebutnya mungkin belum pernah ada di dunia.

Museum tersebut dibangun untuk mengenang Marsinah sebagai simbol keberanian perempuan muda yang memperjuangkan hak-hak kaum buruh. Prabowo menilai kehadiran museum ini bukan hanya untuk mengenang satu sosok, tetapi juga untuk mengingat perjuangan mereka yang lemah, miskin, dan tidak memiliki kekuatan maupun kekuasaan.

Prabowo: museum buruh ini peristiwa langka

Prabowo menegaskan bahwa museum dengan tema perjuangan buruh merupakan hal istimewa. Ia bahkan menyebutnya sebagai sesuatu yang “langka” dan kemungkinan baru pertama kali ada di dunia, meski ia meminta hal itu tetap dicek kebenarannya.

Ia mengatakan, “Ini adalah saya kira peristiwa yang langka, mungkin di seluruh dunia belum pernah ada museum buruh seperti ini. Luar biasa.” Pernyataan itu disampaikan di hadapan para hadirin saat peresmian berlangsung.

Bagi Prabowo, museum ini memiliki makna simbolik yang kuat. Ia menilai bangunan itu menjadi tonggak peringatan atas keberanian Marsinah dalam membela hak-hak buruh yang selama ini kerap terpinggirkan.

Marsinah sebagai lambang perjuangan kaum lemah

Dalam pidatonya, Prabowo juga menempatkan Marsinah sebagai lambang perjuangan orang-orang kecil. Ia menyebut perjuangan Marsinah mencerminkan keberpihakan kepada mereka yang tidak memiliki akses terhadap kuasa dan perlindungan yang memadai.

Menurut Prabowo, museum ini berdiri sebagai pengingat bahwa perjuangan untuk keadilan sosial masih relevan. Ia menekankan bahwa Marsinah bukan hanya tokoh lokal, melainkan simbol bagi perjuangan kaum buruh di seluruh tanah air.

Prabowo juga mengingatkan bahwa membangun negara dan bangsa bukan pekerjaan singkat. Ia menyebut proses itu selalu penuh tantangan, kesulitan, dan perbedaan pandangan tentang falsafah bernegara.

Kaitkan tragedi Marsinah dengan Pancasila

Presiden kemudian menyoroti tragedi yang menimpa Marsinah. Ia menilai peristiwa itu seharusnya tidak pernah terjadi jika seluruh elemen bangsa benar-benar memahami Pancasila, terutama sila keadilan sosial.

Prabowo mengatakan bahwa Indonesia bisa bersatu karena Pancasila, meski terdiri dari ratusan suku, bahasa daerah, agama, dan latar belakang yang berbeda. Ia menekankan bahwa sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menjadi dasar penting dalam kehidupan bernegara.

Ia juga mengaitkan prinsip itu dengan kehidupan ekonomi. Menurut Prabowo, perekonomian nasional harus disusun berdasarkan asas kekeluargaan, di mana yang kuat membantu yang lemah dan yang kaya turut mendorong yang miskin.

Pesan tentang negara dan keadilan sosial

Dalam kesempatan itu, Prabowo menyebut bahwa buruh, petani, dan nelayan merupakan bagian dari keluarga besar bangsa. Ia menegaskan bahwa negara harus hadir melindungi mereka yang bekerja keras namun kerap berada di posisi rentan.

Prabowo juga menceritakan bahwa ia sempat melihat kamar peninggalan Marsinah yang masih dirawat. Dari situ, ia menyampaikan keprihatinan atas tindakan kejam yang menurutnya didorong oleh keserakahan demi keuntungan semata.

Baginya, keberadaan Museum dan Rumah Singgah Marsinah bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga memperkuat pesan bahwa perjuangan buruh dan keadilan sosial tetap menjadi bagian penting dari perjalanan Indonesia.

Source: www.suara.com
Terkait