Kasus Langka Kebakaran Misterius Sleman, UGM Telusuri Jejak Gas Hidrogen Dari Limbah Ayam

Tim peneliti Universitas Gadjah Mada menempatkan kasus kebakaran misterius yang berulang di Padukuhan Mriyan X, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman, sebagai fenomena yang sangat langka. Hingga kini, penyebab pasti api yang muncul puluhan kali di rumah warga itu masih terus diteliti.

Anggota tim peneliti dari Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, Sarju Winardi, menegaskan bahwa kasus tersebut belum ditemukan padanannya di lokasi lain. Ia menyebut pola kemunculan api dan dugaan gas yang terlibat membuat peristiwa itu masuk kategori khusus.

Indikasi gas dari limbah organik

Hasil sementara penelitian menunjukkan adanya indikasi kuat gas hidrogen di lokasi kebakaran. Gas itu diduga muncul dari proses fermentasi limbah organik hasil pemotongan ayam yang telah berlangsung selama 16 tahun di rumah milik Mutfiana atau Fia dan Agus.

Sarju menjelaskan, limbah seperti darah, bulu ayam, dan sisa organik lain berpotensi memicu aktivitas bakteri anaerob. Proses itu dapat menghasilkan gas mudah terbakar yang kemudian menjadi salah satu dugaan pemicu kemunculan api.

Meski demikian, tim belum bisa langsung menyimpulkan sumber gas tersebut. Sarju menilai pertanyaan terbesar justru terletak pada alasan mengapa fenomena itu hanya terjadi di rumah tersebut, padahal pola pengelolaan limbah pemotongan ayam serupa juga ditemukan di tempat lain.

Dugaan keterlibatan gas fosfin

Selain hidrogen, peneliti juga menduga ada keterlibatan gas fosfin atau PH3. Dalam kondisi tertentu, gas itu dapat memicu pembakaran spontan dan memperbesar risiko munculnya api.

Sarju mengatakan kombinasi gas hidrogen dan fosfin memang dikenal dalam dunia saintifik sebagai pemicu kebakaran pada situasi tertentu. Ia menambahkan bahwa rentang waktu 16 tahun usaha pemotongan ayam memberi peluang terbentuknya gas dalam jumlah yang memungkinkan.

Namun, dugaan itu masih bersifat asumsi ilmiah dan belum menjadi kesimpulan akhir. Hal yang sudah dipastikan sejauh ini baru keberadaan gas hidrogen berdasarkan pembacaan alat di lapangan.

Penanganan di lokasi sambil menunggu analisis lanjutan

Untuk sementara, tim peneliti UGM telah membuat empat titik penanganan di area yang diduga menjadi sumber keluarnya gas. Tindakan itu dilakukan dengan penyiraman cairan basa atau air kapur di sekitar lokasi.

Langkah tersebut dipakai untuk meredam potensi keluarnya gas sembari menunggu hasil penelitian lanjutan dan analisis laboratorium. Tim masih terus berdiskusi untuk memastikan penyebab utama teror api yang telah berlangsung hampir dua pekan itu.

Sarju juga menekankan bahwa fenomena serupa memang dikenal dalam konteks material organik membusuk, seperti timbunan sampah, bangkai hewan, hingga area pemakaman. Tetapi kasus di Seyegan dinilai berbeda karena berkaitan dengan limbah pemotongan ayam dan belum banyak dijumpai dalam catatan ilmiah.

Source: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button