BLT DBHCHT Jateng Cair Rp 51 Miliar, 85 Ribu Buruh Rokok Masih Menunggu Giliran

Author: Qoo Media

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyalurkan BLT Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau atau DBHCHT 2026 senilai Rp 51 miliar untuk 85.000 pekerja sektor pertembakauan. Bantuan ini menjadi salah satu langkah Pemprov Jateng untuk menjaga daya beli buruh yang menggantungkan penghasilan pada industri hasil tembakau dan sektor pendukungnya.

Penyaluran berlangsung di 33 kabupaten/kota, 136 kecamatan, dan 663 desa/kelurahan. Dari total penerima itu, Kota Tegal dan Kabupaten Pekalongan tidak mendapat alokasi dari provinsi karena kebutuhan penerima sudah dipenuhi anggaran daerah masing-masing.

Pencairan berjalan lewat PT Pos Indonesia

Bantuan finansial ini disalurkan pada 23 Juni hingga 8 Juli 2026 melalui kerja sama dengan PT Pos Indonesia. Hingga Senin pagi, realisasi penyaluran telah mencapai Rp 28,9 miliar atau 56,84 persen, dengan 48.313 penerima manfaat sudah menerima bantuan.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut total penerima di provinsi itu mencapai 85.000 orang dengan nilai Rp 51 miliar. Ia menegaskan bahwa bantuan tersebut diprioritaskan untuk buruh pabrik rokok, buruh tani tembakau, dan buruh tani cengkeh.

Rp 600 ribu untuk dua bulan

Setiap penerima manfaat mendapatkan Rp 600 ribu untuk alokasi dua bulan. Menurut Ahmad Luthfi, dana itu ditujukan untuk membantu kebutuhan hidup masyarakat, termasuk belanja pangan dan kebutuhan sekolah anak.

Ia juga menyebut BLT DBHCHT sebagai hak masyarakat pekerja industri hasil tembakau yang harus diberikan pemerintah. Dalam penyerahan simbolis, Luthfi turun langsung meninjau proses distribusi di Pabrik PT Djarum Brak Karangbener.

Kudus jadi salah satu penerima terbesar

Ahmad Luthfi memaparkan bahwa Kabupaten Kudus mendapat porsi besar dari program ini. Di wilayah itu, tercatat 26.565 penerima dengan nilai bantuan Rp 15,9 miliar, dan sekitar 5.069 di antaranya merupakan pekerja PT Djarum.

Kehadiran gubernur di lapangan menjadi bagian dari pengawasan langsung atas proses penyaluran. Ia mengatakan masyarakat tampak senang saat bantuan itu diberikan secara langsung.

Bantuan langsung terasa di rumah tangga pekerja

Sejumlah penerima mengaku bantuan tunai ini membantu kebutuhan sehari-hari keluarga mereka. Wiwin Winarni, pekerja asal Trengguli, Kabupaten Demak, menyebut dana tersebut bisa dipakai untuk menyambung kebutuhan dapur.

Sementara itu, Siti Zulaikah, buruh pengemasan asal Gembong, Pati, berencana menggunakan bantuan itu untuk keperluan sekolah anak-anaknya. Ia menyebut anaknya membutuhkan perlengkapan sekolah seperti sepatu dan tas menjelang kenaikan kelas.

Terbaru