Setiap anyaman bambu, ukiran kayu, hingga kain tradisional dari Jawa Barat menyimpan identitas budaya yang kuat. Namun, nilai itu kini menghadapi ujian besar karena pasar bergerak cepat dan selera konsumen terus berubah.
Di titik ini, kriya Jabar tidak cukup hanya mengandalkan keindahan tradisi. Pengrajin dituntut menjadikan warisan budaya sebagai dasar untuk berinovasi agar produk tetap relevan dan punya daya saing.
Tradisi yang kuat, tetapi tidak bisa berjalan sendiri
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menilai pengrajin perlu keluar dari zona nyaman. Dorongan itu muncul karena produk kriya yang bertahan dengan pola lama berisiko kehilangan ruang di tengah persaingan pasar global.
Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menegaskan bahwa kekayaan budaya lokal harus dipadukan dengan teknologi digital. Ia mengatakan, “Saya meminta untuk terus meningkatkan inovasi, karena Jabar memiliki kekayaan budaya dan tradisi. Jika dikaitkan dengan pemanfaatan teknologi digital akan meningkatkan pendapatan ekonomi dari sektor kriya ini,” di Bandung, Senin (29/6/2026).
Pernyataan itu menempatkan kriya Jabar di persimpangan penting. Satu sisi, tradisi memberi identitas dan nilai sejarah, tetapi sisi lain, inovasi menentukan apakah produk itu masih dicari pasar.
PKJB 2026 sebagai ruang perubahan
Upaya mendorong perubahan itu diwujudkan lewat Pekan Kerajinan Jawa Barat (PKJB) 2026. Ajang ini tidak hanya menampilkan produk, tetapi juga menjadi ruang untuk mengangkat kriya dan budaya lokal agar punya nilai ekonomi yang lebih besar.
Erwan menyebut PKJB sebagai bagian dari langkah menyukseskan visi “Jabar Istimewa”. Melalui ajang ini, produk kriya didorong naik kelas, dari sekadar barang pajangan menjadi komoditas yang kuat secara nilai budaya dan modern dalam kemasan.
Pameran seperti ini juga membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk melihat arah pasar. Dengan begitu, pengrajin bisa membaca kebutuhan konsumen tanpa harus melepaskan karakter khas daerah.
Dukungan dari sektor keuangan dan ekosistem usaha
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat, Junanto Herdiawan, menilai langkah Pemprov Jabar strategis. Ia melihat industri kreatif, terutama mode dan kriya, punya efek berantai yang luas terhadap ekonomi masyarakat.
Junanto menjelaskan, industri ini melibatkan banyak pihak dalam satu rantai kerja. Ia menyebut pengrajin, penjahit, desainer, pelaku konveksi, fotografer, model, hingga pelaku pemasaran digital sebagai bagian dari ekosistem yang saling terhubung.
Dukungan itu juga diarahkan pada penguatan UMKM melalui tiga pilar. Pertama, peningkatan kapasitas lewat pelatihan teknis produksi dan manajemen usaha.
Kedua, digitalisasi untuk produksi dan pemasaran melalui e-commerce. Ketiga, akses pembiayaan dan pasar agar UMKM lebih mudah mendapat modal dan menjangkau pasar luar negeri.
Inovasi tidak harus memutus akar budaya
Persoalan utama kriya Jabar bukan memilih tradisi atau inovasi secara ekstrem. Keduanya justru bisa berjalan bersama selama inovasi dipakai untuk menjaga relevansi, bukan menghapus identitas lokal.
Pengrajin kini perlu menyesuaikan diri dengan tren warna global, desain yang lebih fungsional, dan standar keberlanjutan yang makin diperhatikan konsumen internasional. Di sisi lain, ciri khas lokal tetap menjadi pembeda utama yang memberi nilai pada produk.
Dalam konteks itu, digitalisasi menjadi alat penting untuk mempercepat adaptasi. Teknologi membantu pengrajin membaca pasar, memperluas jangkauan promosi, dan mempertemukan produk lokal dengan konsumen yang lebih luas.
Arah baru bagi kriya Jawa Barat
Jawa Barat memiliki modal budaya yang besar, tetapi modal itu baru berdampak luas jika dikelola dengan strategi yang tepat. Karena itu, penguatan kapasitas pelaku usaha, inovasi desain, dan akses pasar menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan.
Di tengah perubahan pasar global, kriya Jabar berada pada fase penentuan. Tradisi tetap menjadi akar, sementara inovasi menjadi jalan agar karya-karya lokal itu terus hidup, dipakai, dan memberi nilai ekonomi yang lebih kuat bagi masyarakat.
Source: mediaindonesia.com






