Trump Ancam Hantam Pembangkit Listrik Iran, Eskalasi Baru di Tengah Ketegangan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menaikkan tensi dengan Iran setelah menyebut serangan berikutnya bisa menyasar pembangkit listrik dan jembatan. Ancaman itu ia sampaikan jika Teheran tidak segera membuat kesepakatan dengan Washington.

Dalam wawancara dengan Fox News pada Selasa (14/7) waktu setempat, Trump mengatakan pekan depan akan menjadi fase yang sangat buruk bagi Iran. Ia bahkan menegaskan, “Minggu depan akan menjadi sangat buruk bagi mereka karena minggu depan gilirannya pembangkit listrik. Minggu depan gilirannya jembatan.”

Trump juga memberi sinyal bahwa skala serangan akan terus diperluas jika Iran tetap menolak berunding. “Kita akan menghancurkan semua pembangkit listrik mereka. Kita akan menghancurkan semua jembatan mereka kecuali mereka mau duduk di meja perundingan dan bernegosiasi,” katanya.

Serangan Berlanjut dan Blokade Laut

Ancaman itu muncul ketika pasukan AS disebut telah melancarkan serangan terhadap Iran selama empat hari berturut-turut. Washington juga memberlakukan kembali blokade angkatan laut di pelabuhan Iran, yang berlaku untuk kapal-kapal yang menuju maupun meninggalkan wilayah tersebut.

Langkah militer dan blokade itu diambil di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk. Serangkaian serangan terhadap kapal tanker, pangkalan militer, dan infrastruktur strategis sebelumnya telah memicu kekhawatiran akan perluasan konflik.

Komando Pusat Militer AS atau CENTCOM menyatakan operasi militer tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz. Di sisi lain, Teheran memperluas serangan balasan terhadap sejumlah sekutu AS di Timur Tengah.

Dampak ke Pasar Energi

Kekhawatiran pasar langsung terlihat di sektor energi global. Dilansir DW, harga minyak Brent pada Selasa (14/7) naik lebih dari 2 persen dan mendekati 85 dolar AS per barel.

Harga minyak mentah juga mendekati 80 dolar AS atau sekitar Rp1,4 juta per barel. Pasar bereaksi terhadap risiko gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz, salah satu jalur transit minyak terpenting di dunia.

Militer AS turut menyebut lebih dari 50.000 personel masih disiagakan di Timur Tengah. Jumlah itu menunjukkan bahwa konfrontasi antara Washington dan Teheran belum mereda dan masih berpotensi memicu gejolak lanjutan di kawasan maupun pasar energi.

FaktaRincianKeterangan
Ancaman TrumpPembangkit listrik dan jembatan IranJika tidak ada kesepakatan
Serangan ASBerlangsung 4 hari berturut-turutMenurut laporan yang dikutip
Blokade lautDi pelabuhan IranBerlaku untuk kapal masuk dan keluar
BrentNaik lebih dari 2 persenMendekati 85 dolar AS per barel
Minyak mentahMendekati 80 dolar ASSekitar Rp1,4 juta per barel
Source: news.detik.com
Terkait