Menteri Negara RI Otto Iskandar Dinata Diculik, Jejaknya Hilang Sejak 1945

Otto Iskandar Dinata, Menteri Negara pada masa awal Republik Indonesia, diculik kelompok bersenjata pada 19 Desember 1945. Setelah dibawa dari Tangerang menuju kawasan Pantai Mauk, jejak tokoh yang dikenal sebagai Otista itu tidak pernah ditemukan.

Kasus ini tidak hanya menyisakan duka bagi pemerintahan muda Indonesia, tetapi juga misteri yang bertahan hingga kini. Penculikan tersebut diduga berkaitan dengan propaganda untuk memecah persatuan di tengah situasi keamanan yang belum stabil.

Tuduhan yang Mengiringi Penculikan

Dalam buku Oto Iskandar di Nata: The Untold Stories karya Iip D. Yahya, penculikan Otista disebut dipicu isu yang disebarkan agen-agen Netherlands Indies Civil Administration atau NICA. Otto dituduh sebagai mata-mata Belanda, tuduhan yang diduga sengaja diembuskan untuk menyingkirkan tokoh yang dapat memperkuat persatuan bangsa.

Di lingkungan Laskar Hitam, beredar pula tudingan bahwa Otto menguasai dana sebesar satu juta gulden Belanda. Menurut catatan Iip D. Yahya, tuduhan itu dipakai untuk memperkuat narasi bahwa Otto berpihak kepada Belanda.

Dana tersebut sebenarnya merupakan hasil rampasan perang dari Jepang yang masih menggunakan mata uang gulden Belanda. Namun, isu itu berkembang pada masa ketika kecurigaan antarkelompok bersenjata mudah memicu konflik.

Tokoh Pergerakan yang Masuk Pemerintahan

Sebelum menjadi menteri, Otto Iskandar Dinata telah lama dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional. Buku Si Jalak Harupat, Biografi Otto Iskandardinata mencatat bahwa ia aktif di organisasi Boedi Oetomo sejak dekade 1920-an.

Menjelang kemerdekaan, ia menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI. Otto juga duduk dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno mengangkatnya sebagai Menteri Negara. Pemerintahan yang baru berdiri saat itu menghadapi persoalan besar, terutama kondisi keamanan yang belum terkonsolidasi.

Otto mendapat tugas membantu pembentukan kekuatan militer nasional. Tugas itu rumit karena kelompok bersenjata yang berasal dari bekas PETA, Heiho, serta eks tentara KNIL memiliki kepentingan dan loyalitas yang berbeda.

PeristiwaWaktuKeterangan
Otto diangkat Menteri NegaraSetelah 17 Agustus 1945Ditugaskan membantu pembentukan kekuatan militer nasional.
Penculikan Otto19 Desember 1945Diculik Laskar Hitam di Tangerang dan dibawa ke Pantai Mauk.
Penetapan tanggal wafat20 Desember 1945Ditetapkan pemerintah karena keberadaannya tidak pernah dipastikan.

Dibawa ke Pantai Mauk dan Tidak Pernah Kembali

Ketegangan di antara berbagai kelompok bersenjata mencapai puncaknya ketika Laskar Hitam menculik Otto di Tangerang. Kelompok tersebut kemudian membawanya ke kawasan Pantai Mauk, tetapi tidak ada kepastian mengenai apa yang terjadi setelahnya.

Otto diduga dibunuh dan jasadnya dibuang ke laut. Meski demikian, tidak pernah ditemukan bukti yang dapat memastikan dugaan tersebut maupun lokasi jasadnya.

Karena tak ada kepastian tentang keberadaannya, pemerintah menetapkan 20 Desember 1945 sebagai tanggal wafat Otto Iskandar Dinata. Penetapan itu dilakukan sehari setelah peristiwa penculikan yang mengakhiri kiprahnya dalam pemerintahan Republik yang baru berdiri.

Pemakaman Simbolis di Bandung

Tujuh tahun setelah penculikan, pemerintah menggelar pemakaman simbolis untuk Otto di Bandung. Peti yang dimakamkan tidak berisi jasadnya, melainkan pasir dan air laut sebagai bentuk penghormatan.

Makam simbolis itu berada di Monumen Pasir Pahlawan. Keberadaannya menjadi penanda bagi seorang tokoh perjuangan yang hilang tanpa jejak di tengah pergolakan awal kemerdekaan Indonesia.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terkait