ID FOOD Siapkan 27 Ribu Warung Pangan untuk Menahan Gejolak Harga

Author: Qoo Media

PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID FOOD menyiapkan jaringan Warung Pangan sebagai instrumen untuk menjaga harga komoditas tetap terjangkau di tengah potensi gejolak pasar. Program ini menyasar sekitar 27 ribu warung yang akan mendapat intervensi dalam ekosistem distribusi pangan nasional.

Langkah tersebut menempatkan pedagang pasar tradisional sebagai mitra utama stabilisasi harga, bukan sekadar titik penyaluran barang. Dengan pasokan yang lebih langsung, rantai distribusi diharapkan tidak terlalu panjang sehingga tekanan harga di tingkat konsumen dapat dikurangi.

Memanfaatkan Jaringan Pasar Tradisional

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengatakan Indonesia telah memiliki jaringan pasar tradisional yang tersebar di 514 kabupaten dan kota. Namun, banyak pedagang masih kesulitan memperoleh akses pasokan barang secara langsung.

Kondisi itu membuat jalur distribusi memanjang dan berpotensi menaikkan harga yang dibayar masyarakat. Menurut Hanif, Warung Pangan dapat menjadi instrumen penjagaan harga tanpa pemerintah harus terus mengandalkan operasi pasar dalam skala besar.

Peluncuran program ini berlangsung di Pasar Tebet Timur, Jakarta, pada Senin, 20 Juli 2026. Dalam acara tersebut, Hanif menekankan dua agenda yang diemban ID FOOD, yakni menjaga stabilitas serta keterjangkauan pangan dan menjalankan usaha perdagangan pangan.

Warung Pangan tidak hanya dirancang untuk menyediakan komoditas yang menerima subsidi pemerintah. Jaringan ini juga akan menyalurkan produk komersial yang memiliki pengaruh terhadap inflasi.

Menurut laporan Medcom.id, pemerintah ingin memakai infrastruktur pasar tradisional yang telah tersedia saat harga bergejolak. Intervensi melalui pedagang dinilai dapat menjangkau masyarakat secara lebih langsung dibandingkan penyelenggaraan pasar murah yang berulang.

Berbeda Peran dengan KDKMP

Warung Pangan diposisikan sebagai pelengkap Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih atau KDKMP, bukan pesaing bagi program tersebut. Pembagian peran ini diarahkan agar penyaluran barang subsidi dan stabilisasi komoditas komersial dapat berjalan berdampingan.

Jaringan Fokus Peran Sasaran Utama
Warung Pangan Stabilisasi harga komoditas di luar barang subsidi Pedagang pasar sebagai mitra distribusi
KDKMP Penyaluran barang subsidi pemerintah Koperasi desa/kelurahan

Direktur Utama ID FOOD Ghimoyo menjelaskan KDKMP akan berfokus pada penyaluran barang subsidi pemerintah. Sementara itu, ID FOOD menjalankan mandat stabilisasi harga komoditas di luar kelompok barang tersebut melalui Warung Pangan.

Ghimoyo menyebut kolaborasi dengan KDKMP juga membuka peluang bagi ID FOOD untuk berperan sebagai agregator. Barang dari sumber-sumber di desa tertentu dapat dihimpun dan diolah sesuai dengan kondisi pasokannya.

“Dengan adanya KDKMP kita berkolaborasi, kita bisa juga sebagai agregator untuk ada sumber-sumber di desa-desa tertentu yang sesuai dengan kondisinya sehingga kita bisa olah,” kata Ghimoyo. Skema tersebut menegaskan bahwa kedua jaringan diproyeksikan saling menopang dalam distribusi pangan.

Komitmen Menjual Sesuai HET

Pedagang yang menjadi mitra Warung Pangan akan memiliki komitmen untuk menjual produk sesuai Harga Eceran Tertinggi atau HET. ID FOOD memberikan harga pasok yang lebih rendah dengan syarat pedagang tidak menjual melebihi batas harga tersebut.

Ghimoyo mengatakan ketentuan itu penting saat terjadi lonjakan harga di pasar. “Misalnya ada terjadi gejolak tinggi, dia nggak boleh naikin karena dari kita harganya udah cukup murah,” ujarnya.

Model kemitraan ini membuat Warung Pangan tidak hanya berfungsi sebagai saluran perdagangan, tetapi juga titik pengendalian harga di tingkat ritel. Efektivitasnya akan bergantung pada kelancaran pasokan dan kepatuhan mitra terhadap HET yang ditetapkan.

Source: www.medcom.id
Terbaru