Amerika Serikat bersiap menaikkan tekanan dagang terhadap puluhan mitranya melalui susunan tarif baru yang menyasar hingga 60 negara. China, India, dan Jepang termasuk ekonomi besar yang berpotensi menghadapi bea masuk lebih tinggi sebesar 12,5%.
Langkah tersebut muncul ketika masa berlaku bea masuk global sementara 10% dijadwalkan berakhir pada pekan ini. Kebijakan baru itu berpotensi memicu aksi balasan dari negara mitra dan kembali meningkatkan ketegangan perdagangan internasional.
Tarif Baru Dikaitkan dengan Isu Kerja Paksa
Utusan Perdagangan AS Jamieson Greer memberi sinyal bahwa pemerintah AS telah menyiapkan tindakan perdagangan baru berbasis isu kerja paksa. Menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip Channel News Asia, kebijakan ini menjadi bagian dari upaya Washington membangun kembali agenda perdagangan setelah adanya pembatalan hukum sebelumnya.
Greer mengatakan tindakan tersebut dapat diumumkan dalam waktu dekat. “Kami memperkirakan akan melihat beberapa tindakan segera,” ujar Greer ketika dimintai kepastian mengenai waktu pemberlakuan bea masuk baru.
Pemerintah AS menilai banyak negara belum memiliki aturan atau penegakan yang memadai untuk mencegah perdagangan barang hasil kerja paksa. Greer menegaskan bahwa AS telah memiliki undang-undang yang melarang perdagangan barang dengan kerja paksa.
“Negara-negara lain, sebagian besar tidak memiliki undang-undang tersebut, dan bagi yang memiliki pun tidak benar-benar menegakkannya,” tegas Greer. Ia juga menyebut tindakan baru itu dipastikan akan mencakup mayoritas porsi perdagangan AS dengan negara luar.
Analis memperkirakan tarif berbasis isu kerja paksa akan berada pada kisaran 10% hingga 12,5%. Skema ini diproyeksikan menggantikan tarif global sementara 10% yang akan kedaluwarsa pada hari Jumat.
| Kelompok Mitra Dagang | Tarif yang Direncanakan | Contoh Negara |
|---|---|---|
| Dinilai telah mengambil langkah penanganan kerja paksa | 10% | Kanada, Uni Eropa, Meksiko, Taiwan, Inggris |
| Lebih dari 40 ekonomi utama lainnya | 12,5% | China, India, Jepang |
Uni Eropa sebelumnya menolak dasar pengenaan tarif dengan alasan kerja paksa tersebut. Blok itu menilai kebijakan tarif tersebut tidak memiliki dasar yang dapat dibenarkan.
Kanada Dihadapkan pada Tekanan Lebih Besar
Di luar skema umum itu, Washington juga telah mengumumkan tarif 50% terhadap komoditas Kanada yang direncanakan berlaku dalam 30 hari. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan pemerintahnya sedang mempertimbangkan seluruh opsi untuk merespons tekanan tersebut.
Carney mengatakan Kanada dan AS sepakat meningkatkan intensitas pembicaraan dalam beberapa pekan berikutnya demi mencapai kesepakatan. Namun, proses negosiasi kedua negara disebut berjalan lebih lambat dibandingkan pembicaraan AS dengan Meksiko.
Ketegangan ini terjadi saat AS dan Meksiko meningkatkan pembahasan mengenai peninjauan Perjanjian AS-Meksiko-Kanada atau USMCA. Washington disebut menolak memperpanjang pakta perdagangan bebas Amerika Utara itu dalam bentuknya saat ini, sementara Greer dijadwalkan berkunjung ke Meksiko dari Rabu hingga Jumat untuk berdiskusi.
Sejumlah ahli hukum melihat penggunaan Pasal 338 Undang-Undang Tarif Tahun 1930 sebagai cara AS memperkuat posisi tawarnya terhadap Kanada dalam renegosiasi USMCA. Pengacara perdagangan Dorsey & Whitney, Dave Townsend, menilai langkah itu dapat ditujukan untuk mendorong kesepakatan, membalas kegagalan mencapai kesepakatan, atau keduanya.
Townsend juga menyoroti risiko siklus eskalasi dan aksi balasan yang berkepanjangan. Ia menekankan bahwa penalti tarif tersebut tidak akan memberi pengecualian bagi produk Kanada yang sebenarnya tercakup dalam USMCA.
Brasil Juga Terancam Kehilangan Akses Pasar
Brasil turut menghadapi rencana tarif 25% dari AS atas tuduhan praktik perdagangan yang tidak adil. Kebijakan itu dijadwalkan berlaku pada hari Rabu dan diproyeksikan menjadi isu politik menjelang pemilihan presiden Brasil dalam beberapa bulan mendatang.
Sejumlah komoditas mendapat pengecualian, termasuk daging sapi, kopi, suku cadang pesawat tertentu, serta barang yang tidak diproduksi di AS. Meski demikian, Kamar Dagang Amerika untuk Brasil memperingatkan nilai ekspor lebih dari US$ 11 miliar tetap terancam oleh kebijakan tersebut.
Kamar dagang itu menilai Brasil dapat menjadi salah satu negara dengan kondisi akses paling restriktif ke pasar AS. Rangkaian tarif terhadap Kanada, Brasil, serta puluhan mitra dagang lain memperlihatkan bahwa bea masuk kembali digunakan Washington sebagai instrumen tekanan dalam negosiasi perdagangan.
Source: www.cnbcindonesia.com






