Perbaikan empat titik tanggul jebol di Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, kini dikebut sepanjang sekitar satu kilometer. Langkah ini menjadi bagian dari penanganan pascabanjir untuk menekan risiko air kembali melimpas ke jalan dan permukiman warga.
Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera melalui tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mendampingi penanganan darurat di wilayah tersebut. Fokusnya mencakup keselamatan warga, pemenuhan kebutuhan pengungsi, pembersihan lumpur, perbaikan tanggul, hingga normalisasi sungai.
Banjir melanda Tapanuli Tengah pada Sabtu, 18 Juli 2026, sekitar pukul 18.00 WIB setelah hujan deras membuat sejumlah sungai meluap. Genangan setinggi sekitar 30 sentimeter hingga satu meter terjadi di Kecamatan Tukka, Badiri, dan Pinangsori.
Hingga pembaruan laporan pada Selasa, 21 Juli 2026, tidak ada korban jiwa akibat kejadian tersebut. Namun, pendataan kerugian material masih dilakukan oleh pemerintah daerah.
Wilayah dan Dampak Banjir
| Wilayah | Lokasi Terdampak | Kondisi Utama |
|---|---|---|
| Kecamatan Tukka | Sipange, Bonalumban, Hutanabolon | Luapan Sungai Aek Sagala dan Aek Harse merusak bagian tanggul. |
| Kecamatan Badiri | Lingkungan I, Kelurahan Lopian | Sungai Lopian melampaui tanggul dan menggenangi permukiman. |
| Kecamatan Pinangsori | Lingkungan III, Kelurahan Albion Prancis | Banjir telah surut, tetapi pemantauan tetap dilakukan. |
Di Kecamatan Tukka, kerusakan tanggul di sekitar Sungai Aek Sagala dan Aek Harse menyebabkan air masuk ke kawasan permukiman serta badan jalan. Setelah genangan surut, warga masih menghadapi endapan lumpur di rumah dan lingkungan sekitar.
Pembersihan permukiman dilakukan secara gotong royong sembari penanganan infrastruktur dijalankan. Pemerintah menempatkan pemulihan akses dan pengurangan risiko banjir berulang sebagai kebutuhan yang harus dikerjakan secara paralel.
Menurut laporan yang disampaikan tim BNPB dan dikutip medcom.id, penanganan bagian hulu dari tanggul yang rusak ditargetkan rampung dalam satu pekan. Pemerintah daerah juga melakukan asesmen kerusakan untuk menentukan langkah lanjutan setelah masa darurat.
Normalisasi Sungai dan Pemulihan Akses
Normalisasi Sungai Silaga-laga telah berjalan dengan dukungan tiga unit ekskavator. Alat berat itu berasal dari unsur swasta, Dinas Sumber Daya Air Provinsi Sumatera Utara, serta Dinas PUPR Kabupaten Tapanuli Tengah.
Pekerjaan juga dilakukan pada ruas Jalan Sipange–KM 14 menggunakan alat berat dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional. Pemulihan jalur ini diperlukan agar warga, logistik, personel, dan peralatan dapat lebih mudah menjangkau kawasan terdampak.
BNPB menyiapkan dukungan tambahan untuk normalisasi sungai serta perkuatan tebing di Sipange. Bantuan itu mencakup dua ekskavator, satu ekskavator mini, dua ekskavator lengan panjang, dua dump truck, dan 5.000 jumbo bag.
Peralatan dan material tersebut disiapkan untuk penanganan tanggul sepanjang 400 meter di Sipange. Upaya ini dilaksanakan bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Balai Besar Wilayah Sungai Kementerian Pekerjaan Umum.
Pengungsi dan Kebutuhan Dasar
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah mengimbau warga yang masih bertahan di rumah untuk segera mengungsi. Pemerintah juga menyiapkan satu unit perahu fiber guna mendukung proses evakuasi dan penyelamatan.
“Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah telah mengimbau warga yang masih berada di rumah agar segera mengungsi dan menyiapkan satu unit perahu fiber untuk mendukung evakuasi dan penyelamatan,” tulis laporan tim yang dipimpin Direktur Fasilitasi Penanganan Korban dan Pengungsi BNPB Nelwan Harahap. Penanganan pengungsi antara lain dipusatkan di HKBP Sipange dengan dukungan dapur umum.
BPBD Provinsi Sumatera Utara telah menyalurkan 170 paket sembako, 100 selimut, dan 100 matras bagi warga terdampak. Bantuan lain berupa perlengkapan kebersihan, kebutuhan mandi, minyak goreng, serta popok untuk anak-anak dan orang dewasa juga telah disalurkan.
Meski banjir di Kelurahan Albion Prancis telah surut, pemerintah daerah tetap memantau perubahan cuaca dan kenaikan debit sungai. Pemantauan tersebut penting karena kerusakan tanggul dan tingginya aliran sungai masih menjadi perhatian dalam penanganan banjir Tapanuli Tengah.
