Ita Fatia Nadia, seorang aktivis dan pendamping korban pemerkosaan massal selama kerusuhan Mei 1998, kini menghadapi ancaman teror pembunuhan setelah menyatakan bahwa Menteri Kebudayaan Fadli Zon telah membohongi publik mengenai kejadian tersebut. Dalam sebuah konferensi pers yang disiarkan di siniar Bocor Alus pada 21 Juni 2025, Ita menegaskan bahwa pernyataan Fadli yang menyebut pemerkosaan massal sebagai rumor adalah sebuah kebohongan.
Ita Fatia menilai pernyataan Fadli Zon sebagai pengingkaran terhadap fakta sejarah dan sebuah bentuk penipuan terhadap publik, terutama perempuan Indonesia. Ia mengingatkan bahwa Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk untuk mengungkap tragedi tersebut terdiri dari lima menteri dan satu jaksa agung. “Permintaan maaf dari BJ Habibie pun menunjukkan bahwa kejadian itu bukan sekadar rumor,” ungkap Ita, mempertegas pentingnya pengakuan atas fakta sejarah.
Usai konferensi pers tersebut, Ita menerima ancaman serius. Pada malam hari, ia mendapatkan telepon dari seorang pria yang mengejeknya dengan kata-kata penuh kebencian. “Anteknya Cina kamu!” ucapnya, menandakan ketegangan yang menyelubungi diskusi mengenai tragedi itu. Namun ancaman tidak berhenti di situ; pada dini hari berikutnya, suara yang sama mengancam keselamatan Ita dengan nada yang lebih keras, menyebut keluarga dan suaminya yang merupakan tahanan politik, serta mengancam akan membungkamnya “sampai mati”.
Dalam konteks tersebut, penting untuk menyadari bahwa ancaman terhadap Ita bukanlah hal baru. Ia juga pernah mengalami teror pada tahun 1998 saat menemani salah satu korban, Fransisca. Pada waktu itu, ia menerima surat yang menyebut akan menculik anak-anaknya, sebuah ancaman yang menambah beban psikologis dan emosional yang harus dihadapinya sebagai seorang aktivis.
Walaupun terancam, Ita Fatia menunjukkan ketahanan yang mengesankan. Ia menegaskan bahwa bukan hal yang mudah untuk membuatnya mundur. “Saya tidak takut, ini sudah biasa,” ujarnya, menunjukkan semangat juangnya meski menghadapi risiko yang mempengaruhi keselamatan dirinya dan keluarganya.
Kondisi suami Ita yang sudah tua dan sakit menggambarkan situasi yang lebih kompleks. Meskipun suaminya adalah seorang tahanan politik, Ita tetap bertanggung jawab sebagai pendamping dan pengasuh keluarga dengan penuh kasih sayang. Ancaman terus menerus tidak menghentikannya untuk bersuara. Menghadiri siniar Bocor Alus adalah bagian dari upayanya untuk menyebarluaskan kebenaran mengenai pemerkosaan massal yang terjadi pada tahun 1998.
Kepedulian akan isu pemerkosaan massal dan bagaimana masyarakat meresponsnya termasuk penting dalam konteks demokrasi dan hak asasi manusia di Indonesia. Pernyataan Fadli Zon dan reaksi yang ditimbulkannya menunjukkan bahwa masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengakui dan mengatasi trauma sejarah.
Ita Fatia Nadia berencana untuk terus menggali fakta-fakta yang tersembunyi dan berjuang untuk keadilan bagi para korban. Tekanan dan ancaman yang ia hadapi semestinya tidak menghalangi upayanya dalam memulihkan suara korban yang sering kali terpinggirkan. Pejuang hak asasi manusia seperti Ita Fatia menjadi cahaya harapan bagi banyak orang yang merasa tak terdengar dalam sejarah kelam bangsa ini.







