Panglima Komando Operasi (Pangko-ops) Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, mengumumkan bahwa TNI bersama warga Papua sedang menjalankan program gotong-royong untuk membangun kembali gereja yang hancur akibat teror Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang dipimpin oleh Egianus Kogoya. Teror yang terjadi baru-baru ini telah menimbulkan rasa trauma mendalam di kalangan masyarakat setempat, sehingga mereka merasa enggan untuk terlibat dalam kegiatan pembangunan rumah ibadah.
“Gereja, sama halnya dengan masjid dan wihara, memiliki peran lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia merupakan pusat peradaban umat dan harus kita lestarikan,” ungkap Lucky dalam pernyataannya. Hal ini menegaskan pentingnya kebebasan beribadah yang dilindungi oleh konstitusi, khususnya dalam konteks Papua yang kaya akan keberagaman budaya dan agama.
Lebih lanjut, Lucky menjelaskan bahwa rumah ibadah merupakan pusat yang melahirkan nilai-nilai luhur, serta mendukung aspek pendidikan dan sosial budaya masyarakat setempat. “Gereja sering kali menjadi lembaga pertama yang memperkenalkan pendidikan formal di daerah-daerah pedalaman Papua,” tambahnya. Keberadaan gereja yang kuat di Papua bukan hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, tetapi juga sebagai wadah untuk mendukung berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Tindak teror oleh OPM, yang mencakup pembakaran dan penembakan terhadap umat yang sedang beribadah, memicu kemarahan di kalangan masyarakat, terutama orang Papua. “Gereja adalah simbol harapan dan perjuangan hidup; tempat untuk mendapatkan penguatan spiritual dan ruang aman dari tantangan kehidupan sosial ekonomi,” ungkap Lucky.
Keikutsertaan aktif TNI dalam pembangunan gereja menggambarkan komitmen negara untuk melindungi hak setiap warga negara dalam menjalankan ibadah. Lucky menegaskan kembali, “Koops Habema bersama rakyat Papua menjadi garda terdepan dalam membangunkan kembali gereja yang dihancurkan.” Ini adalah langkah nyata untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat bahwa keamanan dan kebebasan menjalankan agama tetap terjaga.
Dalam proses pembangunan, keterlibatan masyarakat sangat krusial. Bekerja secara bergotong-royong, TNI dan warga berkolaborasi demi tujuan bersama. Hal ini juga mencerminkan solidaritas yang kuat antar golongan, terlepas dari perbedaan latar belakang. “Mari kita lawan dan lenyapkan teror terhadap gereja dan umat beragama di tanah Papua tercinta,” tegas Lucky.
Secara keseluruhan, dinamika yang terjadi di Papua dengan bergotong-royongnya TNI dan masyarakat setempat dalam membangun gereja tidak hanya mengejar aspek fisik pembangunan, tetapi juga menyembuhkan luka dan trauma yang ditinggalkan oleh teror OPM. Di lembaga keagamaan, masyarakat kembali menemukan harapan dan rasa aman yang sempat hilang.
Proyek pembangunan ini juga memiliki makna lebih dalam. Ini bukan hanya soal membangun struktur fisik tetapi juga memperkuat jati diri dan keberagaman yang dimiliki oleh masyarakat Papua. Dengan adanya dukungan dari berbagai elemen, diharapkan proses rekonstruksi ini dapat berlangsung dengan baik dan menghasilkan lingkungan sosial yang lebih harmonis.
Masyarakat juga diharapkan dapat bersatu dalam gerakan kolektif ini, dengan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan individu. Melalui peran aktif TNI dan kerjasama masyarakat, dapat tercipta ikatan yang lebih kuat, yang pada gilirannya membantu mempercepat pemulihan pasca-teror yang menyisakan banyak duka.
Bersama-sama, TNI dan warga Papua berkomitmen untuk merawat nilai-nilai kemanusiaan serta menjalankan fungsi sosial yang lebih besar, yaitu membangun masyarakat yang lebih kuat dan berdaya.
