Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tunis, Tunisia, mengadakan doa bersama untuk para relawan Indonesia Global Peace Convoy (IGPC) menjelang pelayaran misi kemanusiaan ke Jalur Gaza. Kegiatan digelar pada Jumat, 5 September 2025, di Wisma KBRI Tunis dan dihadiri oleh seluruh relawan IGPC, baik yang akan ikut berlayar maupun yang tidak.
Saat ini, terdapat 60 relawan Indonesia yang berkumpul di Kota Tunis, dengan 34 di antaranya akan berpartisipasi dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF). Misi ini bertujuan menembus blokade Gaza dengan dukungan ribuan relawan dari 44 negara. Para relawan berasal dari berbagai latar belakang, termasuk lembaga kemanusiaan, tim medis, influencer, artis, serta jurnalis dari media nasional, seperti reporter Metro TV Iqbal Himawan dan juru kamera Metro TV Yahdin Syafrial.
Duta Besar Indonesia untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, menyampaikan bahwa para relawan IGPC memikul tugas mulia sebagai kelanjutan perjuangan pendiri bangsa Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina. “Dulu saya hanya pengamat luar, sekarang sebagai duta besar saya merasakan langsung persoalan ini di jantungnya,” ujar Zuhairi. Ia menegaskan bahwa perjuangan untuk Gaza merupakan upaya untuk menegakkan kembali peradaban kemanusiaan, dimana nurani manusia mampu membedakan antara yang benar dan salah.
Zuhairi menyoroti situasi yang dialami oleh warga Gaza dan Tepi Barat yang menurutnya adalah sebuah kesalahan besar. “Karena itu adalah kesalahan, maka kita tidak boleh diam,” tegasnya. Ia juga mengungkapkan bahwa pihak kedutaan terus memantau pergerakan kapal-kapal yang berangkat dari berbagai negara di Eropa, dalam upaya bersama menolak kebijakan luar negeri beberapa negara besar yang mendukung blokade di Gaza.
Uniknya, dalam misi ini, pihak Barat dan Timur yang biasanya memiliki perbedaan pandangan justru bersatu dalam menunjuk adanya ketidakadilan terhadap Palestina. Duta Besar Zuhairi bahkan menyebut tindakan Israel di Gaza sebagai genosida, yaitu kejahatan tertinggi menurut hukum internasional. Karenanya, gerakan kapal Global Sumud Flotilla mendapatkan legitimasi hukum internasional sebagai upaya memperbaiki arah peradaban manusia.
Ia menyampaikan apresiasi tinggi kepada semua relawan yang bersedia menghadapi risiko demi misi kemanusiaan ini. “Kawan-kawan adalah para pejuang bangsa yang namanya akan terus dikenang dalam perjalanan bangsa dan kemanusiaan di masa depan,” ungkapnya optimistis.
Koordinator IGPC, Muhammad Husein, menjelaskan bahwa IGPC merupakan gerakan baru yang terbentuk tiga bulan terakhir sebagai respons terhadap kondisi yang memprihatinkan di Gaza. “Kita berkumpul bersama para ulama dan aktivis untuk merumuskan gerakan strategis dalam menembus blokade Gaza,” tutur Husein.
Husein menambahkan, gerakan konvoi internasional ini diinisiasi oleh Global Movement to Gaza yang menaungi gerakan maritim Global Sumud Flotilla (GSF). Di kawasan Asia Tenggara, gerakan ini dikenal sebagai Sumud Nusantara. “Alhamdulillah, kita orang Indonesia mendapat kesempatan melakukan gerakan ini dari Tunis, sebuah negara yang membebaskan visa bagi kita. Ini bukan kebetulan,” katanya.
Menurut Husein, GSF adalah langkah strategis berbasis kemanusiaan yang menjelaskan hakekat seorang manusia dan tanggung jawabnya. Ia mengakui risiko terbesar yang mungkin dihadapi relawan dalam perjalanan ini tidak akan lebih berat ketimbang penderitaan yang dialami rakyat Gaza selama ini.
Dengan doa bersama yang terus digelar di Wisma KBRI Tunis, harapan besar tertuju pada keberhasilan misi pelayaran ini sebagai bagian dari upaya global membawa perubahan dan keadilan bagi Palestina. Dunia pun diharapkan dapat menyaksikan momentum kemerdekaan Palestina dan pembebasan Gaza dari penindasan yang telah berlangsung lama.







