Pemerintah Kota Kupang resmi meluncurkan Program Ina Kasih (Intervensi Peduli Akses Pembalut Gratis bagi Perempuan Prasejahtera) pada Sabtu, 20 September 2024, di Taman Nostalgia Kupang. Program ini menjadi wujud nyata komitmen Pemkot Kupang dalam mengatasi permasalahan kemiskinan menstruasi, khususnya yang dialami oleh perempuan dari keluarga berpenghasilan rendah.
Wakil Wali Kota Kupang, Serena C Francis, menyampaikan bahwa fenomena kemiskinan menstruasi merupakan persoalan serius yang masih terjadi di berbagai lapisan masyarakat. Menurutnya, banyak perempuan terpaksa memilih antara membeli pembalut atau memenuhi kebutuhan pokok keluarga lainnya. “Hampir setengah dari penduduk Kota Kupang adalah perempuan usia produktif, namun sebagian besar masih kesulitan mengakses produk menstruasi yang harganya rata-rata Rp26.000 per pak,” ujar Serena.
Serena menjelaskan beban pengeluaran untuk pembalut bisa mencapai 6,5 hingga 13 persen dari total pendapatan keluarga yang hanya memiliki penghasilan sekitar Rp800 ribu per bulan. Jika dalam satu keluarga terdapat dua perempuan usia subur, maka beban tersebut akan semakin besar. “Penghasilan keluarga juga harus diprioritaskan untuk biaya sekolah, listrik, dan kebutuhan pangan. Pemerintah tidak boleh mengabaikan kondisi tersebut,” tegasnya.
Tujuan dan Sasaran Program Ina Kasih
Program Ina Kasih dirancang sebagai intervensi pemerintah untuk memberikan bantuan pembalut secara gratis kepada perempuan yang berasal dari keluarga prasejahtera dengan rentang usia 10 hingga 45 tahun. Pada tahap awal, program ini akan menyasar 1.275 perempuan yang memerlukan bantuan tersebut. Program ini juga mendukung Instruksi Presiden RI tentang percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem dan akan dilakukan monitoring serta evaluasi secara berkala.
Serena menambahkan bahwa program ini tidak hanya bertujuan membantu ekonomi keluarga prasejahtera, tetapi juga ingin mengedukasi masyarakat agar lebih terbuka membicarakan menstruasi. “Masih banyak stigma yang menganggap menstruasi adalah hal tabu. Kami ingin perempuan tidak merasa malu atau terbebani oleh kondisi alami ini,” jelasnya.
Makna dan Harapan dari Program
Nama Ina Kasih memiliki makna yang mendalam. “Ina” berasal dari bahasa lokal yang berarti “perempuan”, sedangkan “Kasih” mengacu pada identitas Kota Kupang sebagai “Kota Kasih”. Program ini menjadi simbol empati, kepedulian, dan kasih sayang pemerintah kepada perempuan Kota Kupang.
Serena mengungkapkan harapannya agar program ini berdampak positif pada pendidikan dan pekerjaan perempuan. “Kami ingin remaja putri mampu hadir penuh di kelas tanpa takut absen karena menstruasi, serta perempuan bekerja tanpa harus memikirkan dilema memilih pembalut atau kebutuhan pangan,” ujarnya.
Dukungan dan Kolaborasi untuk Keberlanjutan
Dalam acara peluncuran, Serena mengajak berbagai pihak untuk ikut berkolaborasi dalam mendukung keberlanjutan program. Menurutnya, pemerintah tidak dapat berjalan sendiri dalam mengatasi kemiskinan ekstrem. “Kami membuka ruang kerja sama dengan NGO, LSM internasional, CSR BUMN/BUMD, dunia usaha, dan komunitas peduli kesehatan reproduksi. Bersama-sama kita pastikan tidak ada yang tertinggal, sesuai dengan prinsip no one left behind,” katanya.
Program Ina Kasih juga mendapat apresiasi langsung dari penerima manfaat. Nora Paulina Lau, perwakilan komunitas difabel, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan pemerintah. “Kami sangat berterima kasih dan berharap program ini terus berlanjut,” tuturnya.
Begitu pula Mirna, salah satu ibu rumah tangga dari Kelurahan Lasiana, mengaku bahwa program ini sangat membantu perempuan dan meringankan beban keluarga. “Ini sesuatu yang luar biasa dan sangat bermanfaat bagi kami,” ujarnya.
Peluncuran Program Ina Kasih merupakan langkah strategis Pemerintah Kota Kupang dalam mewujudkan visi Kota Kupang sebagai rumah bersama yang maju, mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan, dengan prinsip pemerintahan yang melayani masyarakat. Dengan adanya program ini, diharapkan perempuan prasejahtera dapat memperoleh akses yang memadai terhadap produk menstruasi dan menghilangkan hambatan sosial yang selama ini ada.
