Forum internasional PEMSEA Network of Local Governments (PNLG) 2025 berhasil digelar selama tiga hari, 16 hingga 18 September 2025, di Jakarta. Acara ini memperkuat sinergi antar pemerintah lokal dari sepuluh negara anggota PEMSEA, fokus pada pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan dan inklusif di kawasan Asia. Dengan dihadiri oleh 55 kota anggota dan lima asosiasi, forum ini menunjukkan posisi strategis Indonesia dalam mendorong kolaborasi internasional untuk pengelolaan sumber daya laut yang ramah lingkungan.
Hari Pertama: Komitmen Jakarta Mendukung Ekonomi Biru
Petang pembukaan PNLG Forum 2025 di Hotel Indonesia Kempinski dimulai dengan sambutan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Ia menegaskan komitmen Jakarta sebagai kota pesisir yang tangguh dan berwawasan lingkungan melalui pengembangan ekonomi biru. Gubernur menjelaskan wilayah laut DKI Jakarta yang luas mencapai 6.977,5 km² dengan garis pantai sepanjang 120 km dan 113 pulau kecil merupakan aset utama yang akan mengubah wajah Jakarta ke depan.
Mengusung tema “Towards a Sustainable and Inclusive Blue Economy: Linking Climate, Nature and Energy,” forum ini menegaskan visi integrasi pembangunan ekonomi dengan konservasi ekosistem laut dan upaya mitigasi perubahan iklim. Pramono juga memperkenalkan “State of The Coast (SoC) Jakarta 2025” sebagai komitmen terhadap pengelolaan pesisir yang berkelanjutan.
Selain fokus pada pembangunan berbasis Integrated Coastal Management (ICM), pemerintah DKI Jakarta mengangkat potensi wisata bahari, pemberdayaan masyarakat pesisir di Kepulauan Seribu, serta restorasi ekosistem melalui penanaman mangrove dan konservasi habitat laut. Gubernur menegaskan bahwa Jakarta tidak hanya sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, tapi juga rumah bagi lebih dari 10 juta penduduk dengan wilayah pesisir yang kaya sumber daya alam.
Hari Kedua: Pertukaran Pengalaman dan Kunjungan ke Pelabuhan Tanjung Priok
Pada hari kedua, para delegasi dari negara anggota PNLG seperti Indonesia, Tiongkok, Korea Selatan, dan Vietnam saling bertukar gagasan terkait agenda ekonomi maritim berkelanjutan. Diskusi ini menjadi momen penting untuk berbagi strategi yang berhasil diterapkan di masing-masing negara.
Salah satu puncak kegiatan adalah kunjungan lapangan ke Pelabuhan Tanjung Priok, yang memperlihatkan konsep Green Port dan Smart Port sebagai inovasi dalam pengelolaan pelabuhan modern. Delegasi diajak melihat langsung ruang kontrol pelabuhan yang menerapkan digitalisasi untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mengurangi dampak lingkungan, menunjang pertumbuhan ekonomi biru secara ramah lingkungan.
Deputy Secretary-General PNLG Secretariat, Fang Qinhua, menyatakan bahwa forum ini dirancang sebagai platform ideal bagi anggota untuk bertukar pandangan dan memperluas jaringan kerja sama. Kegiatan hari itu dilengkapi kunjungan ke Museum Maritim Jakarta untuk memahami sejarah kemaritiman kota sebagai pondasi penting dalam membangun masa depan ekonomi laut yang berkelanjutan.
Hari Ketiga: Konservasi Laut dan Pengembangan Ekowisata di Kepulauan Seribu
Hari terakhir forum diisi dengan kunjungan ke Kepulauan Seribu, khususnya Pulau Onrust dan Asha Resort, di mana para delegasi terlibat langsung dalam kegiatan konservasi seperti penanaman terumbu karang dan penebaran benih ikan. Diskusi bersama masyarakat lokal juga digelar untuk membahas pengelolaan pulau kecil dan pengembangan ekowisata berbasis kelestarian.
Wali Kota Dili, Timor-Leste, Francisco Dos Santos, mengapresiasi keberadaan forum ini sebagai wahana pembelajaran berharga bagi negara berkembang. Ia menekankan pentingnya PNLG untuk mempromosikan perlindungan dan pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan dan berharap kolaborasi antar anggota terus berlanjut demi masa depan laut yang lebih baik.
Dengan keterlibatan 55 pemerintah daerah anggota dan asosiasi dari 10 negara, PNLG Forum 2025 berhasil mengukuhkan Jakarta sebagai pusat gerakan ekonomi biru yang inklusif dan adaptif, sekaligus menjadikan kota itu sebagai pionir global dalam sinergi pemberdayaan maritim yang berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi, konservasi lingkungan, serta pemberdayaan komunitas lokal menjadi kunci utama dalam strategi ekonomi biru yang digaungkan dalam forum ini.







