Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa kunci untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju terletak pada penerapan konsep pembangunan ekonomi yang disebut Sumitronomics. Konsep ini menekankan tiga pilar utama yang harus diperkuat secara bersamaan, yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerataan manfaat pembangunan, dan stabilitas nasional yang dinamis. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Purbaya pada Rapat Paripurna DPR di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (23/9/2025).
Sumitronomics adalah gagasan ekonomi yang diwariskan oleh Sumitro Djojohadikusumo, ekonom legendaris sekaligus ayah dari Presiden Prabowo Subianto. Konsep ini menempatkan negara sebagai motor utama pembangunan ekonomi berdasarkan tiga prinsip utama: nasionalisme ekonomi, industrialisasi, dan perlindungan terhadap kepentingan domestik. Dengan strategi ini, pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi yang agresif mencapai 8% per tahun hingga 2029.
“Target pertumbuhan ekonomi 8% bukanlah hal mudah, tapi tetap realistis apabila strategi Sumitronomics dijalankan secara konsisten,” jelas Purbaya. Ia menekankan bahwa capaian ini dapat dilihat dari sejarah Indonesia sebelum krisis keuangan Asia 1997-1998 yang mampu tumbuh rata-rata lebih dari 6%. Selain itu, contoh negara-negara seperti Korea Selatan dan Singapura yang tumbuh di atas 7,5% selama satu dekade serta China yang pernah mencatat pertumbuhan tahunan lebih dari 10% antara 2003-2007 juga menjadi acuan keberhasilan pertumbuhan tinggi.
Tiga Pilar Sumitronomics sebagai Fondasi
Dalam penerapan Sumitronomics, tiga pilar atau fokus utama menjadi landasan pembangunan ekonomi Indonesia:
-
Pertumbuhan Ekonomi Tinggi
Pemerintah harus memastikan percepatan pertumbuhan ekonomi dengan mendorong aktivitas ekonomi secara lebih cepat dan berkelanjutan, terutama di sektor-sektor bernilai tambah tinggi. -
Pemerataan Manfaat Pembangunan
Hasil pembangunan harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat dengan mensinergikan sektor-sektor yang padat karya, seperti pertanian, industri manufaktur, dan pariwisata, agar membuka lapangan kerja luas. - Stabilitas Nasional yang Dinamis
Stabilitas politik dan sosial yang dinamis sangat penting untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif dan menjaga ketahanan nasional di tengah tantangan global.
Strategi Fiskal Mendukung Pertumbuhan
Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 yang baru saja disahkan, total anggaran sebesar Rp 3.153,58 triliun dan belanja negara Rp 3.842,72 triliun diarahkan sebagai katalis pertumbuhan ekonomi. Purbaya mengatakan bahwa pemerintah menyiapkan berbagai insentif fiskal untuk mempercepat investasi, termasuk tax holiday dan super-deduction untuk kegiatan riset, pelatihan, serta pengembangan kawasan ekonomi khusus.
Selain itu, hilirisasi sumber daya alam menjadi prioritas untuk meningkatkan nilai tambah dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Pemerintah juga berkomitmen menjaga pertumbuhan sektor-sektor resilient yang menjadi tulang punggung ketahanan ekonomi dan lapangan kerja.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Purbaya menyebutkan bahwa pola pembangunan dengan fokus pada tiga pilar Sumitronomics dapat menjadi "Purbaya Effect", yaitu pengaruh kebijakan yang mampu membawa optimisme sekaligus pengelolaan risiko defisit secara efektif. Meski tantangan dalam merealisasikan target pertumbuhan sebesar 8% masih besar, Purbaya meyakini bahwa dengan konsistensi dan pelaksanaan strategi yang tepat, Indonesia memiliki peluang untuk mewujudkan cita-cita menjadi negara maju dalam waktu dekat.
Upaya ini tidak hanya memerlukan kebijakan fiskal yang agresif, tapi juga dukungan seluruh pemangku kepentingan agar Indonesia mampu berkompetisi di tingkat global sekaligus memberikan manfaat yang merata ke seluruh wilayah dan masyarakat.
Dengan konsep Sumitronomics sebagai kerangka strategi yang terpadu, Indonesia berpeluang membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat dan inklusif demi masa depan yang lebih sejahtera dan berdaya saing.
