Sebanyak 55 persen sumber daya manusia (SDM) di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) hanya menamatkan pendidikan hingga tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Data ini mencerminkan masih tingginya angka putus sekolah dan rendahnya kualitas pendidikan di daerah tersebut. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel, Galuh Tantri Naridra, menjelaskan bahwa kondisi ini menjadi tantangan serius dalam meningkatkan daya saing SDM Kalsel di pasar kerja.
Faktor Penyebab Tingginya Angka Putus Sekolah
Menurut Galuh Tantri, sejumlah faktor menjadi penyebab utama tingginya angka putus sekolah di Kalsel. Di antaranya adalah anak-anak yang memilih bekerja untuk membantu ekonomi keluarga, pernikahan dini, kemiskinan, kenakalan remaja, kasus bullying di sekolah, hingga kondisi infrastruktur pendidikan yang belum memadai. Selain itu, ada pula anak yang pindah ke pendidikan non formal seperti pesantren sehingga tercatat sebagai putus sekolah.
Strategi Mengatasi Putus Sekolah dan Meningkatkan Kualitas SDM
Untuk menangani persoalan ini, Disdikbud Kalsel berupaya melakukan berbagai strategi. Program-program yang dijalankan meliputi pemberian beasiswa, bantuan bagi anak kurang mampu, serta advokasi pendidikan di daerah-daerah terpencil. Galuh mengatakan bahwa pemerintah provinsi juga akan meluncurkan program sekolah paket A, B, dan C yang memungkinkan anak putus sekolah melanjutkan pendidikan.
Lebih lanjut, upaya merger atau penggabungan sekolah turut dipertimbangkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya dan fasilitas. Pendekatan yang beragam dan terintegrasi diharapkan mampu menekan angka putus sekolah secara signifikan.
Peningkatan Kompetensi dan Penataan Sistem Pendidikan
Selain fokus kepada siswa, Pemprov Kalsel juga menitikberatkan pada penataan sistem pendidikan dan peningkatan kompetensi tenaga pendidik. Saat ini, ada sekitar 232 sekolah tingkat SMA dan SMK yang menjadi kewenangan provinsi beserta 8.630 guru yang tersebar di 13 kabupaten/kota. Kepala sekolah dan guru-guru ini akan mendapatkan perhatian khusus dalam hal peningkatan kualitas pelatihan dan kompetensi.
Program Beasiswa Dalam dan Luar Negeri
Guna mendorong prestasi siswa, Disdikbud Kalsel sedang merencanakan program beasiswa bagi 500 siswa berprestasi. Beasiswa ini akan didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta kerjasama dengan perusahaan dalam program Corporate Social Responsibility (CSR). Selain itu, pihak Disdikbud juga membuka peluang beasiswa yang bekerja sama dengan perguruan tinggi dari negara-negara seperti Singapura, Jepang, dan Finlandia.
Dampak pada Daya Saing SDM Kalsel
Kualitas pendidikan yang masih rendah berimplikasi pada rendahnya daya saing tenaga kerja dari Kalsel di tingkat nasional maupun regional. Dengan kondisi mayoritas SDM hanya lulusan SMP, kesempatan mendapatkan pekerjaan yang layak di era ekonomi modern menjadi terbatas. Oleh sebab itu, upaya peningkatan akses dan mutu pendidikan menjadi prioritas utama pemerintah provinsi.
Melalui berbagai program dan kolaborasi lintas sektor, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel berharap situasi ini dapat berubah secara bertahap. Inovasi dan peningkatan kualitas pendidikan dianggap penting untuk mencetak sumber daya manusia yang unggul dan mampu bersaing di masa mendatang.
Src: https://mediaindonesia.com/nusantara/815947/55-persen-sdm-kalsel-hanya-tamatan-smp?page=all







