Pameran Studi Arsip Mia Bustam: Menguak Karya, Kehidupan, dan Pemikiran

Pameran Studi Arsip Mia Bustam yang digelar di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, pada 6 Oktober hingga 20 November 2025, menampilkan perjalanan hidup, karya seni, serta pemikiran penting seorang seniman wanita yang selama ini sering terlupakan dalam sejarah seni rupa Indonesia. Mia Bustam, yang lahir dengan nama Sasmiyati Sri Mojoretno (1920-2011), dikenal bukan hanya sebagai mantan istri seorang maestro, melainkan sebagai sosok seniman sekaligus ibu tunggal dari delapan anak yang gigih berkontribusi dalam dunia seni dan budaya.

Mia Bustam menempuh pendidikan di Sekolah Van Deventer Surakarta dan lulus pada 1937. Ia aktif dalam kelompok Seniman Indonesia Muda (SIM) dan kemudian bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA), bahkan menjadi ketua LEKRA Yogyakarta pada periode 1963-1965. Karya kecintaannya terhadap seni terlihat dari prestasi sebagai siswa terbaik di Universitas Rakyat (UNRA) pada tahun 1963 dan pameran keliling karya lukis Potret Diri (1959) di Eropa Timur sebelum lenyap akibat pergolakan politik 1965 yang sempat memenjarakannya selama lebih dari tiga belas tahun tanpa proses peradilan.

Pameran ini merupakan inisiatif dari tim riset yang terdiri dari Astrid Reza, Dyah Soemarno, Sylvie Tanaga, Alfian Widi, dan Balqis Nabila, di bawah payung Biennale Jogja 18 “KAWRUH: Tanah Lelaku” dengan kurator Alia Swastika. Tim mengambil pendekatan rekonstruksi arsip dan interpretasi atas karya yang tersisa, menggunakan dokumentasi, arsip foto, tulisan tangan, serta biografi Mia, karena sebagian besar karya asli telah hilang akibat represi politik. Inspirasi utama pameran ini berasal dari temuan majalah Api Kartini Edisi 10 tahun 1960 yang mengungkapkan keinginan Mia untuk menggelar pameran tunggal, impian yang tidak pernah terwujud selama hidupnya.

Dalam pembukaan pameran, Astrid Reza menekankan nilai keteguhan Mia yang mampu melampaui melankolia akibat tekanan rezim politik. “Hari ini, Mia Bustam mengajarkan kita bahwa melankolia harus dilampaui. Keteguhan Mia menjadi pelajaran tentang daya tahan sekaligus semangat menggerakkan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan dan pembodohan,” ujarnya. Pameran diharapkan menjadi ruang reflektif untuk memahami makna kehilangan dan pelarangan dalam sejarah seni perempuan, serta membayangkan bagaimana sejarah seni rupa Indonesia bisa berbeda seandainya tragedi 1965 tidak terjadi.

Sejalan dengan hal tersebut, St. Sunardi, dosen Universitas Sanata Dharma yang juga menjadi pembicara, menyoroti bahwa “daya hidup jauh lebih penting daripada ambisi diakui sebagai seniman sukses. Kehidupan Mia Bustam yang tercermin dalam memoarnya sejatinya yang harus merevitalisasi seni rupa Indonesia.” Kurator pameran, Alia Swastika, menambahkan bahwa Mia terdaftar sebagai anggota Badan Hubungan Kebudayaan Indonesia dengan Uni Soviet, menunjukkan visi kosmopolitan yang besar sebagai perempuan daerah.

Pameran ini menjadi momen bersejarah saat enam anak Mia Bustam hadir bersama, menyaksikan karya ibunya dipamerkan secara tunggal untuk pertama kalinya. Sri Nasti Rukmawati, anak kedua Mia, ungkapkan bahwa mereka baru menyadari betapa istimewanya sosok ibu mereka selain hanya sebagai figur seorang ibu.

Salah satu bagian menarik pameran adalah kolaborasi dengan seniman kontemporer Yogyakarta yang memberikan ekspresi baru atas jejak artistik Mia Bustam. Nessa Theo misalnya, menyelesaikan lukisan Mia yang tertunda akibat penahanannya di penjara. Lukisan tersebut berjudul The Other Side of Melancholia (2025), menggambarkan bagaimana seni melekat erat dengan kehilangan namun tetap merayakan perjuangan dan cita-cita generasi pendahulu.

Pimpinan Produksi Pameran, Dyah Soemarno, menilai pameran ini sebagai pintu awal untuk mengenalkan Mia Bustam kepada publik yang banyak belum tahu jejak dan kisahnya. Dyah juga menekankan pameran berperan penting dalam memperjelas sejarah politik yang selama ini hanya tercatat secara parsial, sekaligus berfungsi sebagai jalan menuju rekonsiliasi dan pemahaman bersama antar generasi.

Secara keseluruhan, Pameran Studi Arsip Mia Bustam berupaya menghidupkan kembali narasi seniman perempuan yang pernah terlipat oleh sejarah dan membuka ruang dialog lintas disiplin mengenai pengaruh politik, budaya, dan gender dalam perjalanan seni rupa Indonesia. Dengan berbagai arsip, karya visual, dan interpretasi kontemporer, pameran ini mempertemukan masa lalu dan masa kini, sekaligus memperkaya pemahaman publik terhadap seni dan kehidupan seorang Mia Bustam.

Source: www.medcom.id

Exit mobile version