Inayah Wahid Ungkap Kunci Jaga Nilai Sumpah Pemuda di Era Digital, Apa Itu?

Sumpah Pemuda menjadi tonggak penting yang mengingatkan seluruh generasi muda Indonesia akan esensi persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman bangsa. Di era digital yang serba cepat dan penuh tantangan baru, menjaga nilai-nilai Sumpah Pemuda menjadi sesuatu yang krusial agar tidak tergerus oleh fragmentasi sosial yang kian nyata.

Inayah Wulandari Wahid, aktivis sekaligus seniman yang juga putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, menyampaikan bahwa kunci utama dalam menjaga nilai-nilai tersebut adalah kolaborasi. Ia menjelaskan bahwa pada masa kini, tantangan terbesar bukanlah perbedaan fisik maupun geografis seperti yang dihadapi para pemuda di masa lalu. Melainkan, fragmentasi sosial yang muncul akibat interaksi di era digital. Dalam acara Jong Indonesia Festival 2025 yang digelar di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Kamis (30/10/2025), Inayah menegaskan, “Sekarang batas identitas itu hampir tidak ada, tapi kita justru semakin tersegregasi. Kolaborasi adalah jalan paling masuk akal, dan itu dimulai dari saling menghargai.”

Nilai-nilai Sumpah Pemuda yang meliputi satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa menjadi semakin relevan di tengah kondisi dunia yang penuh ketidakpastian. Menurut Inayah, pemahaman serta penghargaan terhadap kekuatan dari beragam identitas justru dapat memperkuat persatuan bangsa. Ia menambahkan, “Urgensi Sumpah Pemuda itu jadi makin penting. Tiap identitas membawa kekuatannya masing-masing. Dari situlah kita bisa bikin gelombang Indonesia menjadi lebih besar.”

Berbicara di sesi The Privilege di event yang sama, Inayah juga menyoroti pentingnya keadilan sebagai prasyarat utama sebelum membicarakan persatuan. Keberadaan keadilan dinilai mendasar agar perdamaian dan persatuan benar-benar dapat terwujud. Pesan ini ia ambil dari ajaran ayahnya, Gus Dur, yang pernah berujar bahwa “enggak ada perdamaian tanpa keadilan.” Oleh karena itu, menurutnya, nilai keadilan harus mulai diajarkan dan diinternalisasi sejak dini di lingkungan pendidikan formal seperti sekolah dan kampus.

Dalam konteks menghadapi realitas digital saat ini, tantangan seperti segregasi sosial sangat rentan terjadi karena interaksi virtual yang dapat memperkuat kelompok-kelompok eksklusif dan menimbulkan polarisasi. Dengan menanamkan sikap saling menghargai dan kerja sama lintas identitas, generasi muda diharapkan mampu mengatasi berbagai perbedaan yang ada.

Pentingnya kolaborasi di era digital tidak hanya berarti kerja sama secara tekstual, tetapi juga bagaimana membangun empati dan memperluas pemahaman atas keberagaman yang ada. Ini menjadi fondasi penting yang harus diperkuat agar nilai-nilai luhur Sumpah Pemuda terjaga dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan sosial maupun dalam ranah digital.

Sumber terpercaya menyebutkan bahwa pemuda Indonesia yang menyadari dinamika dan tantangan zaman kini memiliki peran vital sebagai penjaga warisan Sumpah Pemuda. Membangun dialog antar kelompok dan menghargai pluralitas adalah strategi krusial agar bangsa tetap satu dan bersatu, seperti yang terus ditekankan oleh Inayah Wahid sebagai representasi semangat lintas generasi.

Pendidikan dan pemahaman atas keadilan juga perlu diperkuat sebagai bagian dari proses pembentukan karakter bangsa. Hal ini menekankan bahwa persatuan sejati hanya bisa dicapai jika seluruh elemen masyarakat mendapatkan keadilan dalam bentuk yang adil dan merata.

Sebagai bagian dari generasi penerus, pemuda di era digital tidak hanya dituntut untuk aktif secara teknologi, tetapi juga harus mampu menginternalisasi nilai-nilai kebangsaan yang mengedepankan saling hormat, keadilan, dan kolaborasi. Dari sinilah, semangat Sumpah Pemuda yang menjadi dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat terus dijaga dan dihidupkan hingga masa depan.

Source: www.medcom.id

Exit mobile version