NTT Berada di Masa Peralihan, Warga Diminta Waspada Cuaca Ekstrem

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi El Tari Kupang mengimbau masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk bersiaga menghadapi potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan. Wilayah NTT saat ini sedang berada pada masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan atau pancaroba, yang rawan memicu kondisi cuaca tidak menentu dan berpotensi menimbulkan bencana.

Kondisi Cuaca dan Faktor Pemicu

Menurut Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Sti Nenot’ek, pengamatan terkini menunjukkan suhu muka laut di wilayah NTT berkisar 28–30 derajat Celsius dengan anomali suhu antara -0,5 hingga +2,0 derajat Celsius. Kondisi ini mendorong peningkatan penguapan yang menyebabkan terbentuknya awan hujan di berbagai daerah. Selain itu, aktivitas gelombang Madden Julian Oscillation (MJO) yang masih aktif turut memperkuat kemungkinan hujan ringan hingga sedang, yang kadang disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat.

BMKG juga mencatat tekanan udara umum di wilayah Indonesia berkisar antara 1012–1014 hPa. Arah angin di NTT bergerak dari Timur ke Barat Laut dengan kecepatan 10–40 kilometer per jam. Suhu udara diperkirakan berada pada kisaran 17 hingga 36 derajat Celsius dengan kelembaban udara mencapai 40–95 persen. Kombinasi faktor ini menjadikan cuaca di NTT tidak stabil dan berisiko tinggi terjadi fenomena cuaca ekstrim.

Peringatan Dini dan Imbauan untuk Warga

BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait potensi bahaya cuaca ekstrem pada masa pancaroba ini untuk mencegah terjadinya bencana. Warga diminta mewaspadai angin kencang yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang berpotensi menyebabkan banjir, banjir bandang, tanah longsor, hingga pohon tumbang yang mengancam keselamatan serta kerusakan fasilitas umum.

Masyarakat diimbau untuk menghindari berlindung di bawah pohon, menjauhi tiang listrik, kolam, dan sungai saat hujan petir terjadi. BMKG juga mengingatkan pentingnya mematikan alat elektronik selama terjadi hujan disertai petir guna mencegah risiko sambaran petir.

Sti Nenot’ek menekankan agar warga dan pelaku kegiatan operasional di luar ruangan selalu berkonsultasi dengan Stasiun Meteorologi El Tari Kupang untuk mendapatkan informasi dan prakiraan cuaca terbaru. "Kondisi cuaca bisa berubah dengan cepat pada masa pancaroba. Kami imbau masyarakat untuk tetap waspada dan memperhatikan informasi resmi dari BMKG," ujarnya.

Antisipasi dan Kesiapsiagaan

Berdasarkan data BMKG, cuaca di NTT selama sepekan ke depan berpotensi hujan ringan hingga sedang dan pada beberapa daerah hujan lebat dengan durasi singkat. Daerah yang diprediksi mengalami intensitas hujan lebih tinggi hendaknya meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.

Penduduk yang tinggal di wilayah rawan sebaiknya mempersiapkan diri dengan langkah-langkah mitigasi sederhana seperti memeriksa saluran air, membuat perencanaan evakuasi, dan menjaga kebersihan lingkungan agar tidak terjadi penyumbatan aliran air. Pemerintah daerah juga diharapkan meningkatkan koordinasi dan memperkuat sistem peringatan dini untuk mengurangi dampak negatif akibat cuaca ekstrem.

Sebagai tambahan, mengingat potensi kebakaran akibat angin kencang dan cuaca kering juga masih tinggi, masyarakat diminta untuk menghindari aktivitas yang dapat memicu api serta segera melaporkan jika menemukan titik api di sekitar mereka.

Dengan waspada dan kesiapsiagaan yang baik, diharapkan seluruh warga Nusa Tenggara Timur dapat menghadapi masa peralihan musim dengan aman dan meminimalisir risiko yang timbul akibat perubahan cuaca yang tidak menentu. Informasi dan update berkala dari BMKG menjadi sumber utama yang perlu selalu dipantau untuk menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan kondisi cuaca terkini.

Source: mediaindonesia.com

Exit mobile version