Konate Minta Premier League Tiru Ligue 1, Libur Tambahan Demi Jatah Eropa

Ibrahima Konate menyoroti perbedaan cara liga domestik di Eropa memberi dukungan kepada klub yang masih bertahan di Liga Champions. Bek tengah Liverpool itu menilai Ligue 1 sudah menunjukkan contoh yang bisa dipertimbangkan Premier League, terutama saat klub harus menjaga kondisi fisik jelang laga besar di Eropa.

Pernyataan Konate muncul setelah Paris Saint-Germain mendapat kelonggaran jadwal di kompetisi domestik. Laga Ligue 1 melawan Lens yang semestinya dimainkan pada Sabtu, 11 April 2026, ditunda ke bulan Mei agar PSG bisa fokus menghadapi Liverpool pada perempat final Liga Champions.

PSG Dapat Ruang Istirahat Tambahan

Keputusan penundaan itu memberi PSG waktu persiapan lebih panjang sebelum leg pertama melawan Liverpool. Hasilnya, klub asal Prancis tersebut menang 2-0 di kandang dan datang ke Anfield dengan modal kepercayaan diri yang tinggi.

Bagi PSG, jeda itu juga berarti mereka tidak perlu menjalani pertandingan liga di akhir pekan yang bisa menguras tenaga. Dalam fase akhir kompetisi, detail seperti ini sering menjadi pembeda antara tim yang tetap segar dan tim yang mulai kehabisan energi.

Langkah Ligue 1 memang memunculkan pro dan kontra. Lens dirugikan karena jadwal mereka berubah, tetapi otoritas liga menilai keputusan tersebut memberi manfaat yang lebih besar bagi sepak bola Prancis secara keseluruhan.

Pandangan Konate Soal Premier League

Konate tidak menutupi kekagumannya terhadap kebijakan itu. Ia berharap Premier League bisa mengambil pendekatan serupa bagi klub-klub Inggris yang bersaing di Liga Champions, meski ia juga mengakui situasinya tidak sederhana.

“Saya berharap kami di Premier League juga mendapat hal yang sama, tetapi situasinya sangatlah berbeda,” ujar Konate kepada Stan Sport, seperti dikutip Detik Sport. Ia juga menyebut bahwa bantuan seperti itu bisa mendukung peluang klub untuk meraih prestasi di Eropa.

Pernyataan itu menggarisbawahi satu persoalan lama di sepak bola Inggris, yakni padatnya kalender pertandingan. Di satu sisi, Premier League dikenal sangat kompetitif dan bernilai tinggi secara komersial, tetapi di sisi lain jadwal yang rapat kerap menyulitkan klub saat memasuki fase gugur turnamen Eropa.

Mengapa Ligue 1 Berani Ambil Langkah Ini

Keputusan Ligue 1 tidak hanya soal kebutuhan PSG. Liga itu juga melihat pencapaian klub Prancis di Eropa sebagai kepentingan kolektif karena dapat berdampak pada koefisien UEFA.

Berikut alasan utama kebijakan seperti ini mendapat perhatian:

  1. Menjaga kebugaran klub yang masih bertarung di kompetisi Eropa.
  2. Memberi waktu persiapan lebih ideal untuk laga penting.
  3. Meningkatkan peluang meraih hasil positif di Liga Champions atau kompetisi UEFA lain.
  4. Berpotensi membantu posisi koefisien negara di peringkat UEFA.

Strasbourg juga mendapat perlakuan serupa ketika tidak dimainkan pada akhir pekan agar bisa fokus menghadapi Mainz 05 di perempat final Conference League. Pola ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap klub Eropa di Prancis tidak hanya diberikan kepada satu tim, melainkan dipakai sebagai strategi yang lebih luas.

Tantangan Jika Premier League Ingin Meniru

Meski terlihat ideal, penerapan model seperti Ligue 1 di Inggris tidak mudah. Premier League memiliki kepentingan komersial yang besar, hak siar bernilai tinggi, dan kalender yang kerap sudah padat sejak awal musim.

Klub-klub Inggris juga sering bersaing di berbagai ajang sekaligus, sehingga penyesuaian jadwal satu tim bisa berdampak pada banyak pihak lain. Karena itu, perubahan seperti yang diinginkan Konate memerlukan koordinasi yang rumit antara liga, klub, federasi, dan penyelenggara kompetisi domestik lainnya.

Liverpool sendiri akan menghadapi Fulham lebih dulu sebelum menjamu PSG di leg kedua. Keuntungan mereka ada pada status sebagai tuan rumah di Anfield untuk dua laga itu, yang mengurangi beban perjalanan dan membantu pengaturan energi pemain menjelang duel penentu.

Exit mobile version