Alejandro Garnacho akhirnya buka suara soal fase terakhirnya di Manchester United. Winger Argentina itu mengakui ada penyesalan atas beberapa tindakannya menjelang kepergian dari Old Trafford, tetapi ia menegaskan tidak menyimpan dendam terhadap klub yang membesarkan namanya.
Pengakuan itu muncul setelah Garnacho meninggalkan United dan bergabung dengan Chelsea pada musim panas 2025 dengan nilai transfer 40 juta poundsterling atau sekitar Rp918 miliar. Keputusan tersebut lahir dari situasi yang memanas dengan manajer saat itu, Ruben Amorim, yang membuat menit bermain Garnacho menurun drastis.
Hubungan yang merenggang di akhir masa di United
Garnacho menyebut dirinya tetap merasa dihormati selama berada di Manchester United. Ia mengaku klub memberi kepercayaan besar sejak awal, bahkan ketika dirinya masih berstatus pemain muda yang berkembang di akademi Atletico Madrid di Spanyol.
“Itulah momen terbaik saya ketika bermain di sana. Man United memberi saya kepercayaan sejak awal dari Spanyol, saya pun merasakan cinta yang luar biasa dari semua orang di sana termasuk dari suporter,” ujar Garnacho, dikutip dari Tribuna.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa meski perpisahan berlangsung panas, hubungan emosional antara Garnacho dan United tidak sepenuhnya putus. Ia juga menegaskan tidak ada niat untuk berbicara buruk tentang mantan klubnya karena banyak kenangan positif yang ia bawa dari sana.
Pengakuan soal kesalahan pribadi
Dalam wawancara dengan Premier League, Garnacho mengakui bahwa dirinya ikut berperan dalam memburuknya kondisi di tim. Ia menyebut rasa frustrasi karena jarang dimainkan sebagai salah satu pemicu, dan mengakui sempat melakukan “beberapa hal buruk”.
Garnacho menjelaskan bahwa dalam enam bulan terakhir di United, ia tidak tampil sesering sebelumnya. Situasi itu membuatnya sulit menerima peran sebagai pemain cadangan, meski secara usia ia masih sangat muda dan sebenarnya perlu menjalani proses perkembangan bertahap.
Berikut inti pengakuan Garnacho yang ia sampaikan dalam sejumlah wawancara:
- Ia merasa harus bermain di setiap pertandingan.
- Ia frustrasi ketika lebih sering duduk di bangku cadangan.
- Ia mengakui ada tindakannya yang tidak tepat.
- Ia menilai sikapnya bisa saja ikut memengaruhi hubungan dengan Amorim.
Pengakuan itu memberi gambaran bahwa masalah Garnacho bukan hanya soal keputusan pelatih, tetapi juga soal ekspektasi besar yang ia pasang terhadap dirinya sendiri. Dalam sepak bola elite, tekanan semacam ini kerap memengaruhi pemain muda yang masih mencari kestabilan emosi dan konsistensi performa.
Catatan karier di Old Trafford
Selama berseragam Manchester United, Garnacho mencatat 144 penampilan, 26 gol, dan 22 assist. Angka itu memperlihatkan kontribusi yang cukup besar untuk pemain seusianya, sekaligus menjelaskan mengapa kepergiannya meninggalkan perhatian besar dari publik sepak bola Inggris.
Meski demikian, hubungan yang sempat tegang membuat kepindahannya dianggap sebagai bagian dari penyelesaian masalah di dalam skuad. United memilih melepasnya, sementara Chelsea melihat peluang untuk memanfaatkan potensinya di lini serang.
Tantangan baru di Chelsea
Di Stamford Bridge, Garnacho belum langsung menemukan performa terbaik. Ia kesulitan tampil konsisten dan baru mencetak satu gol di Liga Premier musim ini, membuat posisinya lebih sering berada dalam persaingan rotasi pemain.
Situasinya juga belum sepenuhnya stabil karena muncul laporan soal minat dari klub luar negeri, termasuk River Plate, untuk kemungkinan peminjaman. Kondisi itu menambah tekanan bagi Garnacho yang harus membuktikan bahwa dirinya masih layak jadi bagian penting Chelsea.
Meski menghadapi tantangan, Garnacho tetap menunjukkan sikap positif terhadap klub barunya. Ia mengaku bangga berada di Chelsea dan masih bermain di Liga Premier, seraya menegaskan bahwa dirinya tidak menyesal memilih pindah ke Stamford Bridge.
“Saya bangga berada di sini [di Chelsea] dan masih berada di Liga Premier di klub seperti ini. Semua orang tahu tim yang kami miliki dan hal-hal yang dapat kami lakukan,” kata Garnacho.
Dari pengakuannya, Garnacho kini tampak berusaha menutup babak lama tanpa amarah berlebihan, sambil membawa pengalaman pahit dari Manchester United untuk memperbaiki langkah di Chelsea. Bagi pemain berusia muda seperti dirinya, fase ini bisa menjadi penentu apakah penyesalan di Old Trafford akan berubah menjadi dorongan untuk bangkit di panggung yang lebih besar.







