
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) bersama PT Freeport Indonesia kembali menggelar Freeport Grassroots Tournament di Jayapura. Turnamen sepak bola usia dini ini berlangsung di Stadion Mandala dan melibatkan lebih dari 300 anak untuk kategori U-10 dan U-12.
Ajang ini tidak hanya menampilkan pertandingan, tetapi juga menjadi bagian dari pembinaan jangka panjang sepak bola akar rumput di wilayah timur Indonesia. PSSI menempatkan turnamen ini sebagai ruang penting untuk memperkuat fondasi talenta muda sekaligus membangun karakter pemain sejak usia dini.
Fokus pada pembinaan anak usia dini
PSSI menempatkan kompetisi ini sebagai sarana pembinaan yang lebih luas daripada sekadar perebutan kemenangan di lapangan. Melalui PT Garuda Sepak Bola Indonesia, penyelenggara mendorong agar turnamen ini menjadi wadah teknis, pendidikan karakter, dan pencarian bakat.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menilai dukungan sponsor menjadi unsur penting dalam menjaga ekosistem sepak bola nasional di level dasar. Ia menyebut kepercayaan dari mitra seperti Freeport memberi dampak positif bagi pengembangan pemain muda di Indonesia.
"Kepercayaan ini memperkuat komitmen PSSI untuk terus meningkatkan sepak bola usia dini. Kolaborasi ini memberi pengaruh positif yang nyata bagi perkembangan pemain muda kita," ujar Erick Thohir dalam keterangan resminya.
Dampak yang terasa di Papua
Turnamen ini juga mendapat perhatian dari pengurus sepak bola di Papua karena dinilai memberi hasil nyata bagi perkembangan pemain lokal. Ketua PSSI Papua, Benhur Tomi Mano, mengatakan sejumlah pemain dari akademi binaan Freeport sudah berkesempatan menembus level internasional.
Menurut Benhur, keikutsertaan anak-anak Papua dalam program pembinaan seperti ini menunjukkan bahwa daerah tersebut terus menyimpan banyak talenta potensial. Ia juga meminta dukungan orang tua agar pembinaan berjalan lebih kuat dan berkelanjutan.
"Banyak pemain dari akademi Freeport sudah berkesempatan ke luar negeri. Ini bukti kontribusi nyata dalam mengembangkan sepak bola di Indonesia Timur. Kami harap orang tua terus mendukung potensi anak agar Papua bisa terus menyumbang bakat untuk kejayaan Indonesia," kata Benhur.
Karakter dan sportivitas jadi perhatian
PT Freeport Indonesia menegaskan bahwa turnamen ini merupakan bagian dari visi pengembangan Papua melalui jalur olahraga. Senior Vice President Sustainable Development PTFI Nathan Kum mengatakan lapangan hijau dapat menjadi ruang efektif untuk menanamkan nilai-nilai dasar kepada anak-anak sejak dini.
Nathan menekankan bahwa sportivitas, fair play, dan respect menjadi prinsip yang ingin ditanamkan melalui kompetisi ini. Menurut dia, nilai-nilai itu penting sebagai fondasi pembentukan karakter pemain muda.
"Kompetisi ini menjadi ruang penting bagi anak-anak untuk memahami nilai sportivitas, fair play, dan respect. Ini adalah fondasi utama pembentukan karakter mereka," tegas Nathan.
Alumni Papua Football Academy mulai menembus timnas
Dampak program pembinaan ini terlihat dari pemanggilan para alumni Papua Football Academy ke skuat nasional. Pada 2025, enam pemain dari jalur pembinaan itu dipanggil ke tim nasional.
Memasuki 2026, tiga siswa yakni Stenly Meyanu, Yance Glen Imbiri, dan Dolfi Salossa juga terpilih mengikuti pemusatan latihan Timnas U-17 untuk AFC U-17 Asian Cup 2027. Data ini memperlihatkan bahwa jalur pembinaan di Papua sudah memberi kontribusi nyata bagi sepak bola nasional.
Format pertandingan dan dukungan untuk SSB
Secara teknis, Freeport Grassroots Tournament 2026 memakai format 7 lawan 7 dengan durasi 2 x 15 menit. Format ini disesuaikan dengan kebutuhan pembinaan anak usia dini agar pertandingan tetap kompetitif namun tetap aman dan terukur.
Sebagai dukungan terhadap sekolah sepak bola yang terlibat, penyelenggara juga membagikan sepatu sepak bola kepada seluruh SSB peserta. Selain itu, tim yang menampilkan sportivitas tinggi turut mendapatkan penghargaan khusus sebagai bentuk apresiasi atas perilaku positif di lapangan.
Turnamen ini memperlihatkan bahwa kerja sama PSSI dan Freeport tidak hanya berfokus pada penyelenggaraan kompetisi, tetapi juga pada pembinaan yang lebih menyeluruh. Dengan melibatkan ratusan anak, pelatih, dan sekolah sepak bola di Jayapura, program ini terus menjadi salah satu ruang penting untuk menjaga aliran talenta muda dari Papua ke level yang lebih tinggi.









